Sorotan

4 Nama di Klasemen Papan Atas Bursa

Peta Politik Pilwali Surabaya 2020 (1)

Ibnu F Wibowo

Pilwali Surabaya bakal digelar tanggal 9 Desember 2020 nanti. Sempat diundur memang dari yang seharusnya digelar di Bulan September. Ibarat kata film kartun zaman saya kecil, pandemi ini bak Negara Api yang membuat kacau balau tatanan. Termasuk membuat kondisi jelang Pilwali Surabaya menjadi lebih susah dibaca.

Lantas bagaimana kondisi jelang Pilwali Surabaya hingga hari ini, Jumat (31/7/2020)? Berdasarkan dari keseharian saya berada di tengah-tengah pusaran politik Kota Surabaya untuk meliput pemberitaan, ada sejumlah nama yang berada di bursa Calon Wali Kota maupun Calon Wakil Wali Kota. Layaknya Liga Inggris atau liga-liga lainnya, peta bursa Pilwali Surabaya juga bisa diklasifikan bak klasemen jelang laga penentu. Bagaimana kondisinya?

1. Papan Atas
Di kelompok ini, kalau di Liga Inggris biasanya adalah klub-klub yang akan melenggang ke Liga Champions. Bagaimana dengan para papan atas klasemen Bursa Pilwali Surabaya?

Ada 4 nama yang beredar di klasemen Papan Atas Bursa Pilwali Surabaya. Mereka kemudian harus dibagi lagi menjadi dua kelompok. Bukan saya yang membagi, melainkan terbagi secara alami seiring semakin dekatnya pesta demokrasi untuk mencari suksesor Wali Kota Risma itu.

Pertama, Kelompok Bakal Calon Wali Kota. Ada dua nama di sini. Sudah jelas, keduanya adalah Irjen Pol (Purn) Machfud Arifin dan Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana. Sayangnya, meski hanya ada dua nama, belum terlihat siapa yang lebih unggul. Kalau di Liga Inggris, kedua orang ini memiliki poin yang terus saling berkejaran.

Machfud Arifin, saat ini didukung oleh PKB-Gerindra-Golkar-PKS-Demokrat-NasDem-PAN-PPP, terus gencar melakukan pertemuan dengan warga Surabaya di kantong-kantong pendukung partai politik yang sudah merapat ke gerbongnya. Terpampang nyata, popularitas dan likeability (indeks kesukaan warga yang bisa menjadi penentu pilihan akhir) pria yang pernah menjadi Kapolda Jatim mulai berkibar tinggi.

Bagaimana dengan elektabilitasnya? Ada baiknya jika berkaitan dengan Pemilihan Serentak, elektabilitas mulai dihitung dan dijadikan pertimbangan jika seorang calon telah memiliki pasangan. Pasalnya, seorang peneliti sosial (mohon maaf, saya lupa siapa yang pernah memberi tahu saya hal ini. Bisa Pak Mochtar dari SSC atau Pak Suko Widodo. Sekali lagi mohon maaf), mengatakan jika pasangan dari seorang calon Kepala Daerah bisa menaikkan atau menurunkan elektabilitas. Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah adalah satu paket.

Memiliki popularitas dan likeability yang sedang berkibar, kemudian didukung oleh gerbong koalisi besar, apakah lantas posisi Machfud Arifin bakal aman di posisi Papan Atas Bursa Pilwali Surabaya? Belum tentu adalah hasil analisa berdasarkan pantauan saya selama ini. Memiliki koalisi besar memang menyenangkan, tapi juga bukan berarti aman. Jika salah memilih Calon Wakil Wali Kota, bukan tidak mungkin akan ada partai pendukung yang memilih untuk turun dari gerbong koalisi. Karena, politik itu selalu dinamis. Sampai penutupan batas akhir pendaftaran pasangan calon, semuanya masih mungkin terjadi. Oh iya satu lagi, rekomendasi dari DPP Partai sebagai syarat dukungan ke KPU selalu berisi dua nama: Calon Kepala Daerah dan Calon Wakil Kepala Daerah.

