Blitar (beritajatim.com) – Peta politik di Kabupaten Blitar berguncang hebat setelah DPP PDI Perjuangan dan DPD PDIP Jawa Timur secara mengejutkan melakukan perombakan pucuk pimpinan di tubuh DPC PDIP Kabupaten Blitar. Rijanto tak bisa mempertahankan posisi sebagai Ketua PDIP Blitar meskipun dia sudah berhasil duduk di kursi “Bupati”.
Guntur Wahono, politisi senior yang kini duduk di DPRD Jawa Timur, resmi ditunjuk menahkodai partai berlambang banteng moncong putih tersebut, menggeser posisi Bupati Blitar, Rijanto. Politisi asal Sanankulon Kabupaten Blitar itu akan ditemani Supriadi alias Kuat sebagai Sekretaris DPC PDIP.
Langkah ini pun tentu cukup mengejutkan dan mengguncang peta politik di Bumi Penataran. Betapa tidak, status Rijanto sebagai kepala daerah aktif ternyata tak cukup kuat untuk mempertahankan posisinya di struktur partai.
Fenomena ini memberikan sinyal kuat bahwa DPP dan DPD PDIP Jawa Timur tengah melakukan evaluasi besar-besaran terhadap performa partai di bawah kepemimpinan sebelumnya. Hal itu pun diamini oleh Guntur Wahono yang kini menjabat sebagai Ketua DPC PDIP Kabupaten Blitar.
“Kemerosotan perolehan suara di Blitar terbukti dengan turunnya kursi DPRD dari 19 menjadi 16, ini memang menjadi atensi DPD PDIP Jawa Timur dan DPP PDIP sehingga kami ditugaskan untuk mengembalikan itu,” ucap Guntur pada Senin (22/12/2025).
Bukan tanpa alasan Guntur Wahono diterjunkan. Penurunan kursi PDIP di DPRD Kabupaten Blitar dari 19 kursi menjadi 16 kursi pada Pemilu lalu menjadi rapor merah yang tidak bisa ditoleransi oleh pusat.
Guntur Wahono, secara diplomatis menyebut tugas ini sebagai bagian dari konsolidasi besar. Namun, publik membaca ini sebagai mandat untuk memulihkan kejayaan partai yang sempat meredup.
“Ini penugasan partai. Kami diminta menata kembali struktur agar lebih solid, terbuka, dan kuat. Target kami jelas: bangkit di 2029 dengan target 22 kursi,” tegas Guntur dengan nada optimistis.
Meski perolehan kursi DPRD turun, namun sejatinya saat dipimpin Rijanto PDIP mampu merebut kembali kursi Bupati Blitar dari PKB. Namun hal itu tak dipandang menguntungkan bagi PDIP.
“Kalau kemenangan PDIP tidak berdampak pada peningkatan suara PDIP ini rugi ini, partai merasa rugi sehingga partai merasa perlu melakukan gebrakan sekaligus evaluasi,” imbuhnya.
Satu hal yang menarik dari kepemimpinan Guntur adalah keberaniannya membuka pintu partai bagi elemen di luar internal. Struktur baru DPC PDIP Kabupaten Blitar kini diisi oleh kombinasi unik mulai dari tokoh pertanian, pengusaha, perwakilan pelaku seni dan budaya hingga komunitas sosial.
“PDIP harus membuka diri. Kritik dari pemuda, mahasiswa, hingga ulama adalah bahan bakar evaluasi kami,” tambah Guntur. Langkah ini dinilai sebagai upaya mendobrak kesan eksklusivitas partai yang selama ini mungkin dirasakan masyarakat.
Guntur Wahono dikenal sebagai figur yang kental dengan nuansa kultural. Dengan mengusung narasi “Budaya adalah Jati Diri”, ia mencoba menyentuh sisi emosional warga Blitar. Ini adalah strategi cerdas untuk mengembalikan PDIP ke akar rumput (grassroots) melalui pendekatan tradisi, bukan sekadar janji politik formal.
Meski baru dilantik, Guntur langsung tancap gas. Ia menargetkan konsolidasi hingga tingkat anak ranting tuntas pada awal 2026. Fokusnya jelas: memperbaiki komunikasi Tiga Pilar Partai (Eksekutif, Legislatif, dan Struktur Partai) yang selama ini dinilai kurang sinkron. [owi/beq]






