Surabaya (beritajatim.com) – Millenial hingga saat ini terus menjadi perbincangan. Banyak penelitian sampai stigma yang melekat pada generasi yang lahir bersama dengan kemajuan teknologi ini.
Hal ini tidak lepas dari demografi di negara kita dimana generasi millenial menjadi salah satu generasi dengan jumlah paling banyak, bersama dengan generasi baby boomer. Salah satu yang menjadi bahan perbincangan adalah mengenai isu kesehatan mental pada milenial.
Generasi ini dianggap mudah terkena depresi. Thomas Curran dan Andrew P. Hill bahkan melakukan penelitian tentang fenomena ini sehingga terungkap fakta menarik.
Penelitian ini dimasukkan dalam jurnal berjudul Psychological Bulletin mendapat kesimpulan jika generasi milenial mudah depresi. Bahkan disebutkan bahwa tingkat depresi, kecemasan, dan pikiran bunuh diri generasi milenial dua kali lebih tinggi dari sepuluh tahun lalu.
Fenomena ini merupakan dampak dari tren di masyarakat yang juga lekat dengan perkembangan media sosial. Selain itu, ada juga faktor teknologi dan ekonomi dan beberapa hal di bawah ini yang menjadi sebab, para milenial menjadi sering depresi.
Kompetisi dan Perfeksionisme di Kalangan Milenial
Inilah yang dilakukan oleh Curran dan Hill. Mereka menyoroti perubahan budaya dan tingkat perfeksionisme mahasiswa dari tahun 1989 hingga 2016 di Amerika, Kanada, dan Inggris. Selain itu, ditemukan jika skala perfeksionisme meningkat selama 27 tahun.
Dari penelitian ini terindikasi jika generasi muda cenderung memiliki tuntutan lebih tinggi terhadap orang lain dan diri mereka sendiri. Bukan hanya itu, ada yang menganggap jika orang lain memiliki tuntutan yang tinggi pada mereka.
Walaupun, tanpa disadari ternyata standar terlampau tinggi pada diri sendiri dan orang lain sehingga berisiko terhadap kesehatan mental generasi milenial.
Apalagi, para pengguna media sosial seringkali menampilkan gaya hidup ideal, pasangan ideal, tubuh, wajah, dan gambaran kesempurnaan sehingga memperparah kondisi mereka. Dari situlah berakibat muncul rasa kompetisi yang berpotensi membuat generasi milenial terdorong mengejar hal yang tak mudah dicapai untuk mencapai kesempurnaan.
Terisolasi Media Sosial
Media sosial bukan sesuatu hal baru untuk generasi milenial. Mereka bahkan fasih menggunakan teknologi. Hal ini dikarenakan teknologi sangat identik dengan generasi milenial khususnya media sosial.
Fungsinya bukan untuk menghibur, media sosial memudahkan generasi milenial mudah terkoneksi dengan teman, keluarga, dan kerabat. Tapi, terkadang penggunaan media sosial yang berlebihan justru membuat pengguna merasa terisolasi dan kesepian.
Berdasarkan dua peneliti dari University of Pittsburgh School of Medicine tentang fenomena ini dari American Journal of Preventive Medicine, mereka mendapatkan hasil bahwa menemukan penggunaan media sosial lebih dari dua jam per hari cenderung membuat mereka terisolasi dibandingkan pemakaian media sosial kurang dari 30 menit per hari. [prd/tur]






