Sorotan

Peta Politik Pilkada Kota Surabaya 2020 (3)

Ibnu F Wibowo

Usai di Bagian 1, saya menuliskan soal Papan Atas Bursa Pilwali Surabaya, lalu dilanjutkan dengan Bagian 2 yang berisi klasemen Papan Tengah. Kini saatnya saya mengajak Anda sekalian semua sedikit bersenang-senang sebelum mencapai ke ulasan laga penentu.

Sekarang, saya ingin menuliskan (mungkin lebih tepatnya bercerita) tentang para cameo di Bursa Pilwali Surabaya. Disclaimer pertama saya dulu, cameo di sini bukan berarti hal buruk atau berada di papan bawah. Ambil saja contoh kemunculan Doctor Strange di Thor: Ragnarok, masa kemunculannya disitu hal buruk? (Doctor Strange hanya punya screen time di bawah 1 menit). Terkadang, kemunculan Cameo justru menjadi clue untuk sebuah kejadian lebih besar ke depan.

3. Para Cameo
Selama bergulirnya Bursa Pilwali Surabaya sejak sebelum pandemi, ada banyak nama yang bergulir. Beberapa tetap terus beredar hingga kini. Sementaranya lainnya, hanya sempat lewat meski mampu mencuri perhatian besar.

Beberapa nama yang saya tulis setelah ini adalah mereka yang mencuri perhatian besar lalu kemudian memilih untuk diam (entah karena alasan apa). Untuk yang hanya sekedar mendaftar ke partai kemudian tidak melakukan apa-apa, mohon maaf saya tidak bisa memberikan ulasan.

Para cameo di Bursa Pilwali Surabaya adalah Dhimas Anugrah, Baktiono, Eddy Tarmidi, Hendro Gunawan, Bayu Airlangga, dan Gamal Albinsaid. Meski kini namanya sudah tidak lagi banyak dibicarakan, namun mereka sempat mencuri perhatian dan layak untuk tidak dilupakan.

Dhimas Anugrah, politisi PSI yang sempat berlaga di Pileg 2019. Pria yang menempuh studi di Inggris ini sempat mencuri perhatian di awal-awal Bursa Pilwali Surabaya. Gagasannya soal pluralisme dan semangat toleransi ini sempat mencuat.

Kini, Dhimas nampaknya lebih milih menjauh dari hiruk pikuk politik. Padahal, secara gagasan, Dhimas jauh lebih moncer ketimbang Andy Budiman yang belakangan dapat restu dari PSI.

Baktiono, 5 periode terpilih sebagai wakil rakyat dan kini menjabat sebagai Sekretaris DPC PDIP Surabaya sekaligus Ketua Komisi C DPRD Surabaya. Sosok yang kekuatan basis massanya tak perlu diragukan lagi ini tidak melakukan pendaftaran terkait Pilwali Surabaya.

Lalu kenapa namanya masuk di tulisan ini? Sederhana, meski tidak melakukan pendaftaran, namun baliho dengan foto Baktiono tersebar di seluruh penjuru kota (bukan hanya di Dapilnya saja, tapi seluruh penjuru kota). Tidak jelas apa tujuannya maupun siapa memasang. Baktiono pun tidak pernah secara terbuka menjawab pertanyaan ini. Tapi, yang perlu diingat, kultur di PDIP ini adalah keputusan Ketua Umum adalah mutlak. Jadi, layak dikatakan Baktiono adalah cameo yang punya peluang.

Eddy Tarmidi, melakukan pendaftaran ke PDIP yang merupakan partai tempatnya mengabdi, pengusaha ini sempat membuat geger akibat gagasannya. Pasalnya, ketika mereka yang ada di Bursa Pilwali Surabaya melemparkan gagasan pembangunan kota, Eddy justru memiliki ide untuk membagi Surabaya menjadi dua kota. Sebuah ide yang benar-benar mencuri perhatian.

Hendro Gunawan, Sekkota Surabaya. Berstatus ASN, Hendro Gunawan tidak melakukan pendekatan apapun ke partai-partai lain. Di awal bursa bergulir, namanya bersaing dengan Eri Cahyadi dari kalangan ASN Pemkot Surabaya.

Hendro Gunawan bahkan disebut telah memiliki modal personal dan modal materi yang cukup untuk berkontestasi di Pilwali Surabaya. Namun, berbeda dengan Eri Cahyadi, kini Ia sudah jarang muncul ke tataran atas bursa jelang laga penentu.

Hal ini terjadi usai Golkar mengajukan dua nama dan bukan termasuk Hendro Gunawan. Sejak awal, Ia selalu diidentikkan dengan partai berlogo beringin ini.

Bayu Airlangga, menantu dari Gubernur Jawa Timur dua periode Soekarwo yang kini menjadi anggota DPRD Jawa Timur. Di awal 2019, bahkan sejak masa kampanya Pileg, nama Bayu sudah mencuat di bursa Pilwali Surabaya. Fotonya sudah banyak tersebar di penjuru Kota Pahlawan (padahal Bayu adalah Caleg dari Dapil Jatim 11 Madiun-Nganjuk).

Seiring berjalannya waktu, peluang Bayu bakal maju memimpin Surabaya semakin menguat tatkala Ia santer disebut bakal menahkodai DPC Demokrat Surabaya menggantikan Ratih Retnowati yang tersandung kasus korupsi.

Namun, pada akhirnya, Bayu pun berstatement terbuka jika dirinya saat ini fokus untuk menjalankan amanah para konstituennya. Oh iya, sekilas info dan agak keluar dari topik, Bayu saat ini menjadi kandidat kuat Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Timur. Nama lain yang santer disebut selain dirinya adalah Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak.

Terakhir, Gamal Albinsaid, pemuda jenius berlatarbelakang dokter ini sempat membuat heboh karena mendeklarasikan diri akan maju di Pilwali Surabaya. Sebabnya? Apalagi jika bukan karena dirinya kelahiran Malang.

Jagad sosial media pun heboh. Bukan karena orang Surabaya berperang dengan Malang, jelas bukan. Tapi karena Persebaya yang identik dengan Surabaya dan Arema dengan Malang.

Kini nama Gamal sudah sangat jarang (bahkan sama sekali tidak pernah) muncul di tataran publik. Bagaimana dengan gagasan? Pendapat personal saya setelah beberapa kali meliput acara-acara Gamal adalah: saya bertanya, dia mau maju Pilwali atau membangun kerajaan bisnis start up di Surabaya? [ifw/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar