Banyuwangi (beritajatim.com) – Deretan tokoh pewayangan yang dibuat atas inovasi dari tangan pengrajin bambu tersaji di Desa kerajinan bambu Banyuwangi, di Desa Gintangan, Kecamatan Blimbingsari. Sebuah inovasi kreasi baru terkait pewayangan yang lahir dari Syukron Makmur warga setempat.
Berkat dari tangan Syukron Makmur inilah wayang yang biasanya dibuat dari bahan kulit diinovasi dengan bahan anyaman bambu menjadi berbagai tokoh pewayangan.
Ide inovasi membuat wayang dari bahan anyaman bambu ini dibuat Syukron pada saat masa pandemi Covid 19 dua tahun silam. Kondisi sekitar menuntut untuk berhenti beraktivitas, ekonomi terpuruk produk anyaman bambu jatuh. Akibat pandemi memberangus roda pemasaran.
Situasi makin parah karena pada saat itu Desa Gintangan yang biasa melakukan ritual rutin bersih desa, namun tidak dapat menggelarnya. Salah satu ritual yang biasa dilakukan yakni menggelar kegiatan pagelaran wayang kulit.
Namun lagi-lagi pandemi memupus itu semua dan memaksa seluruh aktivitas dibatasi sehingga tidak ada keramaian maupun kerumunan. Akan tetapi dari kondisi ini ada hikmah yang didapati.
Syukron Makmur memiliki ide membuat wayang dari anyaman bambu yang menjadi ciri khas dari desa kerajinan bambu Desa Gintangan. Berbekal keahliannya dalam seni menggambar Syukron mencoba mengulik dan mengotak-atik, mengayunkan kuas membentuk sedemikian rupa tokoh wayang.
“Awal muasal saya buat wayang dengan anyaman jambu ini sekitar awal dari kurunangan awal korona itu kan kita susah sekali Tamu nggak ada pelanggan kita suka jadi kita berpikir keras Gimana cara branding kita supaya rame lagi,” ungkap Syukron Makmur.
Beberapa saat sejumlah wayang mulai tercipta, kemudian memainkannya. Meskipun saat itu tidak terlaksana semalam suntuk, namun cukup untuk menutup nilai ritual bersih desa.
Tidak hanya tokoh wayang biasa dari kisah Mahabarata, tetapi juga ada wayang tokoh legenda kerajaan Blambangan yang dipadukan dengan cerita tokoh pewayangan Bali.
“Dia Begawan Sidimantra ini memohon untuk menghidupkan kembali anaknya, tapi naganya mau menghidupkan kembali dengan satu syarat, anaknya dan bapaknya ini harus pisah. Dan Begawan Sidi mantra nya itu nancepin tongkat atau apa keluar air hanya jadinya Selat Bali itu,” cerita Syukron Makmur menceritakan kisah Selat Bali.
Baca Juga:
https://beritajatim.com/ragam/jadwal-film-perjanjian-gaib-di-jember-bondowoso-dan-banyuwangi/
Ada pula tokoh cerita lain yang diambil dari kisah film KKN di Desa Penari. Seperti Badarawuhi hingga Mbah Dok.
“Kita berpikir keras, kita berkreasi dan desa saya ini kan selamatan desanya kan selalu pakai wayang kulit, biasanya waktu itu sama Satgas gak boleh. Jadian saya coba saya ngomong kalau saya mau branding dengan wayang dengan anyaman bambu,” katanya.
Setali tiga uang, permintaan itupun akhirnya disetujui. Bahkan, hingga akhirnya wayang anyaman bambu berhasil perform di depan umum.
“Akhirnya saya kembali lagi dengan satu buah wayang-wayang pakai anyaman. Ini untuk branding enggak papa untuk branding wisata. Jadinya saya buat seperangkat wayang beberapa lakon yang lakon-lakon itu Pak tentunya dengan kearifan lokal misalnya Prabu Tawang Alun,” kisahnya.
Pergulatan ekonomi saat itu memang cukup sulit. Hingga membuat warga khususnya pengrajin bambu harus memutar otak untuk membuat roda ekonomi tetap berjalan.
“Sejak pas masa pandemi, kita jualan online. Ya kita Alhamdulillah kalau kemunculan wayang nih lancar Pak, karena kan kita kan produk baru, kreasi baru kita campur-campuran seni lukis dan seni kerajinan anyaman,” katanya.
Kreasi itu yang membuat wayang bambu Desa Gintangan berbeda. Kondisi itu juga memaksa banyak ragam pilihan.
“Biasanya wayang, ya wayang orang, wayang golek, wayang kulit. Cuma kita pakai bambu kita pak. Sehingga pemasaran juga bisa lebih menarik,” katanya.
Baca Juga:
Meskipun, memang diakui pasar tersebut juga menyesuaikan segmen pasar. Wayang biasanya dinikmati oleh kalangan usia 30 ke atas.
“Kalau anak muda mungkin ya peminatnya kurang, kita minatnya yang umurnya 30an ke atas,” katanya.
Bahan utama membuat wayang bambu terbuat dari anyaman bambu. Berbagai corak anyaman bambu dibuat sesuai dengan tokoh pewayangan dengan 2 lapis anyaman bambu. Selesai membentuk tokoh pewayangan dari anyaman bambu kemudian bagian tepi wayang diberikan garis spidol untuk kemudian dicat sesuai karakter dari tokoh pewayangan.
Wayang bambu ini banyak diminati oleh kalangan anak-anak sebagai bahan edukasi.
Sama anak-anak mereka seneng untuk dimainkan. Ya itu yang saya inginkan itu kita anak nggak hanya gadget Pak. Mereka juga harus tahu budaya kita, seni budaya kita. Ya saya perkenalkan lewat wayang dengan genre yang baru ini,” imbuhnya.
Wayang bambu ini juga berhasil menembus pesanan hotel, resto dan cafe sebagai dekorasi ruangan. Harga sebuah wayang dari bambu ini cukup terjangkau.
Mulai ukuran terkecil adalah Rp60 ribu hingga ukuran besar mencapai Rp 300 ribu. (rin/ted)






