Spanduk bertuliskan The Superman yang terbentang di pagar tribun Stadion Madya Gelora Bung Karno, Jumat (16/8/2024), mengingatkan pada medio 2018 di Kota Ternate, Maluku Utara. Saya sedang berada di sana untuk menulis buku, dan berkeliling kota dengan diantarkan seorang pria yang akrab dipanggil Mang Agus.
Saya melihat tulisan ‘Superman’ berwarna kuning di sebuah poskamling. Suporter Persiter Mania. “Bagaimana kabar Persiter, Mang?” tanya saya.
Mang Agus tersenyum. Tak ada yang bisa diharapkan dari Persiter. Prestasi yang tidak beranjak membaik. Tim berjuluk Laskar Kie Raha berada di Liga 3 Wilayah Maluku Utara. Beberapa kali terjadi perselisihan antarpengurus.
Saya mengenal nama Persiter saat tim ini bermain di Divisi 1 menghadapi Persebaya Surabaya di Babak 8 Besar pada 20 Agustus 2003. Mereka lawan yang sulit ditaklukkan di Stadion Kie Raha. Persebaya sempat tertinggal 0-1 sebelum menyamakan 1-1 hingga akhir pertandingan.
Saat bangku cadangan Persiter dilempari botol penonton tuan rumah yang kecewa, Persebaya justru dielu-elukan. Banyak penonton yang berebut mendekat untuk bersalaman, meminta tanda tangan, atau kenang-kenangan dari anak asuh Jacksen Tiago saat itu. Pemain dan ofisial tertahan selama kurang lebih 25 menit di bangku cadangan karena harus melayani penonton.
Tepat 21 tahun kemudian, Persebaya berhadapan dengan sebuah tim yang menyandang nama Maluku Utara, Malut United, pada pekan kedua Liga 1 2024-25.
Pertandingan berjalan ketat. Beberapa kali bintang Malut United, si kembar Yance Sayuri dan Yakob Sayuri, mengancam gawang Ernando Ari. Kedua tim bertukar serangan.
Hasil akhir 0-0. Hasil ini menempatkan Persebaya di peringkat ketujuh dalam klasemen sementara Liga 1. Sementara Malut United di peringkat 12.
Hasil akhir pertandingan ini seperti mengulang hasil akhir pertandingan dua dasawarsa silam. Namun saya tidak menangkap gairah yang sama. Tidak ada belasan ribu penonton yang berteriak. Superman hanya hadir di spanduk. Bahkan saya ragu spanduk itu benar-benar dibuat oleh suporter asal Ternate.
Pertandingan tidak dilangsungkan di Kie Raha. Kendati berstatus tuan rumah, Malut United justru bermain di Jakarta, sebuah kota yang berjarak ribuan kilometer dari Ternate. Malut United Arena yang kelak akan menjadi kandang mereka masih belum kelar dibangun.
Tidak ada penjelasan resmi soal absennya penonton dalam pertandingan itu dari Komisi Disiplin PSSI maupun Malut United sendiri. Akun Instagram Malut United hanya mengumumkan: ”Berdasar hasil keputusan Komdis PSSI, pertandingan home pertama Malut United di Liga 1 2024-2025 tidak dapat dihadiri penonton tuan rumah maupun tim tamu.”
Kita tidak tahu bagaimana respons publik Ternate jika kelak Malut United kembali ke sana. Apakah kehadiran mereka akan menenggelamkan Persiter? Entahlah, yang jelas klub ini tidak memiliki akar di Ternate. Terbentuk pada 28 Mei 2023, klub yang dinaungi PT Malut Maju Sejahtera milik David Glenn, seorang pengusaha tambang, berawal dari lisensi klub Putra Delta Sidoarjo yang diambil alih pada 30 Januari 2023.
Malut United adalah kelanjutan tradisi sebagian klub sepak bola di Indonesia yang dibentuk karena itikad dan niat baik personal, bukan karena akar sosial. Membentuk klub tanpa akar sosial bukannya tanpa risiko.
Jika sebuah daerah atau kota telah memiliki klub sepak bola yang berdiri lebih dulu dengan catatan historis sosial yang panjang, klub baru berisiko tidak mendapat dukungan penonton.
Ini yang dialami Assyahaab Salim Group Surabaya pada masa awal Liga Indonesia. Kendati punya skuat dan prestasi bagus, pertandingan mereka hanya ditonton puluhan orang. Publik sepak bola Surabaya lebih suka menyaksikan Persebaya dan Mitra.
Namun dengan karakter ‘glory hunter’ penonton sepak bola Indonesia, persoalan ini bisa diatasi jika klub baru tersebut berprestasi. Apalagi publik sepak bola di kota-kota berukuran kecil dan menengah luar Jawa sangat antusias menyaksikan pertandingan yang dihadiri klub-klub sepak bola papan atas di Indonesia.
Pengecualian diperuntukkan Bhayangkara FC. Gelar juara Liga 1 pada 2017 tidak berdampak pada jumlah penonton klub yang identik dengan institusi kepolisian tersebut.
Risiko kedua adalah kesinambungan finansial. Klub seperti Malut United sangat mengandalkan pendanaan dari sosok personal pengusaha. Saya seringkali menyebutnya sebagai ‘personal club’. Klub sepak bola yang identik dengan satu sosok.
Berbeda dengan klub luar negeri seperti AC Milan yang identik dengan Silvio Berlusconi atau Inter Milan yang identik dengan Moratti, ‘personal club’ di Indonesia terancam gulung tikar jika sang pemilik tidak lagi menggelontorkan dana karena banyak faktor.
Bisa jadi karena pundi-pundi sang pemilik tak lagi berlimpah. atau bisa juga karena melihat tidak ada lagi prospek bisnis pada klub tersebut. Mungkin pula karena bosan. Siapa tahu. Tidak ada yang bisa menakar isi hati orang.
Pemilik kesulitan mengembangkan sayap komersial klub, karena tidak semua kota atau daerah di Indonesia dipandang punya potensi bisnis yang mengundang sponsor. Pendapatan dari penjualan tiket pertandingan dan merchandise juga tak selamanya bisa diandalkan.
Mayoritas harga tiket di Indonesia tidak cukup ekonomis bagi klub karena penentuannya harus memperhitungkan daya beli penonton sepak bola yang tak terlampau tinggi. Masyarakat juga masih lebih suka membeli merchandise berupa kaos dan syal ‘tembakan’ di pedagang kaki lima daripada di toko resmi klub.
Tumbangnya klub-klub personal terjadi pada Liga Sepak Bola Utama (Galatama) yang mengawali kompetisi sepak bola semi profesional di Indonesia. Mayoritas klub sudah gulung tikar, di antaranya adalah klub-klub yang berprestasi bagus seperti Kramayudha Tiga Berlian, Petrokimia Putra, Pelita Jaya, maupun Niac Mitra.
Perpindahan kepemilikan di Indonesia memungkinkan terjadi, namun seringkali diikuti pergantian nama dan lokasi kandang klub tersebut, sebagaimana Malut United sendiri. Ada klub yang berganti kepemilikan namun terbelah dua, seperti Arema FC dan Arema Indonesia.
Bagaimana nasib Malut United kelak? Tentu saja, kita berharap mereka awet dan bisa bertahan dengan layak. Sejumlah klub sepak bola di Indonesia memaksakan diri untuk tetap bertahan, kendati sudah tidak layak. Tanpa penonton yang melimpah dan dukungan sponsor, mereka akhirnya mengorbankan banyak hal, termasuk menggaji pemain dengan nominal seadanya.
Kita berharap kelak Persebaya bisa bermain di Ternate dengan disambut teriakan puluhan ribu penonton yang antusias. Juga spanduk Superman yang dipasang sendiri oleh fans setempat dengan penuh semangat. Seperti pada suatu hari di bulan Agustus, dua dasawarsa silam. [wir]
![Superman dan Memori Persebaya di Ternate Aksi Flavio Silva saat Persebaya menghadapi Malut United di Stadion Madya Gelora Bung Karno, Jakarta pada 16 Agustus 2024. [Foto: Persebaya]](https://beritajatim.com/wp-content/uploads/2024/08/Flavio-Silva-Persebaya-vs-Malut-United.jpg)





