Surabaya (beritajatim.com) – Pengamat transportasi, Djoko Setijowarno menilai rencana pengadaan taksi air di Kota Surabaya pada 2025 sebagai gagasan yang cemerlang. Tetapi, dia mengingatkan fasilitas transportasi itu harus disesuaikan dengan kebutuhan lalu lintas masyarakat.
“Apapun moda transportasinya, harus dipikirkan, orang ini mau bergerak dari mana mau ke mana,” kata Djoko Setijowarno, Selasa, 27 Agustus 2024.
Djoko, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Penguatan dan Pengembangan Kewilayahan Masyarakat Transportasi Indonesia itu berpendapat taksi air harus terintegrasi moda transportasi lain. Selain itu, memiliki fasilitas yang aman, memadai.
“Taksi air perlu dipertimbangkan integrasi dengan angkutan lain. Termasuk fasilitas penunjang halte dan lain-lain,” jelasnya.
Terintegrasi dengan moda lain ini, menurut Djoko, transportasi harus menyasar hingga pemukiman warga. Juga mudah diakses dan tidak menyulitkan pengguna.
“Kelemahan Indonesia kalau membangun public transport hanya di koridor utama dan tak pernah menyentuh ke perumahan. Itu yang menyebabkan orang malas pakai angkutan umum,” papar Djoko.
Setelah terkoneksi dengan transportasi umum, jumlah armada, dan waktu tempuh taksi air perlu diperhatikan. Kata dia, ini mempengaruhi kepuasan pelanggan dalam hal waktu menunggu.
“Durasi tunggu transportasi ini perlu diperhatikan. Semisal contoh, setiap 15 menit (taksi air) harus lewat,” ucapnya.
Kemudian tidak kalah penting, lanjut Djoko, aspek yang perlu diperhatikan adalah ketersediaan debit air di sepanjang rute taksi air. Jangan sampai dangkal atau surut, dan akan berakibat fatal pada penumpang.
“Debit air perlu dipertimbangkan. Agar rute aliran sungai bisa terjaga, termasuk saat musim hujan, apakah akan berpengaruh pada keselamatan. Kalau ada kendala dan (taksi air) sempat terhenti nanti masyarakat malas menggunakan,” pungkas Djoko.
Diketahui sebelumnya, bahwa Walikota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan akan mulai merealisasikan taksi air di tahun 2025. Bertujuan untuk mengurangi kemacetan di Kota Surabaya.
“Kita sebagai kota maritim ya kita memanfaatkan air dulu lah. Di 2025 itu pasti kita gunakan adalah transportasi taksi air,” kata Eri, Senin (19/8/2024).
Eri menjelaskan, di tahap awal taksi air akan diuji coba beroperasi di sungai Rolag Gunungsari, dan akan dibangun sebuah Hub (halte) yang terhubung dengan transportasi darat feeder wira wiri suroboyo.
“Kita mulai dari Sungai Ketintang dari Gunungsari sampai ke Petekan. Dan nanti walikota, saya yang akan mencobanya pertama untuk pulang pergi ke kantor,” ungkapnya. [ram/beq]






