Sorotan

Peta Politik Pilkada Kota Surabaya 2020 (2)

Ibnu F Wibowo wartawan beritajatim.com peliput Pilkada Kota Surabaya 2020

Jika di Bagian 1 tulisan saya saya bercerita tentang Papan Atas Bursa Pilwali Surabaya, maka kali ini akan dilanjutkan dengan klasemen Papan Tengah.

Sebelum kita mulai, untuk informasi bagi mereka yang mungkin belum tahu tahapan terbaru dari Pemilihan Serentak Lanjutan Wali Kota dan Wakil Wakil Wali Kota Surabaya (istilah ini digunakan berdasarkan pidato langsung Ketua KPU RI. Katanya, kalau istilah Pemilu hanya digunakan untuk Pilpres), ada sedikit aktualisasi karena adanya pandemi ini.

Pada 4-6 September KPU akan resmi membuka tahapan pendaftaran bakal calon kepala daerah. Setelah itu, KPU akan melakukan rangkaian verifikasi terhadap bakal calon yang mendaftar. Nantinya, KPU akan menetapkan pasangan calon kepala daerah yang akan berlaga 23 September 2020.

Tahapan kampanye akan dimulai pada 26 September hingga 5 Desember atau sebanyak 71 hari. KPU membagi masa kampanye calon kepala daerah ini dengan tiga fase. Fase pertama yakni kampanye pertemuan terbatas, pertemuan tatap muka, dialog, penyebaran bahan kampanye kepada umum pemasangan alat peraga dan atau kegiatan lain.

Oke, sekarang mari kita mulai ulasan tentang Klasemen Papan Tengah Bursa Pilwali Surabaya.

2. Papan Tengah
Untuk mengawali, tulisan ini dibuat berdasarkan analisa saya selama melakukan peliputan berita terkait Pilwali Surabaya. Tidak ada tujuan mengunggulkan atau mendiskreditkan siapapun dengan meletakkan nama mereka di Papan Atas maupun Tengah. Tokoh yang kemarin berada di Papan Atas dikarenakan nama-nama itu sejak beberapa waktu terakhir menguat seiring santernya isu, baik on the records maupun off the records, tentang rekom untuk mereka terkait Pilwali Surabaya (iya, saya sudah menerima keluhan dari seseorang, maupun pendukung seseorang karena namanya tidak ada di Papan Atas).

Di Papan Tengah Bursa Pilwali Surabaya, terdapat banyak sekali nama. Jangan khawatir, meskipun bukan berada di Papan Atas, anda sekalian yang ada di klasemen ini bukan berarti peluangnya sudah hilang.

Jika diandaikan dengan poin dalam Liga Inggris, posisi Papan Atas dan Papan Tengah tidak terpaut jauh. Begitu rapat. Pun juga mereka yang berada tengah. Masih saling berkejaran merebut perhatian masyarakat yang bisa berujung indah. Rekom partai berada di genggaman. Untuk kalian yang namanya akan saya ulas di bagian ini, tolong jangan menyerah. Ingat, di tahun 2016 saja Leicester City bisa membuat kejutan dan jadi juara Liga Inggris.

Adalah Reni Astuti, Armuji, Arif Fathoni, Siti Anggraeni Hapsari, M. Machmud, Dwi Astuti, Lia Istifhama, Dyah Katarina dan pasangan Independen Yasin-Gunawan yang meramaikan bursa Papan Tengah.

Deretan nama yang mungkin bagi anda sudah cukup panjang itu masih belum selesai. Ada pula Vinsesius Awey, Arzeti Bilbina, Fandi Utomo, Andy Budiman, Anugrah Ariyadi dan Mujiaman Sukirno (nama ini benar baru-baru mendobrak masuk di bursa, walau sudah banyak rumor sejak awal).

Reni Astuti, seorang Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya. Partainya pun, PKS, mendapatkan lonjakan suara secara signifikan di Pileg 2019 dan berhasil mengamankan 5 kursi. Sosok Reni pun sudah teruji dan sangat piawai dalam perkara pendidikan dan isu-isu kesejahteraan masyarakat.

