Makkah (beritajatim.com) – Eneng Kusnani, seorang prajurit TNI Angkatan Udara dengan masa dinas 28 tahun, resmi mengukir sejarah sebagai satu-satunya perempuan yang menjabat Kepala Sektor (Kasektor) 3 di wilayah Makkah pada operasional haji 2026.
Kehadirannya di tengah terik Makkah bukan sekadar pengisi kuota struktural, melainkan simbol pertautan antara ketegasan militer dan kelembutan pelayanan bagi ribuan tamu Allah.
Mewakafkan diri sebagai pelayan jemaah di episentrum ibadah haji bukanlah perkara ringan. Di bawah langit Arab Saudi yang menyengat, Eneng berdiri di garis depan memastikan setiap jemaah merasa aman dan terlindungi.
“Awalnya, saya sempat berpikir, mampu atau tidak,” ujarnya saat ditemui di Makkah, Sabtu (2/5/2026). Namun, keraguan itu lebur seketika oleh sumpah prajurit yang telah mendarah daging: “Yang namanya TNI, siap tidak siap, harus siap.”
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Haji Center (MHC) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, dedikasi Eneng terpancar kuat saat bus jemaah Embarkasi Makassar (UPG 3) tiba di pemondokan.
Alih-alih hanya berdiri di balik meja komando, perempuan tangguh ini justru terlihat cekatan membantu jemaah lansia turun dari bus, menyeka peluh di bawah bayang-bayang gedung tinggi Makkah.
Dari Nabawi Menuju Pos Komando Makkah
Pengalaman Eneng di medan pelayanan haji sebenarnya telah teruji sejak tahun 2023, kala ia bertugas di Sektor Khusus (Seksus) Nabawi, Madinah.
Senioritasnya di bidang perlindungan jemaah membuatnya dipercaya mengemban tanggung jawab yang lebih kompleks tahun ini. Jika dulu ia hanya fokus pada dinamika lapangan, kini ia harus menelan bulat-bulat kerumitan manajemen lintas sektoral.
“Di sektor, kita harus tahu dari manajemen sampai lapangan. Seluk-beluk masalah jemaah harus tahu sedetail-detailnya,” tuturnya. Baginya, pemimpin di tanah suci adalah mereka yang paham letak setiap keran air yang macet hingga kegelisahan jemaah yang merindukan rumah.
Kepemimpinan “Tarik Ulur” di Balik Seragam
Dengan balutan disiplin 28 tahun sebagai tentara, Eneng paham betul bahwa kunci keberhasilan pelayanan haji terletak pada soliditas tim. Meski memimpin personel yang mayoritas laki-laki, ia tak canggung. Ia menerapkan pola “tarik ulur”—tahu kapan harus merangkul sebagai kawan, dan kapan harus tegak sebagai atasan.
Prinsip kesetaraan selalu ia tekankan di setiap apel pagi. “Kita semua di sini petugas, termasuk saya,” ucapnya mantap. Baginya, ego adalah beban yang harus ditinggalkan sejak di bandara.
Disiplin tetap menjadi fondasi utama, mulai dari ketepatan waktu hingga kerapian berpakaian, karena bagi Eneng, wajah petugas adalah wajah Indonesia di mata dunia.
“Jangan sampai kita mencoreng nama Indonesia,” pesannya pendek namun tajam. Di tengah hiruk-pikuk Makkah yang tak pernah tidur, Eneng Kusnani menjalani perannya dengan ketenangan seorang ibu dan ketegasan seorang prajurit, memastikan setiap langkah jemaah menuju rida Ilahi berjalan tanpa aral. [ian/MCH]






