Banyuwangi (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terus memperkuat pelayanan sosial bagi warganya dengan menghadirkan shelter khusus bagi Pemerlu Atensi Sosial (PAS). Tempat singgah sementara ini disiapkan sebagai titik awal penanganan kelompok masyarakat rentan sebelum dilakukan pendampingan dan intervensi lanjutan oleh dinas terkait.
“Shelter kita siapkan untuk memberikan layanan yang lebih optimal kepada PAS. Misalnya anak punk, pengamen jalanan, dan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang terjaring razia penertiban. Mereka ditempatkan di shelter ini sambil menunggu dilakukan asessment dan sebelum penanganan lebih lanjut,” ujar Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.
Bupati Ipuk menyampaikan bahwa shelter tersebut diharapkan menjadi sarana strategis dalam memberikan pelayanan yang menyeluruh, baik dari sisi fasilitas maupun proses pembinaan. Menurutnya, shelter menjadi langkah awal agar kelompok PAS tidak lagi hidup di jalanan tanpa arah yang jelas.
“Di shelter ini kita bisa melakukan pembinaan dan intervensi secara menyeluruh sehingga warga PAS tidak akan lagi turun ke jalan untuk mencari nafkah. Kita akan berikan treatment sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya sehingga mereka bisa survive dengan keterampilan yang dimiliki, tanpa turun ke jalanan,” ujar Ipuk.
Kelompok PAS sendiri merupakan bagian dari masyarakat yang memerlukan perhatian dan intervensi sosial secara khusus. Kelompok ini meliputi anak-anak rentan, penyandang disabilitas, lansia terlantar, masyarakat berpenghasilan rendah, korban bencana, serta individu yang memerlukan afirmasi kebijakan sosial.
Menurut Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (Dinsos PPKB) Banyuwangi, Henik Setyorini, shelter ini berfungsi sebagai tempat singgah sementara maksimal selama 3×24 jam. Selanjutnya, para PAS akan dipulangkan ke keluarganya, dikembalikan ke daerah asal, atau dirujuk ke fasilitas kesehatan jiwa jika diperlukan.
Shelter PAS terletak di kompleks Graha Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas di Jalan HOS Cokroaminoto Nomor 99, Kecamatan Banyuwangi. Fasilitasnya cukup lengkap, dengan 12 kamar inap untuk orang terlantar, dua sel khusus untuk ODGJ, asrama bagi anak-anak difabel, serta kantor sekretariat bersama pilar-pilar sosial yang menjadi pusat koordinasi pelayanan sosial.
“Layanan yang kami berikan berupa fasilitasi assessment dan pendampingan. Koordinasi bersama OPD terkait juga kita lakukan untuk tindak lanjut berikutnya,” ujar Henik.
Henik mencontohkan beberapa kasus yang telah ditangani melalui shelter ini. Salah satunya adalah pengamen lansia yang sering terlihat mengenakan kostum gandrung di jalanan kota. Setelah ditampung, Dinsos menghubungi keluarganya dan mengoordinasikan penyaluran bakatnya ke sebuah sanggar seni lokal.
“Begitu juga jika ada anak jalanan yang masih usia sekolah. Kita akan koordinasikan dengan dinas terkait agar anak tersebut bisa bersekolah kembali. Intinya kami ingin memberikan pelayanan yang lebih baik agar permasalahan sosial di Banyuwangi bisa kita tangani bersama,” pungkas Henik.
Shelter PAS di Banyuwangi juga menjadi wujud nyata sinergi antara pemerintah daerah dengan berbagai pemangku kepentingan dalam menangani permasalahan sosial. Kehadirannya menjadi titik awal solusi agar kelompok rentan memiliki masa depan yang lebih baik. [alr/suf]






