Perhelatan pemilihan umum gubernur dan wakil gubernur (Pilgub) Jatim 2024 makin mendekati hari pemungutan suara: 27 Nopember 2024. Kandidat Khofifah Indar Parawansa dan Emil E Dardak diestimasikan leading dibanding dua kompetitornya. Rujukannya hasil survei elektabilitas.
Nama Khofifah dan Emil tetap menempati posisi teratas hasil survei elektabilitas politik cagub dan cawagub Jatim. Tri Rismaharini, cagub dari PDIP, figur kandidat yang diperhitungkan. Itu berdasar survei.
Sedangkan tiga nama lainnya: Luluk Nur Hamidah, Lukmanul Khakim, dan Gus Hans, namanya tak pernah masuk survei sebelum ketiganya dikandidatkan partai pengusung sebagai cagub atau cawagub.
Sebagai kandidat petahana, Khofifah dan Emil punya track record kinerja 5 tahun memimpin Jatim. Pertumbuhan ekonomi stabil. Angka pertumbuhan ekonomi Jatim selalu di atas nasional. Promosi kesejahteraan rakyat terderek secara inkremental. Angka kemiskinan menurun.
Selain itu, di era kepemimpinannya, harmoni sosial terjaga dan terpelihara dengan baik. Sehingga integrasi sosial masyarakat Jatim terbangun rapi dan kuat. Hal itu mengindikasikan antarkomunitas sosial dengan latar kultural, pemikiran, dan sosial berbeda hidup berdampingan damai di Jatim.
Provinsi Jatim tetap jadi sasaran investasi. Terbukti setidaknya ada dua investasi besar masuk ke daerah ini, yakni smelter PT Freeport Indonesia di Kabupaten Gresik dengan nilai investasi sekitar Rp50 triliun. Proyek refinery minyak di Kabupaten Tuban oleh PT Pertamina dan Rosneft, korporasi migas dari negara Rusia, dengan nilai investasi sekitar Rp220 triliun.
Membaca peluang politik duet Khofifah dan Emil di Pilgub Jatim 2024 bisa dilakukan dengan merujuk pada kinerjanya keduanya selama menjabat orang pertama dan kedua di Jatim.
Perspektif lain yang bisa kita pakai sebagai rujukan adalah hasil Pilgub Jatim 2018, di mana duet Khofifah dan Emil leading atas Saifullah Yusuf (kini menjabat Menteri Sosial dan Sekjen PBNU) yang berpasangan dengan Puti Guntur Soekarno (PDIP).

Leading di 27 Kabupaten dan Kota
Total konstituen Pilgub Jatim 2018 sekitar 30 juta pemilih lebih. Dari jumlah tersebut, total suara sah hasil pemungutan suara sekitar 19,5 juta suara. Di mana pasangan Khofifah dan Emil meraih dukungan 10.465.218 suara, sedang Gus Ipul dan Puti Guntur dengan 9.076.014 suara.
Sebanyak 27 kabupaten dan kota dimenangkan Khofifah dan Emil. Gus Ipul dan Puti Guntur unggul di 11 kabupaten dan kota lainnya di Jatim.
Catatan menarik dari hasil Pilgub Jatim 2018 di antaranya, dari 27 kabupaten dan kota yang dimenangkan Khofifah dan Emil, duet ini leading di kabupaten dan kota dengan total suara sah besar, mengingat kabupaten dan kota dimaksud memiliki konstituen besar. Jumlah suara sah besar itu, secara kuantitatif, lebih dari 600 ribu di tiap kabupaten dan kota.
Khofifah dan Emil leading di Kabupaten Banyuwangi dengan 410.547 suara dibanding Gus Ipul dan Puti Guntur dengan 394.480 suara. Padahal, saat itu Banyuwangi dipimpin Bupati yang diusung dan didukung PDIP. ‘
Duet Khofifah dan Emil juga leading di Kabupaten Bojonegoro dengan 398.617 suara, di Gresik dengan 345.598 suara, di Jember dengan 555.577 suara, di Kota Surabaya dengan 579.246 suara, di Lamongan dengan 346.260 suara, di Sampang dengan 339.222 suara, di Sidoarjo dengan 477.746 suara, di Tulungagung dengan 304.144 suara, di Probolinggo dengan 331.939 suara, di Jombang dengan 326.596 suara, dan di Mojokerto dengan 321.940 suara.
