Blitar (beritajatim.com) – Gus Iqdam, sosok kiai muda Nahdlatul Ulama (NU) asal Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, belakangan ramai diperbincangkan masyarakat. Video ceramahnya banyak tersebar di berbagai platform media sosial mulai Tik-Tok hingga YouTube Shorts.
Puncaknya adalah Senin (10/7/2023) lalu saat Gus Iqdam memberikan petuah kepada Happy Asmara, yang notabene baru saja ditinggal menikah oleh Denny Caknan.
Masyarakat awam banyak bertanya siapa sosok Gus Iqdam. Kiai muda NU itu memiliki nama lengkap Muhammad Iqdam Kholid.
Gus Iqdam lahir pada 27 September 1994 di Blitar dari pasangan KH. Kholid dan Ny. Hj. Lanratul Farida. Dia merupakan anak terakhir dari empat bersaudara.
Ayahnya meninggal saat usianya masih remaja. Tetapi, hal tersebut tidak membuatnya lantas berhenti mendalami ilmu agama.
BACA JUGA:
Asmara Hancur Sholawat Meluncur, Gus Iqdam Blitar Beri Petuah ke Happy Asmara
Sepeninggal sang ayah, ia memperdalam ilmu agama kepada pamannya, KH. Dliyauddin Azzamzami. Lalu melanjutkan belajar di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Mojo, Kabupaten Kediri.
“Jadi sesuai dengan akte saya, nama saya itu Muhammad Iqdam tapi biasanya saat saya berada di acara di luar, nama itu Muhammad Iqdam Kholid, ditambahi nama Kholid karena itu namanya abah saya,” kata Gus Iqdam.
Gus Iqdam baru mendirikan Majelis Ta’lim Sabilu Taubah yang pada saat itu hanya terdapat tujuh jemaah pada akhir 2018 lalu. Selang beberapa tahun, majelis ta’lim tersebut menjadi sangat fenomenal. Jemaahnya bahkan sudah mencapai ribuan.
Kiai muda NU sengaja memberi nama Majelis Sabilu Taubah yang berarti Jalan Taubat. Hal tersebut karena jemaah di dalamnya tidak hanya terdiri dari orang-orang saleh, alumni pesantren, atau orang yang sudah tidak asing pada ilmu agama. Banyak juga jemaah yang merupakan orang-orang luar bahkan tidak paham agama.
Selain mengasuh Majelis Sabilu Taubah, ternyata Gus Iqdam merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Hikam II di Desa Karanggayam, Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar. Gus Iqdam merupakan keturunan pengasuh Pesantren Mambaul Hikam Mantenan, Udanawu, Kabupaten Blitar.
“Menawi (Kalau) silsilah saya kenapa kok seorang Iqdam itu dipanggil Gus, padahal juga rumahnya di pelosok, saya juga alumni ponpes seperti teman-teman, jadi berawal dari ibu saya. Ibu saya ini adalah anaknya salah satu kiai yang kharismatik, Kyai Zubaidi Abdul Qofur beliau ini Mursid Torikoh,” jelasnya.
BACA JUGA:
Denny Caknan Nikah dengan Bella Bonita, Happy Asmara Ngaji di Gus Iqdam Blitar
Gus Iqdam sengaja memperuntukkan Majelis Sabilu Taubah sebagai tempat mengaji bagi orang-orang berideologi jalanan, marginal, dan selalu berurusan dengan kriminal. Gus Iqdam dengan lembut dan telaten mengajak mereka agar bisa ngaji bersama.
Ia menjelaskan, ngaji merupakan salah satu cara mengatur jiwa, mengolah pikiran, dan ruhani. Ngaji ibarat bensin yang sangat dibutuhkan mobil untuk bisa menggerakkannya. Bagaimana kendaraan bisa bergerak jika tidak ada bensin, seperti itulah bagaimana raga bisa bergerak menjadi baik jika tidak mengaji.
Hadirnya Majelis Sabilu Taubah tersebut sangat digemari dan dinikmati oleh masyarakat. Pembawaan dakwah di dalamnya santai agar suasana menjadi riang gembira dan tidak terkesan formal sehingga jemaah tidak merasa canggung dan bahkan merasa terwadahi sebagai tempat curhat dalam skala besar.
Gus Iqdam merupakan keturunan Suku Jawa yang sekarang menetap dan tinggal di Blitar, Jawa Timur, bersama istri dan anaknya. Selain sibuk untuk berdakwah, ia juga memiliki kesibukan lain sebagai pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Hikam II di Desa Karanggayam.
“Pertama saya ngaji itu, ibu kulo nginceng (ibu saya mengintip), Iqdam iku nglumpukne opo (mengumpulkan kelompok apa), karena yang ngaji itu suwalan, kaosan, mboten wonten sing kopiahan (pakai celana pendek, pakai kaos, tidak ada yang pakai kopiah atau peci), wong 7 akhirnya getok tular. Itu masih 2018 akhir. Setelah itu satu tahun tambah, akhirnya 3 tahun jemaah sekitar 2.500 (jemaah),” tutup Gus Iqdam di kanal YouTube NU Kota Blitar. [owi/beq]






