Surabaya (beritajatim.com) — Di balik ratusan toga biru yang memenuhi Auditorium Gedung Q Kampus Timur Universitas Kristen (UK) Petra, Sabtu (7/3/2026), tersimpan berbagai kisah perjuangan yang inspiratif. Salah satunya datang dari Wirawan Sunyoto yang lulus magister di usia 23 tahun melalui jalur fast track serta Aulia Rahmadhiyan, lulusan pertama program Scriptwriting and Copywriting.
Wirawan Sunyoto berhasil meraih gelar Magister Teknik Sipil pada usia 23 tahun melalui jalur percepatan atau fast track. Keputusan tersebut ia ambil setelah kembali dari program pertukaran mahasiswa Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) di Nanyang Technological University, Singapura, saat masih menempuh semester lima.
Ia menjelaskan bahwa keputusan mengikuti program fast track muncul karena jumlah mata kuliah sarjana yang tersisa sudah sedikit, tetapi aturan kurikulum membuatnya tidak dapat menyelesaikan studi dalam tujuh semester.
“Daripada membiarkan waktu tersisa tanpa aktivitas akademik yang maksimal, saya memutuskan mengambil fast track. Saya merasa mumpung masih dalam ritme belajar, lebih baik langsung melanjutkan studi,” ujar Wirawan.
Tidak hanya menonjol dari sisi kecepatan studi, kualitas akademiknya juga diakui. Tesis magister yang ia susun berhasil meraih Juara II dalam kompetisi publikasi paper. Prestasi tersebut menunjukkan bahwa karya ilmiahnya memiliki kualitas riset yang diakui sebelum ia memasuki dunia profesional.
Ke depan, Wirawan bercita-cita menjadi structural engineer yang berfokus pada perancangan bangunan bertingkat tinggi. Ia juga berpesan kepada mahasiswa agar tidak ragu melanjutkan pendidikan setinggi mungkin.
“Terus semangat belajar dan jangan takut mengejar pendidikan. Kesempatan itu harus dimanfaatkan sebaik mungkin,” katanya.
Kisah inspiratif lainnya datang dari Aulia Rahmadhiyan, lulusan angkatan pertama program Scriptwriting and Copywriting Magister Sastra UK Petra. Dalam tugas akhirnya, ia menyusun tesis kreatif berupa naskah film pendek berjudul “S&K Berlaku: Sebuah Naskah Film Pendek tentang Budaya Konsumerisme.”
Naskah bergenre thriller tersebut mengangkat fenomena budaya konsumtif di masyarakat yang kerap mendorong seseorang terjerat pinjaman daring demi mendapatkan pengakuan sosial, hingga berujung pada konsekuensi serius.
Aulia berhasil menyelesaikan studi dengan IPK 3,96 meskipun harus membagi waktu antara pekerjaan dan tugas akademik. Ia diketahui bekerja sebagai Senior Copywriter di sebuah perusahaan teknologi finansial yang menangani berbagai kampanye merek dan iklan digital.
Lulusan Sarjana Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran ini mengaku pengalaman menempuh pendidikan magister membuka perspektif baru dalam proses kreatif menulis.
“Aku belajar mengembangkan ide hingga menyusun naskah secara utuh. Tantangan terbesarnya adalah membagi waktu antara pekerjaan dan tugas akhir, apalagi menulis naskah thriller ini merupakan pengalaman pertama,” ujarnya.
Sebagai mahasiswa angkatan pertama di program tersebut, Aulia mengaku perjalanan studinya tidak selalu mudah. Selama dua tahun, ia harus mempelajari teori sastra yang kompleks sekaligus mengembangkan kemampuan kreatif dalam membangun cerita.
Namun, pengalaman tersebut menurutnya menjadi investasi penting bagi perkembangan karier.
“Kita bisa belajar langsung dari para praktisi industri, jadi tidak hanya dari teori di buku. Ilmu yang didapat benar-benar bisa diterapkan dalam dunia kerja,” jelasnya.
Prosesi Wisuda ke-89 UK Petra digelar dalam dua sesi, yakni pukul 08.30 WIB dan 14.00 WIB. Dalam kesempatan tersebut, Rektor UK Petra, Prof. Dr. (H.C.) Ir. Rolly Intan, M.A.Sc., Dr.Eng., menyampaikan pesan kepada para lulusan untuk terus memegang nilai-nilai utama universitas.
Ia menegaskan pentingnya mengamalkan nilai LIGHT yang menjadi core values UK Petra, yaitu Love, Integrity, Growth, Humility, dan Truth.
“Sesuai dengan nilai LIGHT, para lulusan diharapkan terus bertumbuh dalam kasih, integritas, kerendahan hati, dan kebenaran agar dapat menjadi berkat bagi sesama serta membawa kemuliaan bagi Tuhan,” ujar Prof. Rolly.
Wisuda kali ini menjadi penutup perjalanan akademik sekaligus awal langkah baru bagi para lulusan. Di balik ratusan toga biru yang memenuhi auditorium, tersimpan berbagai kisah perjuangan yang berbeda-beda. (fyi/aje)






