Surabaya (beritajatim.com) – Promotor Prambanan Jazz, Anas Syahrul Alimi, menanggapi kritik terkait festival jazz di Indonesia yang dinilai tidak relevan, lantaran diisi oleh musisi-musisi dengan genre yang tidak terkait.
“Kami mengundang musisi pop ke panggung jazz, itu bukan pengkhianatan. ltu siasat agar festival ini hidup dan semua yang hidup di baliknya tetap makan,” ujarnya dalam caption Instagram (et) anas_alimi, Jumat (11/7/2025).
Anas pun menegaskan bahwa dirinya tidak sedang membela diri. Melainkan sedang menjaga keutuhan ekosistem yang dianggapnya masih butuh kompromi. Terlebih menurutnya, kompromi bukanlah sebuah dosa —selama dilakukan dengan cinta dan kesadaran etis.
“Kami tetap menghormat pada jazz. Tapi kami juga menghormat pada listrik yang menyala, pada nasi kotak crew, pada soundman yang belum tidur 32 jam, dan pada kalian yang datang dari luar kota dengan harapan menemukan sedikit kebahagiaan,” imbuhnya.
“Karena itu, sekali lagi: Maafkan kami yang selalu bersalah setiap Juli. Tapi izinkan kami terus bertahan, agar tahun depan kita bisa bersalah bersama-sama,” tutup Anas.
Sebelumnya, musisi Jazz Indonesia, Indra Lesmana menilai bahwa semakin sedikit musisi jazz murni yang mendapatkan panggung dalam acara yang mengusung label “festival jazz”. Bahkan menurut Indra, hal ini bukan hanya menyesatkan publik, tapi juga berpotensi mengaburkan identitas budaya musik jazz itu sendiri.
“Ketika festival atau tempat pertunjukan menyebut diri mereka ‘jazz’, tetapi sebagian besar berisi musik dengan genre yang tidak terkait, mereka: menyesatkan penonton, mengikis visibilitas seniman jazz, melemahkan identitas budaya jazz itu sendiri,” tulisnya dalam Instagram story, (et) indralesmana, Jumat (11/7/2025).
Hal ini pun sontak menuai respon pro dan kontra dari kalangan masyarakat. Banyak dari warganet yang mendukung apa yang disampaikan Indra Lesmana. Meski begitu, tak sedikit juga yang setuju dengan pernyataan dari Anas Alimi. (fyi/ian)






