Lamongan (beritajatim.com) – Situs Jetis bakal jadi pusat studi kebudayan Lamongan. Itu sebagai tindak lanjut dari rekomendasi Badan Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI.
Bupati Lamongan Yuhronur Efendi menerima hasil survei penyelamatan struktur batu putih di Situs Jetis dari BPK Wiayah XI di ruang kerjanya, Komplek Pendopo Lokatantra, Selasa (27/6/2023).
Situs Jetis yang baru saja selesai diekskavasi tersebut diinterpretasikan oleh BPK Wilayah XI sebagai batur atau kaki candi. Proses ekskavasi arkeologis berlangsung selama 5 hari, mulai 23 sampai dengan 27 Juni 2023.
Sementara survei penyelamatan melalui ekskavasi ini merupakan tindak lanjut dari peninjauan yang dilakukan sejak 2018 dan penanganan temuan objek diduga cagar budaya di Kelurahan Jetis pada 8 Desember 2022 lalu.
“Terima kasih kepada BPK XI yang sudah koordinasi terkait temuan di bidang kebudayaan. Situs Jetis atau situs Mbah Pendem saat ini diinterpretasikan sebagai kaki candi dengan keunikan tersendiri terutama dari segi bahan,” ungkap Yuhronur.
“Ke depan Situs Jetis akan kita jadikan sebagai pusat studi Lamongan yang berkaitan dengan kejayaan Majapahit dan Singhasari masa lampau, karena di dalamnya mengandung nilai penting sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan,” imbuhnya.
Baca Juga:
Pelestarian Situs Jetis Lamongan, BPK Wilayah XI Sampaikan 4 Rekomendasi
Dalam kesempatan yang sama, Arkeolog BPK Wilayah XI yang juga tak itu secara arsitektural merupakan bagian dari batur atau kaki candi yang berdenah persegi dengan ukuran 12,5 × 12,5 meter.
“Situs Jetis berupa kaki candi ini akan terus kita gali karena memiliki potensi cagar budaya. Selanjutnya hasil dari survei penyelamatan ini akan digunakan sebagai bahan rekomendasi pelestarian lebih lanjut,” terang Ikhwan.
Ikhwan menjelaskan bahwa Situs Jetis ini terbilang memenuhi kriteria cagar budaya sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Ketentuan Cagar Budaya itu meliputi usia lebih dari 50 tahun, mewakili masa gaya paling singkat 50 tahun, memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan, serta memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.
Lebih rinci, Ikhwan menuturkan, Situs Jetis memiliki nilai penting sejarah yang masih berkaitan dengan periode klasik di Indonesia. Situs ini juga menjadi bukti penting tentang perkembangan sejarah kebudayaan pada masa Hindu-Buddha.
Baca Juga:
Pelestarian Situs Jetis Lamongan, BPK Wilayah XI Sampaikan 4 Rekomendasi
Dari segi ilmu pengetahuan, menurut Ikhwan, Situs Jetis juga memiliki potensi untuk diteliti lebih lanjut dalam rangka menjawab masalah dalam bidang ilmu arkeologi, antropologi, sosial, agama, seni, arsitek dan lainnya.
Sedangkan dari segi pendidikan, Situs Jetis dapat digunakan sebagai bahan edukasi kepada pelajar. Begitu pun dari segi agama, keberadaan situs ini sangat mewakili agama Hindu dan Buddha. Serta dari nilai kebudayaannya yang dapat mewakili identitas masyarakat Lamongan.
“Struktur bangunan Situs Jetis yang berbahan batu putih ini sangat langka sebagai bahan dasar candi. Sampai saat ini baru ditemukan di Situs Jetis dan di Candi Patakan,” beber Ikhwan. [riq/beq]