Whisnu Sakti Buana, putra dari Soetjipto Soedjono yang merupakan inisiator dan motor yang membidani lahirnya gerakan PDI-Perjuangan bersama Megawati Soekarnoputri. WS, demikian Ia akrab disapa, juga hampir dua periode penuh (setelah menggantikan Bambang DH yang maju di Pilgub Jatim) mendampingi Wali Kota Risma dan segala capaian berhasilnya membangun Surabaya.

Sebagai Wakil Wali Kota, Whisnu sudah sejak lama (mungkin bahkan sejak ketika Ia masih merupakan Wakil Ketua DPRD) sangat rajin turun ke tengah-tengah masyarakat dan bertemu langsung untuk mendengar keluhan mereka dan kemudian langsung mencari solusi bersama jajaran Pemerintah Kota. Terbaru, Ia berhasil memperjuangkan aspirasi para pengurus Kampung Tangguh di Surabaya sehingga dana stimulan sebesar 10 juta per Kampung Tangguh kini tinggal menunggu dicairkan saja.

Dari latar belakang partai, sudah sejak era awal Reformasi PDIP menjadi partai penguasa di Surabaya. Paling tidak, sejak medio 2000-an, Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah di Surabaya selalu merupakan representasi dari partai berlogo moncong banteng ini.

Kebesaran PDIP di Surabaya juga sudah terpampang nyata tatkala PKB dan Partai Demokrat berhasil menguasai kursi di DPRD Surabaya. Di masa itu, Wali Kota dan Wakil Wali Kota tetap dari PDIP.

Putra dari tokoh besar, namanya begitu kuat di barisan akar rumput, berasal dari partai penguasa di Surabaya. Apakah dengan segala keunggulan itu Whisnu Sakti Buana juga bakal aman di papan atas Bursa Pilwali Surabaya? Sekali lagi, sayangnya, saya harus menjawab belum tentu. Hingga saya membuat tulisan ini, Ketua Umum PDIP yang memiliki hak prerogatif belum menerbitkan rekom partai terkait Pilwali Surabaya.

Meski demikian, di awal Bulan Juli, angin segar sempat berhembus untuk Whisnu Sakti. Sempat santer beredar kabar jika dirinya sudah pasti mendapatkan slot untuk Calon Wali Kota. Tinggal menunggu untuk Calon Wakil Wali Kota. Benarkah demikian? Ditunggu dulu saja, saya pun juga ikut duduk tenang menunggu karena penasaran.

Dua nama di atas adalah bagian dari Kelompok Bakal Calon Wali Kota di Papan Atas Bursa Pilwali Surabaya. Seperti yang saya bilang di awal, ada dua kelompok di papan atas bursa.

Kedua, Kelompok Bakal Calon Wakil Wali Kota. Dari sekian banyak nama yang beredar untuk Bakal Calon Wakil Wali Kota, hanya ada dua nama yang berada di papan atas. Keduanya adalah Eri Cahyadi dan KH Zahrul Azhar As’ad atau yang lebih terkenal dengan sebutan Gus Hans. Menariknya, meski ada dua nama di masing-masing kelompok, belum ada afiliasi khusus antara Bakal Calon Wakil Wali Kota dengan Bakal Calon Wali Kota tertentu.

Eri Cahyadi, sering disebut sebagai anak emas Wali Kota Risma, di awal bursa Pilwali Surabaya bergulir Ia santer diisukan bakal maju sebagai Calon Wali Kota. Mengikuti jejak langkah Wali Kota Risma. Bahkan, saat ini Eri pun merupakan Kepala Bappeko Surabaya. Jabatan yang diemban Risma jelang dirinya maju di Pilwali Surabaya 2009.