Ada empat kabupaten dengan suara sah besar yang dimenangkan Gus Ipul dan Puti Guntur di Pilgub Jatim 2018. Keempatnya adalah Kabupaten Blitar dengan 317.425 suara dibandingkan suara Khofifah dan Emil dengan 288.645 suara. Lalu di Kabupaten Kediri dengan 407.623 suara dibandingkan Khofifah dan Emil dengan 388.998 suara. Selanjutnya di Kabupaten Malang dengan 621.650 suara dibanding Khofifah dan Emil dengan 588.727 suara. Terakhir di Kabupaten Pasuruan dengan 383.660 suara dibanding Khofifah dan Emil dengan 331.225 suara.
Dari perspektif empat sub kultur yang ada di Jatim (Arek, Mataraman, Tapal Kuda/Pendalungan, dan Madura Kepulauan), pasangan Khofifah dan Emil leading di tiga kabupaten di sub kultur Madura Kepulauan. Hanya di Kabupaten Bangkalan, pasangan ini kalah suara dibanding Gus Ipul dan Puti Guntur. Di Bangkalan, Khofifah dan Emil dengan 261.467 suara dan Gus Ipul dan Puti Guntur dengan 271.088 suara. Sedang pemungutan dan penghitungan suara di Sampang, Sumenep, dan Pamekasan dimenangkan mutlak Khofifah dan Emil.
Di sub kultur Pendalungan/Tapal Kuda, duet Khofifah dan Emil unggul di Banyuwangi, Bondowoso, Jember, Kabupaten dan Kota Probolinggo, dan Lumajang. Kabupaten dan Kota Pasuruan dan Situbondo dimenangkan Gus Ipul dan Puti Guntur. Pasuruan adalah tempat kelahiran Gus Ipul hingga politikus berdarah Islam Tradisional (NU) ini menempuh pendidikan dasar dan menengah di daerah ini. Secara mayoritas, suara di kawasan Tapal Kuda/Pendalungan, duet Khofifah dan Emil leading vis a vis Gus Ipul dan Puti Guntur.
Bagaimana di sub kultur Arek? Kota Surabaya, Kota Malang, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Gresik, Lamongan, Kota dan Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Jombang dimenangkan Khofifah dan Emil. Di sub kultur ini, hanya Kabupaten Malang dan Kota Batu yang dimenangkan pasangan Gus Ipul dan Puti Guntur.
Sub kultur Arek merupakan melting pot banyak sub kulur lain di Jatim maupun kultur baru dari provinsi di luar Jatim. Karena itu, kawasan ini kerapkali menjadi palagan politik keras di setiap kontestasi politik.
Sub kultur Arek ditandai dengan kualitas sosio ekonomi warganya yang cukup baik, dengan indikasi banyaknya kelas menengah berdomisili di daerah ini. Akses informasi tersedia beragam dan jejaringnya terbangun rapi, dinamika ekonomi bergerak dinamis dengan akselerasi pertumbuhan ekonomi cukup tinggi. Warganya punya kewarasan politik tinggi dan memadai, sehingga konstituen di kawasan Arek lebih sulit dimobilisasi secara politik dibanding konstituen di kawasan sub kultur lainnya di Jatim.
Data hasil Pilgub Jatim 2018 menunjukkan bahwa di sub kultur Mataraman, pasangan cagub dan cawagub tetap leading dalam aspek total suara dibanding Gus Ipul dan Puti Guntur. Padahal, umumnya kawasan Mataraman Jatim, secara tradisional dan kultural, dikenal sebagai wilayah lumbung suara partai berpaham Nasionalis, seperti PDIP. Sehingga kandidat kepala daerah yang diusung dan didukung partai berhaluan Nasionalis diperkirakan mampu meraup suara besar di kawasan sub kultur ini.
Faktanya, hasil Pilgub Jatim 2018 memperlihatkan bahwa suara dukungan Khofifah dan Emil leading di Tulungagung, Tuban, Trenggalek, Bojonegoro, Ngawi, Ponorogo, Pacitan, dan Nganjuk. Hanya di Kabupaten Kediri, Madiun, dan Kota dan Kabupaten Blitar raihan suara duet Khofifah dan Emil kalah dibanding Gus Ipul dan Puti Guntur.
Apakah peta suara dukungan di Pilgub Jatim 2024 berubah total dibanding hasil Pilgub Jatim 2018 atau hanya ada perubahan kecil yang tak signifikan?
Banyak faktor politik dan nonpolitik yang mempengaruhi. Satu di antaranya adalah proses Pilgub Jatim 2024 berlangsung di era transisi pemerintahan dari rezim Jokowi ke rezim Prabowo Subianto. Kendati pemungutan suara berlangsung ketika rezim Prabowo telah berusia 37 hari memegang posisi pemerintahan. [air/but]
Ainur Rohim,
Direktur Utama dan Penanggung Jawab beritajatim.com






