Surabaya (beritajatim.com) – Maria, wanita asal Surabaya menggugat suaminya di Pengadilan Agama Surabaya. Dia tak tahan dengan sikap suami yang lebih mementingkan pekerjaan dari pada menemani hari-harinya. Sang suami tak pernah pulang.
“Yang Mulia, saya kayak hidup serumah sama WiFi. