Surabaya (beritajatim.com)- Siapa pejuang yang kalau bepergian harus bawa yang namanya aroma terapi atau minum obat anti mabuk dulu? Jika Anda salah satunya, tenang, Anda tidak sendirian.
Bagi sebagian orang, perjalanan jauh bukan soal pemandangan indah di balik jendela, tapi soal perjuangan menahan gejolak di perut yang rasanya kayak lagi dikocok-kocok.
Mabuk perjalanan atau motion sickness memang menyebalkan, tapi bukan berarti nggak bisa dijinakkan. Yuk, simak beberapa cara biar perjalananmu nggak berakhir lemas di pinggir jalan:
Trik Satu Telinga (The Earplug Trick)
Ini adalah trik yang sering dipakai pelaut profesional. Coba pasang satu ear plug (penyumbat telinga) hanya di salah satu telinga—biasanya telinga yang berlawanan dengan tangan dominan (kalau kamu kanan, pasang di kiri).
Mengapa ini berhasil? Mabuk perjalanan terjadi karena otak bingung menerima sinyal yang berbeda dari mata dan telinga.
Dengan menyumbat satu telinga, kamu sengaja memberikan “gangguan” pada sistem keseimbangan di telinga dalam. Hal ini memaksa otak untuk tidak terlalu memproses sinyal guncangan yang bikin mual, sehingga sensasi pusing bisa berkurang drastis.
Akupresur Mandiri pada Titik P6
Di pergelangan tangan kita ada titik saraf yang disebut Perikardium 6. Menekan titik ini secara konsisten adalah cara memanipulasi sinyal mual tanpa obat kimia.
Caranya: Meletakkan tiga jari di bawah garis pergelangan tangan bagian dalam. Di antara dua urat besar di sana, tekan dengan jempol secara perlahan namun mantap selama beberapa menit.
Teknik ini membantu menenangkan kontraksi otot perut dan mengirimkan sinyal relaksasi langsung ke sistem saraf pusat.
Manipulasi Suhu (Thermal Shock)
Pernah merasa mual tiba-tiba dibarengi keringat dingin? Itu tanda suhu inti tubuhmu sedang naik karena stres perjalanan. Kamu bisa “mengejutkan” sarafmu dengan suhu dingin untuk mengalihkan fokus otak.
Caranya: Tempelkan botol air dingin atau kain basah pada bagian belakang leher atau pergelangan tangan bagian dalam (tempat pembuluh darah besar berada).
Sensasi dingin ini memberikan efek tenang instan dan membantu menurunkan tensi mual yang sedang memuncak.
Aktivasi Saraf Parasimpatis lewat Nafas Perut
Saat mual, biasanya napas kita jadi pendek dan cepat di dada. Ini justru memperburuk keadaan. Cobalah beralih ke Belly Breathing atau napas perut.
Caranya: Tarik napas lewat hidung hingga perut mengembang, tahan sebentar, lalu buang perlahan lewat mulut. Napas yang dalam dan lambat ini mengirim sinyal ke otak bahwa kondisi sedang aman. Selain menambah oksigen, teknik ini meredakan otot perut yang menegang agar tidak sampai memicu muntah.
Distraksi Audio yang Menguras Pikiran
Kalau mata dilarang melihat layar, biarkan telinga yang mengambil alih “beban kerja” otak. Namun, bukan sekadar musik biasa yang sudah kamu hafal liriknya.
Caranya: Dengarkan sesuatu yang memaksa otak untuk berpikir, seperti podcast naratif, audiobook misteri, atau l agu baru dengan lirik yang kompleks.
Mengapa ini penting? Saat otak sibuk mencerna alur cerita atau informasi baru, daya fokusnya akan tersedot ke sana.
Akibatnya, sinyal mual dari telinga dalam jadi terabaikan karena otak tidak punya cukup “daya” untuk memikirkan rasa pusing. Ini adalah distraksi paling efektif daripada hanya berdiam diri melamun.
Sama halnya dengan orang yang mempersiapkan perbekalan agar tidak kelaparan, kamu pun berhak juga untuk mempersiapkan kenyamanan sendiri agar tidak tersiksa selama di jalan. Membawa aroma terapi, minum obat anti-mabuk, atau memilih duduk di depan bukan berarti kamu “lemah” atau merepotkan orang lain. Itu adalah caramu menghargai tubuhmu sendiri.
Perjalanan jauh seharusnya menjadi cerita tentang tempat-tempat baru yang kamu temui, bukan tentang seberapa hebat kamu menahan mual di dalam mobil. Jadi, jangan ragu untuk mengeluarkan “senjata” andalan anda, hirup aroma segarnya, dan nikmati pemandangan di balik jendela dengan perasaan yang jauh lebih lega. [Devi Dwi Windah Sari]