Secara kualitas, Ia sudah bisa dibilang layak untuk mendampingi Machfud Arifin (sampai saat ini PKS masih berada di gerbong koalisi besar Machfud Arifin dan paling terakhir mendeklarasikan dukungan), namun bagaimana peluangnya? Pantauan saya di berbagai laman sosial media situs-situs berita, setiap artikel tentang Reni selalu muncul komentar negatif akibat citra PKS. Pengamat politik pun sering menyebut jika peluang PKS di Surabaya yang masyarakatnya cenderung nasionalis sangat kecil. Namun bukan berarti habis. Pasalnya, pengalaman Reni dan kapabilitasnya bisa menjadi pelengkap bagi Machfud Arifin untuk membangun Surabaya (tentunya, apabila Machfud Arifin pada akhirnya benar-benar memenangkan Pilwali Surabaya).

Armuji, empat periode menjadi anggota DPRD Surabaya dan dua kali menjabat sebagai Ketua DPRD serta kini menjadi anggota DPRD Provinsi, sosok ini baru saja membuat akrobat politik yang sangat menarik. Di awal Bulan Juli, Ia secara tiba-tiba menyatakan mundur dari pendaftaran yang Ia lakukan di PDIP (partai tempatnya mengabdi). Alasannya, dirinya merasa ada banyak pihak yang berupaya menjegal langkah politiknya. Hanya saja, status pengunduran dirinya sangat simpang siur. Baik kepengurusan partai level Kota maupun Provinsi mengaku tidak pernah menerima surat pengunduran dirinya.

Seakan kurang seru, Armuji masih terus menarik perhatian. Baliho-baliho bergambar dirinya mendampingi Eri Cahyadi justru semakin banyak. Lokasinya? Di papan reklame yang biasa digunakan Armuji untuk kampanye Pemilihan Legislatif.

Secara kemampuan, 5 kali terpilih dalam Pemilihan Legislatif tentu tak boleh disepelekan. Kemampuan Armuji untuk mengelola basis massa tak boleh diragukan. Begitu juga dengan pemahamannya terkait pemerintahan, sudah ngelontok kalau kata orang jawa. Pertanyaannya sekarang tinggal, “Cak Ji jadi mundur kah?”.

Arif Fathoni, lama berprofesi sebagai jurnalis dan sempat berkarir sebagai pengacara. Kini tokoh muda ini disebut sebagai rising star Golkar Surabaya. Karir politiknya luar biasa moncer. Para seniornya pun mendukung Ia menjadi Ketua DPD II Partai Golkar Surabaya secara mantap.

Kini Toni (panggilan akrabnya) pun digadang Golkar menjadi pendamping Machfud Arifin. Meski dua nama disodorkan Golkar (Gus Hans dan Toni) ke gerbong koalisi besar, namun harapan nampaknya jatuh kepada anggota Komisi A DPRD Surabaya ini. Alasannya? Meski tidak pernah secara jelas terungkap, tapi diperkirakan karena komunikasi yang dilakukan Gus Hans kepada PDIP.

Siti Anggraeni Hapsari dan M. Machmud, keduanya adalah jagoan dari Partai Demokrat yang disodorkan ke gerbong koalisi besar untuk mendampingi Machfud Arifin.

Siti Anggraeni Hapsari atau yang lebih dikenal dengan panggilan Bu SAH mungkin lebih diketahui (saya tidak bilang dikenal) oleh warga Surabaya. Bagaimana tidak, baliho miliknya bertebaran di berbagai papan reklame di penjuru kota. Sayangnya, bagaimana pergerakan Bu SAH ketika terjun ke masyarakat kurang diketahui. Mungkin, Ia pakai strategi perang gerilya.

