Ponorogo (beritajatim.com) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali bergulir di Ponorogo. Setelah sempat mandek dua pekan, dapur MBG kembali mengepul. Administrasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) akhirnya rampung.
Pelaksanaan MBG sempat dihentikan sejak 19 Mei 2025. Kini, program yang jadi andalan gizi anak sekolah itu dilanjutkan. Tanggal 28 Mei 2025 menjadi momen aktifnya kembali distribusi makanan sehat tersebut.
“Sudah mulai kembali, seminggu yang lalu,” kata Komandan Kodim 0802/Ponorogo, Letkol Inf. Dwi Soerjono, saat dikonfirmasi Rabu (4/6/2025).
Program ini dikawal langsung satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG). Jumlah penerima makanan kini mencapai 2.697 siswa. Mereka tersebar di 16 sekolah dari jenjang TK, SD, hingga SMP, termasuk Posyandu.
Namun, program ini tidak lepas dari evaluasi. Sejumlah siswa mulai jenuh dengan menu makanan yang itu-itu saja. Kepala dapur pun diminta mencari solusi agar anak-anak lebih berselera. “Karena beberapa kali banyak ditemukan sisa lauk yang tidak habis. Ya nanti kepala dapur akan berinovasi terkait menu yang disajikan,” kata Letkol Dwi Soerjono.
Meski demikian, perubahan menu tidak bisa sembarangan. Unsur gizi tetap harus dijaga. Setiap piring wajib memenuhi standar gizi seimbang nasional. “Dalam satu piring yang diberikan para siswa harus memenuhi 4 sehat 5 sempurna,” tegasnya.
Pemerintah berharap program MBG terus berjalan lancar. Anak-anak tak sekadar kenyang, tapi juga sehat. Dapur MBG pun dituntut adaptif menghadapi selera generasi baru.
Diberitakan sebelumnya, MBG di Kabupaten Ponorogo mendadak terhenti. Alhasil, ada lebih 2.000 siswa yang biasanya makan siang secara gratis, kini harus membawa bekal makan dari rumah atau membeli makan di kantin.
Komandan Kodim 0802/Ponorogo Letkol Inf Dwi Soerjono mengungkapkan bahwa penghentian, berkaitan dengan perubahan sistem administrasi keuangan oleh pusat. Sehingga dirinya menegaskan bahwa MBG tidak dihentikan, hanya belum aktif karena adanya perubahan.
“Untuk MBG bukan dihentikan, tapi sementara sedang perubahan administrasi. Karena yayasan sedang menyiapkan dengan BGN, virtual account masing-masing dapur,” katanya.
Virtual account ini penting, karena untuk menerima anggaran dari pusat. Dia menceritakan bahwa sebelumnya, dana MBG cair setelah makanan didistribusikan. Kini, skema pembiayaan berubah lebih awal. Anggaran akan dicairkan sebelum proses distribusi dimulai. “Kalau dulu anggaran diterima di belakang, kalau sekarang diterima di depan,” pungkasnya. (end/kun)