Tapi lambat laun, puncaknya adalah ketika muncul kabar rekom PDIP untuk Calon Wali Kota Surabaya jatuh ke tangan Whisnu Sakti, para pendukung Eri Cahyadi tampaknya melakukan lobi-lobi agar birokrat muda berkarir moncer ini bisa menjadi Calon Wakil Wali Kota. Dalam porsinya sebagai Kepala Bappeko juga sering bertemu dengan masyarakat untuk melakukan dialog langsung. Meski demikian, akibat dampak pandemi, belum terlihat berapa kuat popularitas dan likeability dari sosok yang baliho dan spanduk bergambar foto dirinya dan Wali Kota Risma sudah tersebar di banyak sudut Kota Surabaya ini.

Berkarir moncer sebagai ASN, disebut sebagai anak emas Wali Kota Risma yang juga berlatarbelakang Birokrat serta kini menjadi pengurus DPP PDIP apakah lantas secara otomatis mengasosiasikan Eri dengan PDIP? Jawaban saya adalah tidak. Pasalnya beberapa waktu lalu tersebar foto Machfud Arifin bersama Eri Cahyadi. Foto ini berupa pas foto layaknya gambar di dalam kertas suara.

Di papan atas, Eri masih bisa disandingkan dengan kubu PDIP maupun dengan gerbong koalisi besar yang hingga saat ini siap menggempur partai pemenang. Di sisi lain, dalam beberapa kali kesempatan Eri mengatakan dirinya masih ingin fokus menjadi birokrat ASN Pemkot Surabaya dan tidak ingin maju di Pilwali.

Gus Hans (beberapa media memang lebih sering hanya menuliskan panggilan akrab sang Kiai muda ketimbang nama lengkapnya yang jarang orang tahu), namanya langsung merangsek di bursa Pilwali Surabaya sejak awal kemenangan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Pilgub Jatim 2018. Maklum saja, Ia adalah jubir Khofifah selama kampanye. Secara politis pun koordinasi antara Pemprov Jatim dan Pemkot Surabaya yang selama ini kurang berjalan akan jauh lebih lancar jika orang dekat Khofifah lah yang menjadi Wali Kota, atau paling tidak Wakil Wali Kota.

Pengasuh Ponpes Queen Al Azhar Darul Ulum Jombang ini juga merupakan Wakil Ketua DPD I Partai Golkar Jawa Timur. Jangan lupa, Golkar saat ini berada di gerbong koalisi besar Machfud Arifin. Dalam proses penjaringan Bakal Calon Kepala Daerah yang dibuka oleh beberapa partai pun Gus Hans nampak ikut mendaftar di partai anggota koalisi besar lainnya. Sebut saja Gerindra dan NasDem (meskipun dengan NasDem belakangan muncul gesekan dengannya).

Jarang muncul, baik lewat baliho maupun media massa lainnya, bukan berarti Gus Hans hanya diam berpangku tangan mengandalkan skema nasionalis-religius yang sering ampuh di beberapa pemilihan serentak. Ia sering berada berdiskusi bersama kader akar rumput di acara-acara partai. Khususnya Golkar, tempat Ia bernaung.

Dengan fakta-fakta di atas, apakah Gus Hans berbeda dengan Eri Cahyadi yang masih luwes dan bisa disandingkan dengan siapa saja? Tentunya juga tidak. Meski berlatarbelakang Golkar, Gus Hans kini juga telah menjalin hubungan dengan Hasto Kristanto yang merupakan Sekjen PDIP. Sebuah sinyal jika dirinya juga siap apabila PDIP memintanya menjadi Calon Wakil Wali Kota. Tentunya, harapan dari Gus Hans juga berkaitan dengan skema Nasionalis-Religius itu tadi.

Di sisi lain, berbeda dengan para tokoh yang ada di Bursa Pilwali Surabaya (baik di papan atas yang sudah saya bahas maupun lainnya yang belum), Gus Hans hingga kini masih berjuang agar pemilihan serentah ditunda. Kondisi pandemi menjadi salah satu alasan utama dari argumen Gus Hans. Ia tidak ingin, pesta demokrasi menjadi kluster penyebaran baru untuk Surabaya yang pernah menjadi zona hitam, eh merah tua. [ifw/but]






Apa Reaksi Anda?

Komentar