M.Machmud, tokoh ini juga merupakan mantan wartawan. Pernah pula menjabat sebagai Ketua DPRD Surabaya (menggantikan Wisnu Wardhana akibat skandal upaya permakzulan Wali Kota Risma). Secara basis massa, Machmud juga pernah mencetak rekor anggota DPRD di level Kabupaten/Kota dengan suara terbanyak. Akhir-akhir ini, Ia pun nampak sering mendampingi Machfud Arifin dalam berbagai acara (termasuk acara ke partai-partai lain). Hanya saja, dalam berulang kali sesi wawancara dengan media, Machmud nampak kurang antusias untuk bertarung di Pilwali Surabaya. Bisa jadi sih itu bagian dari strateginya.

Dwi Astuti dan Lia Istifhama, keduanya merupakan saudara Gubernur Jawa Timur Khofifah dan sama-sama mengincar kursi Wakil Wali Kota Surabaya. Bersama dengan Gus Hans, mereka sering disebut Orang Dekat Khofifah. Pergerakan Dwi Astuti dan Lia nampaknya memiliki pola yang kurang lebih sama. Kurang memanfaatkan media mainstream (mungkin sering terjun ke tengah masyarakat secara diam-diam).

Bedanya, baliho milik Lia Istifhama mulai beberapa waktu terakhir sudah mulai menghiasi Kota Surabaya. Beberapa pengamat politik serta pakar komunikasi, dalam obrolan ringan, sering berkata kepada saya jika nama besar tokoh (termasuk Gubernur Khofifah) kurang ampuh untuk berburu rekom partai. Komunikasi publik dan penggunaan media mainstream masih diperlukan.

Dyah Katarina, istri Wali Kota Surabaya dua periode Bambang DH. Di masa kepemimpinannya, sang suami lah yang disebut pembangun pondasi kemajuan Surabaya saat ini. Bambang DH juga mentor dari Wali Kota Risma. Tentunya, modal awal Dyah Katarina yang mendaftar sebagai Calon Wali Kota ke PDIP pun sangat kuat. Ia bisa berguru langsung ke sang suami. Ilmu yang diberikan pun sangat mungkin lebih dari yang orang lain dapatkan (termasuk juga lebih dari Wali Kota Risma).

Meski beberapa waktu lalu memang santer disebut jika rekom PDIP sudah hampir pasti milik Whisnu Sakti, tapi peluang Dyah Katarina belum habis. Keputusan terakhir ada di tangan Bu Mega, Ketua Umum PDIP. Sang suami pun pernah jadi orang kepercayaan putri dari Putra Sang Fajar untuk mengurus Bappilu PDIP (kemudian digantikan oleh Bambang ‘Pacul’ Wuryanto di kepengurusan 2019-2024).

Pasangan Jalur Independen Yasin-Gunawan, keduanya benar-benar memainkan strategi perang gerilya. Balihonya jarang terlihat di Kota Surabaya (jujur saya belum pernah melihat satu pun baliho, kecuali gambar di story WhatsApp Pak Gunawan yang kebetulan saya punya nomornya). Berhasil mengumpulkan jumlah syarat dukungan dan melewati fase verifikasi administratif, kini keduanya harus berjuang menggugat.

Mereka dinyatakan tak lolos verifikasi faktual dukungan. Alasannya? Banyak ditemukan KTP dukungan yang ternyata pemilik KTP sudah meninggal. Verifikator lapangannya sampai harus verifikasi ke kuburan. Tapi, di sisi lain, Yasin-Gunawan yakin jika tidak diloloskannya mereka merupakan upaya pengganjalan. Keduanya menggugat KPU dan Bawaslu Surabaya ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP). Berhasil kah mereka? Kita tunggu saja.

Oke, sekarang kita istirahat sejenak meski masih ada beberapa nama yang harus diulas. Jika anda sekalian yang membaca tulisan ini bingung karena banyaknya nama, saya akan mencoba menjelaskan kenapa saya harus tetap menuliskannya di bagian ini.

