Surabaya (beritajatim.com) – Rintik hujan mengiringi perjalanan menuju Jalan Dr. Ir. H. Soekarno No.682, Kota Surabaya. Di situ berdiri bangunan megah bertuliskan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, lebih dikenal dengan UINSA. Menempel di atas tembok gedung.
Rasa penasaran dan keraguan yang diselimuti hawa sejuk membawa langkah kaki mendatangi kampus ini. Tempat para akademisi-akademisi dengan keilmuannya bersemayam.
Meski telah berpakaian layaknya mahasiswa, tim ekspedisi tetap mendapat pertanyaan dari satuan pengaman. “Mau ke mana, Mas?”
Sowan menjadi tujuannya. Setelah menjelaskan apa maksud dan tujuan, salah seorang berpakaian hitam bertulis security mengarahkan kami untuk menuju ruangan “Sang Mentor”. Mentor yang memberi wejangan agar perjalanan kami terproteksi.
Tak butuh waktu lama, beliau keluar dari ruangan yang bertuliskan Dr. H. Muhammad Khodafi, M.Si. Beliau mengemban tugas sebagai Wakil Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.

“Sang Mentor” menjelaskan dengan cukup rinci pertanyaan apa yang sedang kita risaukan dari berbagai sudut pandang. Dibedakan mana yang datanya cukup valid dan mana yang berdasar cerita turun temurun.
Perjalanan berlayar Sunan Ampel yang lahir pada 1401 masehi dari Campa menuju Nusantara menjadi menu pembuka diskusi full daging ini. Ada scene cukup mengagetkan. Ada versi yang menceritakan Syekh Ibrahim As-Samarqandi, Raden Rahmat, Raden Murtadho sempat terdampar di Kamboja.
“Namun, versi yang kuat adalah mampir ke Palembang. Kira-kira saat itu umur Sunan Ampel 19-20 tahun (lahir 1401 masehi) dan menemui Arya Damar (putra Brawijaya I),” tegasnya kepada kami agar tak salah arah.
Diceritakan pula mengenai sosok Syekh Jumadil Kubro yang makamnya berada di berbagai wilayah. Asal usul makam Sang Syekh yang berada di Troloyo pun tak luput dari pembicaraannya. Wakil Dekan juga menegaskan bahwa menurut beberapa catatan dan pendapat sejarawan bahwa makam yang original berada di wilayah Sulawesi.

“Beberapa catatan dan kata sejarawan makam Syekh Jumadil Kubro berada di Sulawesi, itu yang paling kuat, tapi kita juga tidak tahu,” jelasnya dengan serius di atas sofa, dalam ruangan berpendingin udara.
Pada akhir sesi sowan, kami diberi bekal beberapa rekomendasi tempat ikonik yang dapat membantu ekspedisi ini. Surabaya, Gresik, Tuban, Troloyo, dan Palembang jadi direkomendasikan kepada kami.
Sangat membantu untuk langkah kaki selanjutnya menemui para juru kunci maupun pengurus yayasan kompleks makam yang akan kita tuju. Perjalanan asyik menyusur “puing-puing” masih berlanjut.






