Surabaya (beritajatim.com) – Pengamat Politik Suko Widodo menilai sosok Dwi Astutiek memiliki peluang yang sama dengan Bayu Airlangga dan Hendy Setiono di Pilkada Surabaya.
Menurut dia, untuk menghadapi Eri Cahyadi – Armuji yang sudah hampir pasti akan diusung oleh PDIP dan PKB. Gerindra harus mempertimbangkan nama lain yang cukup potensial. Baik dari sisi elektabilitas, akseptabilitas bahkan dari sisi moralitas.
“Dwi Astutik punya modal sosial memadai untuk menjadi alternatif kandidat. Rekam jejak dan track recordnya teruji dan terbukti. Apalagi bicara keterwakilan sebagai sosok perempuan, saya kira Bu Dwi sangat berpotensi,” ujar Suko Widodo dalam keterangan pers yang diterima beritajatim.com, Minggu (7/7/2024).
Dosen ilmu komunikasi universitas Airlangga Surabaya ini menegaskan, jika benar partai mencari kader terbaik sebagaimana pesan Prabowo, maka Dwi Astutiek adalah alternatif atas pertanyaan itu.
Apalagi, lanjut dia, belajar dari banyak contoh kasus keputusan dalam politik tidak selalu matematis dan tidak jarang inkonsisten.
“Jadi tinggal apakah parpol mau melirik orang orang potensial seperti bu Dwi atau tidak,” kata Suko.
Sementara itu, Dosen Universitas Trunojoyo Isa Anshori menyebut sosok Dwi Astutiek memiliki pengaruh kuat di grassroot muslimat NU, baik di Surabaya maupun Jawa Timur.
Isa mengaku mengetahui bagaimana track record dan perjalanan hidup Dwi Astutiek sejak masih sama sama aktif di PW IPNU-IPPNU Jawa Timur periode 1993-1997 hingga periode 1997-2000.
“Saya kira hampir semua warga muslimat NU bukan hanya di Surabaya saja ya, tapi di beberapa daerah di Jatim, kalau ditanya apakah kenal dengan Bu Dwi, pasti mereka akan jawab, hampir semuanya tahu,” kata Isa yang kini menjadi Assesor Kemenristek Dikti tersebut.
Menurut dia, figur seperti Dwi Astutiek akan banyak membawa perubahan dan harapan bagi warga yang dipimpinnya. Tak hanya di Surabaya.
“Jadi kalau mau menguji elektabilitas, kapabilitas dan kualitas kandidat, jangan hanya dari satu sudut pandang, harus komperhensif, standarnya adalah publik,” tegas Isa Anshori.
Isa Anshori menambahkan, jika ingin mengetahui siapa kandidat yang lebih kuat, dari dua nama yang sekarang sedang diipertimbangkan Gerindra, yakni Bayu dan Hendy, tanpa melihat survei sekalipun, nama Dwi Astutiek sebenarnya cukup potensial sebagai pembanding mencuatnya dua kandidat tersebut.
“Ini waktunya hanya tersisa efektif sekitar empat bulan. Mas Bayu dan Hendy menurut saya tidak terlalu punya waktu untuk mengejar defisit elektoral dengan incumbent. Karena keduanya belum punya basis elektoral. Tentu itu berbeda dengan Bu Dwi, yang sudah puluhan tahun kuat di akar rumput NU,” kata dia.
“Kalau berbicara pondasi pemilih, tentu orang seperti Bu Dwi lebih realistis untuk dipertimbangkan partai politik manapun. Karena basis massanya jelas,” tambah dia.
Sebelumnya, Baliho perempuan bernama Dwi Astutiek mulai banyak bermunculan mendekati masa kontestasi Pemilihan Wali Kota Surabaya 2024.
Balihonya cukup menarik perhatian lantaran tampak ngejreng dengan warna dasar kuning dan pakaian hijau.
Pantauan beritajatim.com, Rabu (19/6/2024) siang, baliho Dwi Astutiek itu berdiri sejumlah ruas jalan. Di antaranya di simpang empat Jalan Kusuma Bangsa, di Jalan Biliton, hingga ada yang berjejer di Jalan Indragiri.
Bahkan, yang di ruas Jalan Indragiri, Baliho Dwi Astutiek berwarna kuning menyala itu lebih banyak dibanding baliho Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi. Meskipun jumlahnya tidak terpaut jauh, 2 banding 1.
Lebih dari itu, spanduk perempuan yang pertama kali merias wajah Kota Surabaya itu juga bertulis sebuah jargon: “Arah Baru Indonesia Emas 2024”.
Sementara, di bawah gambar wajah Dwi Astutiek itu turut disematkan nama serta jabatan: Dr. Dwi Astutiek SA.g., MSI, Sekertaris Dewan Pendidikan Jawa Timur.
Diketahui, ketatnya atmosfer kontestasi di Pilwali 2024 Kota Surabaya ini sudah mulai terasa. Yang mana sejumlah spanduk mulai banyak menjamur, di antaranya baliho Eri Cahyadi, Eri-Armuji, serta Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep-Hendy Setiono. [asg/aje]






