Jakarta (beritajatim.com) – Mayoritas warga Indonesia menilai kondisi ekonomi nasional buruk atau sangat buruk.
Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) mencatat, proporsi warga yang memberikan penilaian negatif meningkat dari 22,7 persen pada November 2025 menjadi 50,8 persen pada Oktober 2026.
Sebaliknya, warga yang menilai kondisi ekonomi nasional baik atau sangat baik turun dari 40 persen menjadi 17,4 persen dalam periode yang sama.
Penilaian negatif juga meningkat terhadap kondisi politik nasional dan penegakan hukum. Pada Oktober 2026, ketiga aspek tersebut lebih banyak mendapat penilaian buruk atau sangat buruk dibandingkan penilaian baik atau sangat baik.
Temuan itu merupakan bagian dari survei SMRC bertajuk Kinerja Dua Tahun Presiden Prabowo. Hasil survei disampaikan Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, melalui kanal YouTube SMRC TV pada Jumat (16/10/2026). Pengumpulan data dilakukan pada 1–10 Oktober 2026.
Penilaian Buruk terhadap Kondisi Politik Meningkat
Dalam paparannya, Deni menjelaskan bahwa penilaian masyarakat terhadap kondisi politik nasional juga mengalami penurunan.
Proporsi warga yang menilai kondisi politik buruk atau sangat buruk meningkat dari 23 persen pada November 2025 menjadi 44,1 persen pada Oktober 2026.
Sementara itu, warga yang menilai kondisi politik baik atau sangat baik turun dari 35,8 persen menjadi 17,6 persen.
Tren serupa terlihat pada penilaian terhadap penegakan hukum. Warga yang menilai penegakan hukum buruk atau sangat buruk meningkat dari 25,7 persen menjadi 40,6 persen.
Sebaliknya, proporsi warga yang menilai penegakan hukum baik atau sangat baik turun dari 42,5 persen menjadi 28,1 persen.
Data tersebut menunjukkan perubahan persepsi masyarakat terhadap tiga aspek penting dalam kehidupan nasional, yakni ekonomi, politik, dan penegakan hukum.
Pada Oktober 2026, penilaian negatif terhadap ketiganya telah melampaui penilaian positif.
Survei Libatkan 1.213 Responden
SMRC menjelaskan survei tersebut menyasar warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih dalam pemilihan umum, yakni berusia 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan.
Metode pengambilan sampel dibedakan berdasarkan kepemilikan telepon seluler. Pada kelompok pemilik handphone, sebanyak 1.013 responden dipilih secara acak menggunakan metode double sampling dan diwawancarai melalui telepon.
Sementara itu, kelompok warga yang tidak memiliki handphone melibatkan 200 responden. Sampel kelompok ini dipilih menggunakan metode stratified multistage random sampling, dengan wawancara dilakukan secara tatap muka.
Dengan demikian, total responden dalam survei tersebut mencapai 1.213 orang.
SMRC memperkirakan margin of error survei sebesar kurang lebih 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen, dengan asumsi simple random sampling.
Penilaian Ekonomi Menjadi Sorotan
Hasil survei ini memperlihatkan bahwa penilaian masyarakat terhadap ekonomi nasional mengalami perubahan cukup besar dibandingkan November 2025. Dalam kurun waktu tersebut, proporsi warga yang menilai ekonomi buruk atau sangat buruk meningkat 28,1 poin persentase.
Pada saat yang sama, penilaian positif terhadap ekonomi turun 22,6 poin persentase.
Perubahan persepsi tersebut menjadi salah satu temuan penting dalam survei yang mengevaluasi kinerja dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Meski demikian, angka survei tersebut menggambarkan penilaian responden terhadap kondisi nasional, bukan dengan sendirinya membuktikan penyebab perubahan persepsi maupun menunjukkan faktor tunggal yang memengaruhinya.
Hasil lengkap survei SMRC dapat disimak melalui kanal YouTube SMRC TV dengan judul presentasi Kinerja Dua Tahun Presiden Prabowo. (ted)






