Jakarta (beritajatim.com) – Konsep belanja yang memadukan hiburan atau shoppertainment diprediksi masih akan menjadi tren utama ekosistem e-commerce hingga 2026.
Seiring itu, pola berjualan melalui video atau video commerce, termasuk live shopping dan video pendek, diyakini tetap mendominasi perilaku belanja konsumen digital.
Head of Research Jakpat, Aska Primardi, menyebut konsumen kini tidak lagi sekadar mencari produk, tetapi juga pengalaman berbelanja yang interaktif dan menghibur.
“Konsumen kini mengharapkan gabungan antara belanja dan hiburan (shoppertainment). Kehadiran video commerce, termasuk live shopping dan video pendek, terus mendominasi ekosistem e-commerce,” ujar Aska.
Berdasarkan survei Jakpat, live shopping terbukti bukan sekadar tren sesaat. Tingkat kesadaran masyarakat terhadap metode belanja ini sudah sangat tinggi sejak akhir 2024. Pada paruh kedua 2024, awareness tercatat mencapai 80 persen dan terus meningkat hingga 85 persen pada paruh pertama 2025.
Tak hanya kesadaran, tingkat kepercayaan konsumen untuk terlibat dalam live shopping juga menunjukkan tren positif. Pada semester pertama 2024, sebanyak 74 persen responden mengaku pernah mengikuti sesi live shopping. Angka tersebut meningkat menjadi 79 persen pada semester kedua 2025.
Meski persentase pembelian mengalami sedikit fluktuasi—dari 46 persen pada paruh awal 2024 menjadi 44 persen di paruh akhir 2025—keterlibatan audiens yang konsisten menegaskan posisi live shopping sebagai kanal favorit konsumen.
“Awareness live shopping meningkat di paruh pertama 2025 dan diikuti juga oleh peningkatan persentase keikutsertaan dalam live shopping,” jelas Aska.
Ia menambahkan, fenomena ini dipicu oleh fragmentasi saluran belanja akibat pesatnya pertumbuhan social commerce. Platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube kini mengintegrasikan fitur belanja, mulai dari live shopping hingga video commerce.
“Konsumen mencari hiburan sambil berbelanja (shoppertainment),” imbuhnya.
Menghadapi 2026
Menatap 2026, Jakpat memprediksi fragmentasi pasar akan semakin kuat. Konsumen diperkirakan terus berpindah antara social commerce, marketplace, hingga kanal Direct-to-Consumer (DTC), tanpa ada satu platform yang benar-benar mendominasi.
“Perilaku shoppertainment telah menjadi kebiasaan yang terbentuk karena social commerce. Konsumen menikmati interaksi dan konten yang berbeda di setiap kanal,” kata Aska.
Kondisi ini akan mendorong penyatuan pengalaman belanja, di mana batas antara marketplace dan social commerce kian kabur. Platform media sosial diprediksi akan memperkuat kemampuan logistik, sementara marketplace akan semakin agresif mengintegrasikan fitur content creation dan live streaming.
“Semua platform berlomba menciptakan super-app commerce, di mana konsumen bisa menemukan produk, berinteraksi, hingga menyelesaikan transaksi termasuk logistik dalam satu aplikasi,” pungkas Aska. (ted)






