Ringkasan Berita:
- Banjir melanda Surabaya selama dua hari berturut-turut akibat hujan deras, pasang air laut, dan pekerjaan drainase.
- Pemkot Surabaya mengerahkan 31 armada penyedot air serta petugas gabungan dari berbagai dinas untuk penanganan banjir di 16 titik.
- Wali Kota Eri Cahyadi menyampaikan permohonan maaf dan menargetkan proyek drainase rampung sebelum puncak musim hujan 2026.
Surabaya (beritajatim.com) – Banjir kembali melanda wilayah Surabaya selama dua hari berturut-turut, sejak Senin (22/6/2026) hingga Selasa (23/6/2026). Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya langsung mengerahkan petugas gabungan serta menurunkan 31 armada mobil penyedot air untuk mempercepat penanganan genangan di berbagai titik kota.
Armada penyedot air tersebut berasal dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) serta Dinas Lingkungan Hidup Surabaya. Langkah ini dilakukan untuk menguras genangan hingga kering sekaligus membantu warga yang mengalami kesulitan berkendara akibat banjir.
Wali Kota Eri Cahyadi menjelaskan bahwa banjir yang terjadi dipicu oleh curah hujan tinggi, pasang air laut, serta dampak pekerjaan normalisasi saluran drainase yang tengah berlangsung di seluruh kota.
Proyek infrastruktur tersebut meliputi pengerukan saluran, pemasangan box culvert, hingga perbaikan rumah pompa di sejumlah titik strategis seperti Jalan Ahmad Yani, Tanjungsari, Simo, MERR, Dinoyo, dan Rungkut.
“Dalam situasi seperti ini, kami dihadapkan pada dua pilihan, menghentikan proyek atau tetap melanjutkan untuk kepentingan jangka panjang. Kami memilih tetap berjalan, sambil memaksimalkan penanganan di lapangan,” ujar Eri Cahyadi, Selasa (23/6/2026).
Sebagai langkah antisipasi, Pemkot Surabaya juga mengoptimalkan fungsi boezem atau kolam tampungan sementara sebagai penyangga debit air sebelum dialirkan kembali saat kondisi memungkinkan. Selain itu, lahan-lahan tertentu turut difungsikan sebagai tampungan tambahan untuk mengurangi beban saluran utama.
“Selain memaksimalkan fungsi rumah pompa, sejumlah lahan juga dioptimalkan sebagai tampungan tambahan untuk mengurangi beban saluran utama,” paparnya.
Eri menargetkan seluruh proyek drainase dan pemasangan box culvert di Surabaya dapat rampung sebelum puncak musim hujan pada November–Desember 2026. Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada warga atas ketidaknyamanan yang terjadi.
“Saya mohon maaf kepada warga Surabaya atas ketidaknyamanan yang terjadi. Saat ini kami bekerja maksimal di lapangan,” pungkasnya.

Sebelumnya, banjir juga melanda Surabaya pada Selasa (23/6/2026) setelah hujan deras mengguyur sejak dini hari. Genangan air merendam belasan titik, mulai dari kawasan perkampungan hingga jalan protokol, dan menjadi kejadian kedua dalam minggu yang sama setelah peristiwa serupa pada Senin (22/6/2026).
Fenomena hidrometeorologi berupa hujan deras yang diperparah efek backwater atau pasang air laut turut memperburuk kondisi. Akibatnya, terjadi kendala teknis pada rumah pompa yang menyebabkan aliran air dari hulu ke muara tersendat dan meluap.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya melalui BPBD Kota Surabaya mencatat terdapat 16 titik banjir dengan ketinggian air antara 20 hingga 60 sentimeter.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Surabaya, Linda Novanti, menyebutkan bahwa penanganan dilakukan oleh tim gabungan dari berbagai instansi.
“Penanganan bencana hidrometeorologi banjir hari ini dilakukan di sebanyak 16 titik, petugas gabungan dikerahkan untuk melakukan penanganan, meliputi unsur DPKP, DSDABM, DLH, Satpol PP hingga Dishub,” ujar Linda dikonfirmasi, Selasa (23/6/2026).
Tim gabungan tersebut melibatkan Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga Surabaya, Satuan Polisi Pamong Praja Surabaya, serta Dinas Perhubungan Surabaya untuk membantu penanganan dan pengaturan lalu lintas di titik banjir.
Sejumlah lokasi terdampak tersebar di berbagai kawasan, di antaranya Jalan Wisma Tengger, Jalan Nginden Intan Timur (AWS), Jalan Taman Panjang Jiwo Permai, Jalan Karangan Wonokromo, Jalan Simo Kalangan, Jalan Manyar Rejo, Jalan Imam Bonjol, Ngagel Kebonsari, RSIA Kendangsari, Jalan Tanjung Sari, RS Eka Candrarini, Jalan Raya Pandugo, Jalan Graha Famili Selatan, Jalan Barata Jaya, Jalan Puri Gunung Anyar, hingga Bratang Binangun.
Kondisi ini menunjukkan bahwa banjir di Surabaya masih menjadi tantangan serius di tengah upaya percepatan pembangunan infrastruktur drainase yang tengah berjalan. [rma/suf]






