Mojokerto (beritajatim.com) – Pandemi Covid-19 tak hanya berdampak negatif, namun juga ada yang merasakan dampak positifnya.
Seperti yang dialami Sunadi (50) warga Desa Talunbrandong, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto ini.
Bersama sang istri, Kasie Pelayanan Desa Talunbrandong ini meneruskan bisnis warisan keluarga. Yakni pembuatan kuliner srebeh atau biasanya dikenal dengan sebutan serabi. Penyebutanan srebeh sesuai dengan yang dikenal di masyarakat sekitar.
Srebeh tersebut ia buat di kedai miliknya yang ada di Desa Pulorejo tepatnya di perempatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. Ada empat wajan yang terbuat dari gerabah dengan dua kompor gas.
Adonan srebeh dituang ke gerabah dan ditutup. Tak butuh waktu lama, srebeh sudah matang dan siap diangkat. Sunadi bertugas membuat srebeh, sementara sang istri dan satu karyawan bertugas untuk melayani pembeli.
“Pandemi 2020 karena ingin mengangkat perekonomian keluarga. Sebelumnya saya usaha ayam petelur tapi sudah tidak lagi dan kebetulan di keturunan keluarga kami mulai nenek ada usaha seperti ini, menurun ke ibu,” ungkapnya, Senin (22/8/2022).

Namun dari sang ibu tidak langsung menurunkan ke Sunadi. Bisnis keluarga itu harus berhenti hingga akhirnya diteruskan Sunadi dan istrinya saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia dan dunia pada tahun 2020 lalu.
“Tapi tidak langsung terus menerus kemudian diteruskan. Baru 2020 kemarin saya bangkitkan lagi. Iya resep keluarga. Ambil nama srebeh karena sebutan untuk daerah sini, daerah lain namanya serabi,” katanya.
Penyajiannya pun berbeda dengan serabi yang ada di daerah lainnya. Jika serabi disajikan dengan kuah santan, namun srebeh di tempat Sunadi tanpa kuah. Penyajiannya menggunakan kelapa parut.

“Original srebeh di sini pakai kelapa parut, karena daerah lain pakai kuah. Kita juga ada srebeh campur isinya srebeh, ketan dan pertulo. Sesuai pesanan, ada yang suka serebe tapi ada juga yang suka campur,” ujarnya.
Dalam sehari, lanjut Sunadi, bahan srebeh habis 12 kg, ketan kurang lebih 3 kg dan untuk pertulo kurang lebih 1,5 kg. Harga srebeh satu porsi isi lima lembar Rp5 ribu, sedangkan srebeh campur juga Rp5 ribu.
“Online belum bisa tapi kalau pelanggan datang khusus ke sini dari Kota Mojokerto, Cerme dan Kedamaian Gresik bahkan ada dari Surabaya. Buka jam 4 sore sampai habis, sekitar jam 7-8 malam sudah habis,” tuturnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”kuliner-mojokerto”]
Menurutnya, meski paling di nanti saat bulan ramadhan untuk takjil namun ia mengaku omzetnya berkurang. Karena sisi waktu terbatas, para pelanggan datang saat jam buka saja dan setelahnya cenderung tak banyak yang datang.
“Saya hanya punya satu karyawan. Iya buka di perempatan Dawarblandong dengan nama Srebeh Toyo. Hanya buka di sini, tidak ada cabang lain. Untuk omset sehari sekitar Rp800 ribu sampai Rp900 ribu,” jelasnya. [tin/ted]






