Tiga gol Madura United pada Pekan 12 Liga 1 2023-24 menorehkan catatan negatif di awal perjalanan Josep Gombau Balague sebagai pelatih Persebaya Surabaya. Madura United yang saat ini memuncaki klasemen menang 3-0 di Stadion Gelora Bangkalan, Minggu (17/9/2023) sore.
Gol pertama dicetak Hugo Gomes dos Santos Silva melalui titik putih pada menit 4. Wasit Armyn Dwi memberikan hadiah tendangan penalti untuk United, setelah bek Persebaya Dusan Stevanovic melanggar Fransisco Rivera.
Persebaya tidak mudah didominasi United. Namun striker asal Brasil Paulo Victor tidak bisa berbuat banyak menghadapi Cleberson dan Fachrudin Aryanto di tembok pertahanan United. Memasuki kotak penalti United, para pemain Persebaya seperti kehilangan akal.
Bencana terjadi pada menit 30, setelah kiper Andhika Ramadhani harus keluar karena cedera dan digantikan penjaga gawang berusia 20 tahun, Aditya Arya Nugraha. Tidak pernah mendapat menit bermain selama ini, ia bertanding di sebuah pertandingan tandang dengan tekanan berat dari para penyerang United.
Gol kedua yang dicetak dari jarak jauh oleh Luiz Marcelo Morais dos Reis pada menit 48 mempertebal dominasi United. Gol ketiga United berawal dari kesalahan Aditya yang salah menyapu bola. Bola jatuh di kaki Malik Risaldi dan menjadi awal gol dengan tendangan setengah voli Junior Brandao pada menit 83.
Hasil yang mengecewakan. Namun tentu saja hasil ini tidak bisa digunakan untuk menghakimi kualitas Gombau. Dia baru dikontrak dua hari sebelum pertandingan. Tidak ada pelatih di dunia ini yang bisa berbuat banyak hanya dalam waktu dua hari. Apalagi Gambau adalah nama baru dalam sepak bola Indonesia.
Manajemen Persebaya adalah pihak yang paling patut disalahkan karena terlalu lama mencari pelatih tetap untuk menggantikan Uston Nawawi. Bukannya segera bergerak, manajemen Persebaya justru melayangkan surat ke PSSI untuk meminta dispensasi tetap memasang Uston sebagai pelatih sementara, kendati tak memiliki lisensi kepelatihan sesuai aturan Liga 1. Jika ini sebuah cara untuk ‘buying time’, alangkah mubazirnya.
Rekam jejak Gombau sendiri cukup menggiurkan. Pria kelahiran Spanyol, 5 Juni 1976 ini, mengawali karirnya sebagai pelatih CF Amposta yunior. Amposta adalah sebuah kota kecil dengan jumlah penduduk 20 ribu orang di selatan Barcelona.
Karir kepelatihannya berlanjut ke Espanyol yunior. Real Club Deportiu Espanyol de Barcelona, S.A.D. adalah klub La Liga yang bermarkas di Barcelona. Di sana, ia menjadi pencari bakat pada 2001-2002 dan direktur teknik pada 2002-2003.
Kerja apik Gombau membuat klub rival Espanyol, Barcelona, tertarik. Dia menjadi pemandu bakat dan sempat menjadi asisten pelatih akademi Barcelona.
Dari tanah Spanyol, Gombau meluncur ke Hongkong dan menjadi pelatih kepala klub Kitchee pada 2009-2013. Di sana ia membawa Kitchee menjuarai dua trofi loga, dua Piala FA, dan satu Piala Liga.
Tak puas di Kitchee, Gombau terbang ke Australia dan menjadi pelatih Adelaide United pada 2013-2015. Dia kemudian diangkat menjadi pelatih kepala Australia U23 pada 2016-2017. Setahun di tim nasional yunior, Gombau kemudian menjadi pelatih Western Sydney Wanderers. Namun karir kepelatihannya hanya berusia enam bulan setelah gagal membawa Wanderers lolos A League Final Series musim 2017-18.
Merasa cukup di Australia, Gombau merantau ke India dan menjadi pelatih Delhi Dynamos yang belakangan berganti nama menjadi Odisha FC pada 2018-2020 dan 2022-2023. Lepas dari Delhi Dynamos, ia melatih Queensboro pada 2020-2022.
Apa yang bisa diharapkan dari Gombau? Transfermarkt menyebut Gambau senang menggunakan pola menyerang 4-3-3, formasi yang biasa digunakan Barcelona. Bonek antusias menyambut kehadiran Gombau dan berharap dia bisa membuat Persebaya bermain layaknya Barcelona.
Dalam website Athletes Voice, Gombau mengaku sangat terpengaruh filosofi bermain Johan Cruyff yang menukangi Barcelona. “Cruyff membawa gaya penguasaan bola, sepak bola menyerang, tiki-taka. Saat menjadi pelatih di sistem pemain muda Barcelona, saya tumbuh dalam filosofi ini. Saya belajar bagaimana beradaptasi dan bekerja dengan gaya ini,” katanya.
Namun filosofi Gombau berkembang dalam pengembaraannya di Hongkong, India, dan Australia. “Saya belajar banyak dari Ange Postecoglou,” katanya.
Ange Postecoglou pernah menjadi pelatih tim nasional Australia di Piala Dunia 2014. Kini ia melatih Tottenham Hotspur dan menjadikan Spurs tak terkalahkan dalam lima pekan awal Liga Inggris 2023-24.
Gombau mengagumi nyali Postecoglou. “Mau melawan Chile atau Jerman, dan sejumlah tim terbaik dunia, dia tidak gentar,” katanya.
Namun tentu saja, Gombau datang tak hanya dengan asa tiki-taka. Pengalamannya menjadi juara di Hongkong dan Australia diharapkan mengubah Persebaya dari tim yang tengah galau karena pergantian pelatih di tengah musim kompetisi menjadi pemuncak Liga 1.
Catatan panjang Gombau dalam pembinaan pemain muda di Spanyol diharapkan sesuai dengan ekosistem Persebaya, yang selama ini mengandalkan pemain-pemain muda hasil binaan sendiri. Dan tentu sekali lagi semua pendukung Persebaya harus bersabar dan tak mengharapkan hasil instan. Namun kehadiran Gombau setidaknya bisa menjadi awal baik untuk kembali menyalakan api optimisme pada awal musim yang pelan-pelan meredup dan terancam padam. [wir]






