Magetan (beritajatim.com) – Anggota Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Magetan, Dwi Aryanto, menegaskan bahwa upaya pencegahan dan penanggulangan penyebaran HIV/AIDS di wilayahnya tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja. Ia menyebut langkah ini merupakan tanggung jawab kolektif pemerintah, masyarakat, dan individu untuk membangun kesadaran, memperluas akses layanan kesehatan, serta menghapus stigma terhadap penyandang HIV.
“Pencegahan HIV adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah, masyarakat, dan individu harus bekerja sama untuk meningkatkan kesadaran, mendukung kebijakan yang memfasilitasi akses pengobatan, serta menyebarkan edukasi yang benar tentang HIV,” ujar legislator Partai Amanat Nasional itu.
Dwi Aryanto secara khusus menyoroti fenomena “gunung es” dalam kasus HIV. Ia menjelaskan bahwa jumlah penderita yang tercatat seringkali hanya merupakan sebagian kecil dari kondisi riil di lapangan. Banyak kasus yang tidak terdeteksi karena penderita enggan memeriksakan diri atau tidak memiliki akses layanan kesehatan memadai.
“Jumlah kasus yang kita lihat belum mencerminkan kondisi riil di lapangan. Masih banyak yang belum terdeteksi, dan ini yang harus menjadi perhatian serius,” tegasnya.
Untuk mengatasi persoalan ini dan mendorong deteksi dini, Dwi meminta dinas terkait agar segera memperluas layanan konseling dan tes HIV. Perluasan ini diprioritaskan terutama bagi kelompok yang memiliki risiko tinggi penularan.
Ia juga mendorong adanya pemeriksaan skrining HIV secara lebih rutin, terstruktur, dan menyeluruh di Kabupaten Magetan.
“Saya berharap dinas memperluas layanan konseling dan tes HIV pada kelompok risiko tinggi serta melakukan skrining HIV secara menyeluruh,” imbuhnya.
Dwi menyoroti pekerja seks sebagai salah satu kelompok yang membutuhkan perhatian dan intervensi yang agresif. Menurutnya, dinas kesehatan harus lebih giat dalam melakukan penyuluhan terkait pentingnya tes HIV serta penggunaan pengobatan pencegahan.
“Penyuluhan harus digencarkan, terutama bagi pekerja seks. Mereka perlu diberi pemahaman mengenai pentingnya tes HIV dan akses terhadap pengobatan pencegahan,” jelasnya.
Selain penyuluhan, Dwi menekankan pentingnya penyediaan layanan Tes dan Konseling Sukarela (Voluntary Counseling and Testing atau VCT) secara gratis di puskesmas maupun rumah sakit. Layanan yang mudah dijangkau dinilai krusial untuk deteksi dini sekaligus menjadi upaya utama mengurangi stigma negatif.
“Layanan VCT harus mudah diakses, gratis, dan ramah bagi semua kelompok. Deteksi dini adalah kunci, dan stigma harus dihapuskan agar masyarakat tidak takut memeriksakan diri,” tegasnya.
Dwi berharap kerja sama lintas sektor dapat menciptakan lingkungan sosial yang lebih peduli dan inklusif terhadap penyandang HIV di Magetan. Ia optimistis, dengan penanganan yang tepat dan gerakan bersama, angka penularan dapat ditekan secara signifikan. [fiq/beq]






