Mojokerto (beritajatim.com) – Kasus mengejutkan terjadi di dunia pendidikan Kota Mojokerto. Seorang siswi kelas 10 di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) terpaksa keluar setelah diketahui melahirkan pada Jumat (12/9/2025). Hal tersebut dibenarkan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten dan Kota Mojokerto.
Kepala Seksi (Kasi) SMK Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten dan Kota Mojokerto, Eko Heri Prihartono, menegaskan aturan sekolah tetap berlaku tanpa pengecualian. Pihaknya sudah menerima laporan dari sekolah terkait keputusan pengunduran diri siswi berinisial LG tersebut.
“Itu kewenangan sekolah tapi sudah ada pemberitahuan dari sekolah (yang bersangkutan keluar). Tapi kalau memang hamil ya harus tetap dikeluarkan karena aturannya memang seperti itu. Tidak ada dispensasi, kemungkinan bisa (pendaftaran SPMB tahun berikutnya),” tegas Eko, Rabu (17/9/2025).
Eko menjelaskan, siswi yang dikeluarkan masih memiliki kesempatan mendaftar kembali pada tahun ajaran berikutnya. Kasus ini sekaligus menjadi bahan evaluasi dalam proses penerimaan peserta didik baru. Selama ini, tes kesehatan saat Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) hanya meliputi buta huruf, buta warna, tinggi badan, serta surat keterangan sehat dari dokter.
“Kemungkinan bisa kalau tahun ajaran baru berikutnya yang bersangkutan mendaftar sekolah lagi. Kita juga mengantisipasi berita-berita negatif. Setiap ada pendaftaran SPMB memang ada tes kesehatan, tapi tidak sejauh itu. Dengan kejadian ini kemungkinan pendaftaran tahun berikutnya tes kesehatannya lebih lengkap lagi,” imbuhnya.
Menurut Eko, mulai tahun ajaran 2026/2027 pemeriksaan kesehatan calon peserta didik akan diperluas sebagai langkah antisipasi agar kejadian serupa tidak terulang di Mojokerto.
Sebelumnya, kasus LG sempat membuat pihak sekolah dan keluarga terkejut. Siswi yang baru dua bulan bersekolah di SMK tersebut diketahui sudah hamil sejak masih duduk di bangku SMP. Ia melahirkan di rumah sebelum akhirnya dibawa ke rumah sakit.
Atas permintaan keluarga, LG resmi mengundurkan diri dari sekolah. “Iya mengundurkan diri. Selama dua bulan, tidak ada ciri-ciri yang terlihat. Dia melahirkan di rumah lalu dibawa ke rumah sakit,” ujar Kepala Sekolah (Kepsek) SMK yang bersangkutan, AM. [tin/beq]






