Surabaya (beritajatim.com) – Jawa Timur, khususnya Surabaya, digadang-gadang akan kembali menjadi motor ekonomi nasional. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, yang mengungkapkan potensi besar provinsi ini sebagai “Gerbang Nusantara” baru melalui komoditas kopi dan cokelat.
Dalam acara penutupan Java Coffee and Flavour Festival (JCFF) 2025 di Kota Lama Surabaya, Destry mengingatkan sejarah gemilang Surabaya yang pernah menjadi pusat keuangan dan perdagangan. Ia menyebut bahwa Surabaya di masa lampau jauh lebih maju dari Jakarta karena pernah menerbitkan municipal bond, atau obligasi daerah, untuk membiayai pembangunan fasilitas publik.
“Ini menunjukkan betapa kuatnya Surabaya sebagai pusat keuangan di masa lalu,” ujar Destry.
Destry juga menyoroti pentingnya menjaga kawasan Kota Tua Surabaya, termasuk gedung bersejarah De Javas Bank, sebagai pusat wisata sejarah sekaligus bukti kejayaan masa lalu.
Potensi kebangkitan Surabaya dan Jawa Timur saat ini didukung oleh sektor kopi dan cokelat. Data BI menunjukkan 86 persen ekspor kopi Jawa dikirim melalui pelabuhan Jawa Timur. “Gerbang Baru Nusantara ini sangat mungkin diwujudkan, karena potensi kopi Jawa Timur luar biasa,” katanya.
Tren global juga menunjukkan permintaan cokelat yang terus meningkat. Destry mencontohkan viralnya “cokelat Dubai” yang bahan bakunya banyak berasal dari Indonesia. Ini menjadi peluang besar bagi Jawa Timur untuk memperkuat hilirisasi pangan.

“Amerika dan Eropa sangat antusias dengan produk kopi dan cokelat kita. Tantangannya ada pada kapasitas produksi UMKM yang masih terbatas,” jelas Destry. Ia menegaskan, Bank Indonesia akan terus mendukung UMKM melalui program peningkatan kapasitas, akses pasar, dan pemanfaatan teknologi digital.
Komitmen ini dibuktikan dengan lonjakan transaksi pada JCFF 2025 yang mencapai 100 miliar rupiah, jauh meningkat dari 38 miliar rupiah pada tahun sebelumnya.
“Mari kita sama-sama tingkatkan produksi kopi, cokelat, dan rempah kita. Jangan hanya bijinya yang diekspor, tetapi kita olah. Hilirisasi pangan menjadi salah satu prioritas utama untuk Indonesia maju,” pungkas Destry.[rea]






