Ponorogo (beritajatim.com) – Dalam upaya meningkatkan produksi padi dan menjaga ketahanan pangan, Kabupaten Ponorogo telah menyediakan beragam sarana dan prasarana penting untuk mendukung sektor pertanian. Dengan berbagai fasilitas seperti waduk/telaga, saluran irigasi, pupuk, mesin pertanian, sumur dalam.
Dengan dukungan sarana dan prasarana itu, pemerintah daerah setempat berharap dapat membantu petani mengoptimalkan hasil panen dan menjaga keberlanjutan pertanian.
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Pertanian di Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dipertahankan) Ponorogo Tamar Mahara mengungkapkan, beberapa fasilitas sudah tersedia untuk mendukung pertanian di Bumi Reog. Sepert adanya waduk dan jaringan irigasi.
Waduk Bendo di Kecamatan Sawoo, Telaga Ngebel di Kecamatan Ngebel serta Dam Sumorobangun di Kecamatan Badegan merupakan fasilitas sarana dan prasarana yang berfungsi sebagai sumber air cadangan yang penting. Terlebih lagi di musim kemarau, sehingga suplai air untuk lahan sawah dapat terjamin sepanjang tahun.
“Di Ponorogo untuk cadangan air yang digunakan untuk musim kemarau, ya di Telaga Ngebel, Dam Sungkur dan yang terbaru Waduk Bendo,” kata Tamar kepada beritajatim.com.
Air dari Telaga Ngebel, misalnya, mengaliri area persawahan di Kecamatan Ngebel, Jenangan, Pulung, Babadan, hingga Ponorogo kota. Sementara, Dam Sumorobangun mencakup wilayah sawah di Kecamatan Jambon, Badegan, dan Sampung. Waduk Bendo sendiri memiliki peran yang cukup luas, mengairi desa-desa di Kecamatan Sawoo, Desa Joresan di Kecamatan Mlarak, serta Desa Mojorejo, Winong di Kecamatan Jetis, dan Desa Beton dan Madusari di Kecamatan Siman.
“Adanya telaga, waduk dan Dam ini, untuk memastikan petani tetap mendapatkan pasokan air untuk sawah mereka. Sehingga resiko gagal panen bisa ditekan,” katanya.
Tidak hanya mengandalkan waduk ataupun telaga, Pemkab Ponorogo juga mengembangkan sumur dalam bagi area persawahan yang belum terjangkau aliran air dari waduk atau telaga. Sejak 2021, program pembangunan sumur dalam sudah menghasilkan 191 sumur yang tersebar di berbagai wilayah Ponorogo. Kebijakan ini pun memberi akses air bagi lahan-lahan yang sebelumnya sulit diairi.
Selain itu, program Listrik Masuk Sawah bekerja sama dengan PLN juga diluncurkan untuk membantu petani menghemat biaya pengairan. Dengan adanya jaringan listrik di area persawahan, petani bisa menggunakan pompa listrik, yang lebih efisien daripada mesin diesel berbahan bakar solar.
“Jika ada kawasan sawah yang luas, para petani bisa mengajukan jaringan listrik sehingga mereka dapat menggunakan pompa air listrik,” tutup Tamar.
Melalui berbagai fasilitas ini, Pemkab Ponorogo berkomitmen untuk mendukung ketahanan pangan dan meningkatkan produktivitas sektor pertanian. Infrastruktur yang memadai menjadi kunci bagi petani untuk mengatasi tantangan cuaca, menjaga keberlanjutan hasil panen, serta memperkuat ekonomi lokal. [end/beq]






