Madinah (beritajatim.com) – Jemaah haji asal Semarang, Aisyah (78) dan putranya Ulinnuha, merayakan milad atau ulang tahun secara bersamaan di pelataran Masjid Nabawi, Madinah, pada Sabtu (2/5/2026).
Di tengah ribuan kepak sayap merpati dan sejuknya pagi Kota Rasul, kado istimewa ini menjadi oase haru di sela pelaksanaan ibadah Haji 2026 yang penuh dengan nilai spiritualitas dan bakti seorang anak.
Madinah pagi itu adalah samudera manusia yang tenang. Usai shalat subuh berjamaah yang disusul kepulangan jemaah yang syahdu, arus manusia mengalir keluar dari pintu-pintu Masjid Nabawi seolah tiada habisnya.
Ada yang masih mendekap Al-Quran, ada yang lisannya masih basah oleh zikir, dan ada pula yang melangkah dalam diam membawa doa-doa yang baru saja mereka titipkan di raudhah.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Haji Center (MHC) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, di tengah riuh rendah langkah kaki itu, halaman “Rumah Nabi” mendadak berubah menjadi panggung tarian ribuan merpati.
Burung-burung itu terbang rendah, hinggap di lantai marmer yang dingin, lalu berebut butiran jagung yang ditaburkan para tamu Allah. Pemandangan ini seolah menjadi hiburan surgawi bagi siapa saja yang memandangnya.
Di sudut pelataran, tampak seorang laki-laki muda dengan telaten mendorong kursi roda. Sebuah kamera Nikon profesional menggantung di lehernya, kontras dengan kain ihram atau pakaian sederhana yang dikenakannya.
Di atas kursi roda itu, duduk seorang perempuan lanjut usia dengan binar mata yang cerah. Mereka adalah Ulinnuha dan ibundanya, Aisyah, jemaah haji yang menempuh ribuan kilometer dari Semarang untuk menjemput rida Ilahi.
“Ah nggak mas, malah saya bingung ini gimana cara nyetingnya,” ujar Ulin sembari tertawa kecil ketika disapa mengenai kamera pronya. Ulin adalah potret bakti anak masa kini; muda, cekatan, namun tetap lembut mendampingi sang ibu di tengah tantangan cuaca Madinah yang mulai menyentuh 40 derajat Celsius.
Dua Jiwa, Satu Tanggal Lahir
Perbincangan hangat yang sesekali diselingi bahasa Jawa itu menyingkap sebuah rahasia kecil yang indah. Hari itu, tepat pada peringatan Hari Pendidikan Nasional di Indonesia, sebuah perayaan tanpa lilin dan kue tart sedang berlangsung.
“Hari ini ibu saya ulang tahun,” ucap Ulin ramah. Saat ditanya mengenai usia sang ibunda, ia menjawab, “Ke tujuh puluh delapan.” Namun, kejutan sebenarnya datang dari lisan sang ibu yang tersenyum penuh syukur. “Anak saya ini juga ulang tahun, hari ini,” ujar Aisyah.
“Iya, ulang tahun saya dan ibu tanggalnya sama, mas,” tambah Ulin mengonfirmasi keajaiban kecil tersebut.
Tidak ada nyanyian “Happy Birthday”, tidak ada kue dengan nyala api untuk ditiup. Perayaan mereka hanyalah kehangatan mentari pagi Madinah yang mulai menyapa kulit, ditemani ribuan merpati Nabawi yang seolah dikirim langit untuk menjadi saksi bisu kebahagiaan mereka.
Di halaman rumah kekasih Allah, ibu dan anak ini merayakan kehidupan dengan cara yang paling puitis: bersyukur dalam balutan ibadah.
Doa Tulus di Halaman Nabawi
Momen tersebut ditutup dengan sebuah kesahajaan yang mendalam. Mereka bertiga, bersama petugas Media Center Haji, menundukkan kepala.
Di bawah langit Madinah yang membiru, doa-doa tulus dirapalkan. Doa untuk kesehatan, doa untuk keselamatan keluarga di tanah air, hingga doa agar perjalanan haji mereka berujung pada predikat mabrur.
Bagi Ulin dan Aisyah, ulang tahun kali ini bukanlah tentang bertambahnya angka, melainkan tentang kesempatan untuk bersimpuh di tempat yang paling dicintai Rasulullah.
Di tengah tarian merpati, mereka membuktikan bahwa kado terbaik dalam hidup bukanlah benda, melainkan kehadiran dan kesempatan untuk melayani orang tua di rumah Tuhan. [ian/MCH/but]






