Malang (beritajatim.com) – Penetapan Kota Malang sebagai Kota Kreatif Media Arts oleh UNESCO disambut dengan langkah strategis oleh Universitas Brawijaya (UB). Kampus ternama ini menyatakan komitmen penuh untuk menjadi motor penggerak ekosistem tersebut melalui tiga pilar utama: penguatan akademik, ekspansi jejaring internasional, dan inovasi teknologi kecerdasan buatan (AI).
Langkah ini diambil sebagai bentuk respons dan tanggung jawab bersama atas status bergengsi yang baru diraih Kota Malang. Rektor UB, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., menegaskan bahwa status dari UNESCO ini bukan sekadar penghargaan, melainkan sebuah mandat kolektif bagi seluruh elemen kota.
“Universitas Brawijaya melihat status baru Kota Malang sebagai UNESCO Creative City of Media Arts bukan sekadar pengakuan, tetapi juga tanggung jawab,” ujar Prof. Widodo di Malang kepada beritajatim.com, (5/11/2025).
Ia memposisikan UB sebagai pusat riset, pengetahuan, dan inovasi yang akan menjembatani antara seni, teknologi, dan masyarakat agar dapat berjalan beriringan.
“UB akan berperan aktif sebagai pusat pengetahuan, riset, dan inovasi yang memperkuat karakter kreatif kota ini,” tambahnya.
Selama ini, kolaborasi erat dengan Pemerintah Kota Malang di bidang media arts dan budaya digital telah terjalin. Ini mencakup penelitian, pengabdian masyarakat, dan proyek pelestarian budaya berbasis teknologi.
Salah satu proyek unggulan adalah digitalisasi warisan budaya di kawasan bersejarah Kayutangan dan komoditas kopi lokal. Proyek ini, yang melibatkan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UB, National University of Singapore (NUS), dan Pemkot, mengubah aset lokal menjadi format digital yang mudah diakses.
“Digitalisasi budaya menjadi cara baru untuk mendekatkan masyarakat dengan sejarahnya. Media arts bukan hanya soal estetika, tapi bagaimana teknologi dapat memperkuat pelestarian,” jelas Prof. Widodo.
Penguatan ekosistem ini akan didukung penuh oleh Artificial Intelligence (AI) Center UB. Pusat riset yang diresmikan Menteri Komunikasi dan Digital pada Januari 2025 ini disiapkan sebagai kawah candradimuka untuk pengembangan talenta digital.
Dilengkapi infrastruktur superkomputer dan sistem komputasi performa tinggi, AI Center ini akan fokus pada riset interdisipliner untuk mendukung industri kreatif, seperti: animasi berbasis AI, media generatif (Generative Media), pengolahan data budaya digital.

“Pemanfaatan kecerdasan buatan kini menjadi bagian penting dari ekosistem kreatif. AI membuka peluang bagi pengembangan karya media, desain, hingga layanan kota yang berbasis teknologi,” tegas Rektor.
Langkah Malang menuju panggung dunia ini juga tak lepas dari kontribusi jejaring akademik internasional UB. Kemitraan strategis dengan Peking University menjadi krusial.
Kolaborasi ini melibatkan Prof. Dr. Yong (Hardy) Xiang, pakar kebijakan budaya dan pemegang UNESCO Chair on Creativity and Sustainable Development in Rural Areas.
Dalam kapasitasnya, Prof. Hardy memberikan surat rekomendasi resmi kepada UNESCO yang menyooti kemajuan Malang dalam membangun ekosistem seni media yang inklusif dan berbasis komunitas.
Sekretaris Direktorat Kerjasama UB, P.M. Erza Killian, S.IP., M.IEF., Ph.D., mengungkapkan adanya “tangan dingin” akademisi dari FIB UB yang menjadi motor utama kolaborasi internasional dengan Peking University.
“Dalam dua tahun terakhir, UB melalui FIB dengan dukungan penuh dari Divisi Globalizing membangun jejaring akademik membantu evaluasi proposal pengajuan Malang ke UNESCO,” ungkap Erza.
Hasil kerja sama tersebut diwujudkan dalam reference letter resmi dari Peking University, yang memperkut proposal Malang. Program Baru dan Visi Jangka Panjang
Secara internal, UB telah memiliki fondasi kuat melalui berbagai program studi dan fasilitas pendukung, di antaranya: Fakultas Ilmu Budaya (FIB) memiliki Program Studi Seni Rupa Murni yang berfokus pada eksplorasi visual dan media baru. Fakultas Ilmu Komputer (Filkom) dilengkapi Laboratorium Multimedia untuk produksi animasi, film pendek, dan media interaktif.
Selain itu, ada Fakultas Vokasi mellalui Departemen Industri Kreatif dan Digital, menyiapkan SDM siap kerja di industri kreatif. Dengan modal lebih dari 400 mitra internasional, UB akan segera meluncurkan inisiatif baru. Bekerja sama dengan Peking University, International Workstation in Creativity and Rural Development akan diresmikan pada akhir November ini.
“Melalui program seperti International Workstation, kami ingin memastikan bahwa semangat kreativitas tidak hanya tumbuh di kota, tetapi juga menjangkau wilayah pedesaan,” kata Prof. Widodo.
Ia menutup dengan menegaskan bahwa visi UB, yakni ‘industri berbasis budaya’, sangat sejalan dengan semangat UNESCO. Menurutnya, penetapan ini adalah langkah awal yang harus dijaga dengan konsistensi kolaborasi antara pemerintah, kampus, komunitas, dan industri. [dan/aje]






