Surabaya (beritajatim.com) – Pernahkah Anda merasakan kejadian yang sepertinya sudah Anda alami sebelumnya? Jika ya, berarti Anda sedang mengalami deja vu.
Melansir Wikipedia, Sabtu (20/8/2021) deja vu alias déjà vu berasal dari Bahasa Prancis yang berarti “sudah pernah melihat”. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang filosofis dan ilmuan asal Prancis, Émile Boirac pada tahun 1876. Banyak teori yang menjelaskan mengapa deja vu dapat terjadi, dari mulai penjelasan ilmiah hingga berbau mistis. Berikut ini beberapa fakta mengenai deja vu yang berhasil kami rangkum:
Hanya Terjadi Sesaat
Rata-rata deja vu hanya terjadi dalam hitungan detik, sekitar 10 hingga 30 detik. Deja vu bisa datang kembali apalagi bagi Anda yang sering mengalami fenomena ini. Namun tidak ada yang bisa tahu kapan dan dimana Anda akan mengalami deja vu berikutnya. Ketika mengalami deja vu pun kebanyakan orang akan tersadar sesaat setelah fenomena deja vu ini selesai.
Keinginan yang Terpendam
Menurut pakar psikolog Sigmund Freud, de javu terjadi karena berhubungan dengan keinginan seseorang yang belum tercapai. Lalu Carl Jung seorang pemuka dalam dunia psikolog menjelaskan bahwa terjadinya de javu berhubungan dengan alam bawah sadar seseorang.
[berita-terkait number=”5″ tag=”pengetahuan-populer”]
Familiar
Sebuah studi tahun 2009 yang diterbitkan dalam jurnal Psychonomic Bulletin & Review menjelaskan bahwa deja vu bisa terjadi jika seseorang merasa berada lingkungan yang mirip dengan yang pernah ia datangi sebelumnya. Penelitian tersebut dilakukan dengan cara menunjukkan gambar-gambar ke responden yang tidak mengenal satu sama lain. Para peneliti menunjukkan potongan gambar-gambar seperti halaman yang memiliki pagar serta ruang ganti. Hasilnya para koresponden merasakan deja vu karena mereka sepertinya pernah melihat gambar-gambar tersebut. Akhirnya para peneliti menarik kesimpulan bahwa de javu hampir sama dengan familiar.
Memory Palsu
Seorang psikolog bernamwa Valerie F. Reyna mengemukakan bahwa deja vu sebenarnya memory palsu atau yang disebut dengan disassosiasi memori. Ketika seseorang mengalami disassosiasi memori otak mereka akan memproses untuk membedakan realitas dari sebuah ingatan. [rsf/bjo]