Pilwali Surabaya saat ini sudah hampir pasti terbagi menjadi 3 kubu. Kubu Gerbong Koalisi Besar, Kubu PDIP, dan Kubu Independen yang saat ini tengah berjuang. Peluang munculnya kubu baru hampir pasti mustahil (nanti akan saya jelaskan di bagian selanjutnya). Kondisi di Kubu Gerbong Koalisi Besar, semua partai menyatakan secara terbuka menunggu keputusan Machfud Arifin (rekom partai terbit setelah ada keputusan wakil). Sedangkan di PDIP, seluruh elite partai menyatakan menunggu keputusan Ibu Ketua Umum Megawati Soekarnoputri.

Persamaan kedua kubu itu adalah: pemegang keputusan belum pernah menunjukkan sinyal, kode, atau apapun itu (pusing kan jadinya, itu lah yang saya dan rekan-rekan jurnalis serta mungkin bos-bos media di Surabaya rasakan). Kalau soal klaim, wajar rasanya jika semua partai dan pihak sudah mengklaim saat ini mereka lah yang paling dekat. Untuk itu, karena peluangnya masih terbuka, para pejuang demokrasi ini saya ulas semua selama belum ada keputusan final.

Oke, sekarang mari kita lanjut ke nama-nama berikutnya.

Vinseius Awey, sering menjadi perhatian selama masa jabatannya di DPRD Surabaya, tokoh ini pun hampir menjadi anggota DPR RI di Pileg 2019 lalu (sayang jumlah suara partai NasDem kurang). Kemampuan kritis Awey nampaknya bakal menarik jika Ia diberi kesempatan untuk memegang jabatan eksekutif di pemerintahan.

Hanya saja, saya mendengar selentingan jika politisi yang merupakan bagian dari Kelompok Cipayung ini sudah enggan maju di Pilwali Surabaya. Alasannya? Saya lebih baik tidak menuliskannya sendiri. Jika penasaran, bisa ditanyakan langsung ke Bang Awey.

Arzeti Bilbina dan Fandi Utomo, keduanya adalah bagian dari PKB dan santer disebut dalam pusaran Pilwali Surabaya. Hanya saja, isu terkait mereka berdua sangat berbeda. Kenapa? Ceritanya menarik.

Arzeti Bilbina, dua periode menjabat anggota DPR RI perolehan suaranya sangat oke, kemampuan basis massa tak perlu diragukan lagi. Nama wanita yang sebelumnya malang melintang di dunia hiburan ini pun sempat santer bakal menjadi pendamping bagi Machfud Arifin (karena PKB masih ada di gerbong koalisi besar). Arzeti pun, setiap ditanya soal Pilwali selalu memberikan jawaban diplomatis (bak sinyal malu tapi mau).

Tetapi, terbaru, saya mendengar dua versi terkait kelanjutan nasib Arzeti. Pertama, Arzeti sudah menyampaikan keengganannya maju di Pilwali Surabaya. Kedua, ada pihak-pihak di DPP yang tidak ingin Arzeti maju di Pilwali. Entah apa alasannya.

Bagaimana dengan Fandi Utomo? Politisi kawakan ini punya pengalaman maju di Pilwali Surabaya 2010 melawan Wali Kota Risma. Pada masa itu, pria yang akrab disapa FU ini berhasil menyatukan PKS, PPP, PDS, dan PKNU. Padahal statusnya saat itu adalah Sekretaris DPD Demokrat Jawa Timur dan partainya mendukung Arif Afandi. Lebih menarik lagi, FU tidak dipecat oleh Partai Demokrat. Buktinya, pada 2014 dirinya melenggang ke Senayan melalui partai berlogo mercy itu. Meski di pertengahan jalan harus mengalawi PAW.

Di 2019, FU memilih maju Pileg lewat PKB. Tagline “PKB Menang, FU Wali Kota Surabaya” waktu itu begitu fenomenal. Alhasil, hingga kini dukungan untuk Fandi Utomo terkait Pilwali Surabaya terus mengalir. Meski gagal kembali melenggang ke Senayan lagi, namun FU disebut meraih suara terbanyak di antara Caleg DPR RI PKB di Surabaya.

Hanya saja, usai keriuhan Pileg, Fandi Utomo nampaknya memilih jalan sunyi meski dukungan terus berdatangan. Informasi terakhir adalah dirinya mendaftar ikut berkompetisi di Pilwali Surabaya lewat PDIP. Misterinya, tidak jelas apakah Ia mendaftar untuk Calon Wali Kota atau Wakil Wali Kota.

Harap sabar, jangan berhenti membaca dulu, kurang tiga nama lagi. Dan saya jamin, semuanya menarik.

Andy Budiman, jagoan dari PSI. Partai baru, penuh dengan semangat millenials, PSI melejit mendapatkan 4 kursi (seingat saya nyaris 5 kursi, kurang sedikit waktu itu untuk kursi ke-5). Dengan perolehan moncer, tentunya sudah pasti PSI menjadi faktor di Pilwali Surabaya.

Lama ditunggu, sedikit agak lama dibandingkan partai lainnya, PSI akhirnya memutuskan jika Andy Budiman adalah pemenang konvensi yang mereka lakukan (mengalahkan Gus Hans hingga Lia Istifhama yang juga mendaftar). Hanya punya 4 kursi, langkah PSI untuk menawarkan Andy Budiman hingga kini juga belum jelas.

Di sisi lain, baliho Andy Budiman saat ini sudah tersebar di berbagai penjuru Kota Surabaya dengan jargon “Alternatif Baru Surabaya”. Sayangnya, meski kemarin juga maju di Pileg 2019, gagasan dari politisi muda ini masih belum terlihat di tataran.

Anugrah Ariyadi, kader PDIP tulen dan Wakil Ketua Komisi B DPRD Surabaya 2014-2019. Namanya mendadak hilang di daftar caleg PDIP di Pileg 2019. Waktu itu informasinya adalah karena Ia bakal dapat tugas lain. Bisa jadi tugas itu berkaitan dengan Pilwali Surabaya, bisa jadi. (Meski saya dapat cerita utuh langsung dari yang bersangkutan di balik kejadian heboh ini, saya memilih jika lebih baik tidak saya tulis).

Mendaftar sebagai Calon Wakil Wali Kota ke PDIP, Anugrah secara lantang dan terbuka telah mendeklarasikan diri siap mendukung Whisnu Sakti Buana menjadi Wali Kota Surabaya. Pria berlatarbelakang pengacara ini, meski tak lagi menjadi anggota DPRD Surabaya, masih sering menerima keluhan masyarakat dan memperjuangkannya. Ia pun masih aktif melayani masyarakat Surabaya dengan ambulance hasil nyicil dari gaji anggota DPRD Surabaya selama masa jabatannya dulu (bahkan tak jarang Ia langsung menjadi pengemudi ambulance itu).

Kini, kediaman pribadi Anugrah di Gubeng Surabaya telah disulap menjadi posko pemenangan. Uniknya, bukan posko pemenangan dirinya. Melainkan, untuk Whisnu Sakti Buana sebagai Calon Wali Kota Surabaya.

Nama terakhir, Mujiaman Sukirno. Direktur PDAM Surabaya. Santer disebut punya keinginan maju Pilwali Surabaya, akhirnya bukti nyata pun terpampang. Mujiaman berada di atas panggung perayaan Harlah PKB di Surabaya bersama dengan elite PKB Surabaya dan juga Machfud Arifin.

Uniknya, PKB mengaku tidak secara formal menyodorkan nama Mujiaman, tapi Ketua PKB Surabaya Musyafak Rouf mengatakan jika semuanya mungkin. Terlebih lagi, jika MA berkenan dengan sosok Mujiaman. Sebuah manuver yang ciamik soro.

Jawaban Mujiaman sendiri tak kalah seru. Ada baiknya jika saya tulis saja kutipan langsung dari pernyataannya.

“Saya tidak tahu garis tangan saya nanti bagaimana. Saya hanya mengikuti petunjuk Allah SWT. Yang jelas saya terbiasa untuk bekerja keras dimana pun saya ditempatkan bekerja. Itu sudah kodrat saya”.(ifw/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar