Surabaya (beritajatim.com)- Perubahan cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini turut berdampak pada menurunnya daya tahan tubuh masyarakat. Kondisi tersebut membuat risiko penyakit, terutama infeksi saluran pernapasan, meningkat. Salah satu isu kesehatan yang ramai dibicarakan publik adalah kemunculan penyakit yang disebut-sebut sebagai super flu.
Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit Universitas Airlangga (Unair), dr. Wiwin Effendi, menegaskan bahwa istilah super flu sejatinya bukan istilah medis. Menurutnya, sebutan tersebut muncul di masyarakat untuk menggambarkan varian baru virus influenza yang penularannya lebih cepat.
“Dalam dunia medis tidak ada istilah super flu. Secara ilmiah, ini merujuk pada virus influenza tipe A varian baru,” jelas Wiwin melansir portal resmi Nahdlatul Ulama, Jumat (9/1/2026).
Ia menerangkan bahwa sejak Agustus 2025, tenaga kesehatan telah mendeteksi keberadaan influenza A subtipe H3N2, yang memiliki kemampuan menyebar lebih cepat dibandingkan varian sebelumnya. Namun, kemunculan virus ini bukan hal baru dan tidak perlu disikapi dengan kepanikan berlebihan.
Wiwin menjelaskan bahwa virus influenza secara umum terbagi menjadi empat tipe, yakni A, B, C, dan D. “Influenza tipe D hampir tidak pernah menyerang manusia. Sementara tipe B dan C memang ada, tetapi jumlah kasusnya relatif kecil. Justru mayoritas kasus flu disebabkan oleh influenza tipe A,” paparnya.
Virus influenza A, termasuk subtipe H3N2, dapat berasal dari hewan maupun burung dan dikenal mudah bermutasi. Kondisi ini membuat virus berpotensi menurunkan sistem kekebalan tubuh penderitanya. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk menjaga gaya hidup sehat, mulai dari mengatur pola makan bergizi, istirahat cukup, hingga rutin berolahraga.
Terkait pengobatan, Wiwin mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan mengonsumsi antibiotik saat mengalami flu. “Flu disebabkan oleh virus, bukan bakteri. Antibiotik tidak diperlukan kecuali ada infeksi bakteri tambahan dan itu harus berdasarkan pemeriksaan dokter,” tegasnya.
Gejala influenza umumnya meliputi demam, pilek atau lendir berlebih, nyeri tenggorokan, sakit kepala, hingga nyeri otot. Jika keluhan tidak kunjung membaik atau justru semakin berat, masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Hal senada disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2M) Kabupaten Rembang, Maria Rehulina. Ia menyebut influenza A dapat menyerang seluruh kelompok usia, mulai dari balita, ibu hamil, penderita penyakit kronis, hingga lanjut usia.
“Gejalanya memang mirip flu biasa, tetapi pada kelompok rentan bisa menjadi lebih berat, seperti demam tinggi mendadak, batuk, pilek, nyeri otot, lemas, bahkan sesak napas,” jelasnya.
Maria menegaskan bahwa pencegahan tetap menjadi langkah utama untuk menekan penularan influenza. Ia mengimbau masyarakat menerapkan pola hidup bersih dan sehat, seperti rajin mencuci tangan dengan sabun, menggunakan masker di kerumunan, menjaga jarak dari orang sakit, serta mengonsumsi makanan bergizi seimbang.
Menanggapi kabar kematian di Bandung yang dikaitkan dengan super flu, Maria memastikan hingga saat ini belum ada bukti medis yang menyatakan penyebab kematian tersebut akibat virus influenza. “Pasien diketahui memiliki penyakit penyerta, seperti gagal ginjal dan penyakit jantung,” ujarnya.
Masyarakat pun diminta tetap tenang dan bijak menyikapi informasi yang beredar. “Vaksin influenza bisa menjadi pilihan sesuai kebutuhan, namun yang terpenting adalah menjaga daya tahan tubuh,” pungkas Wiwin. [aje]






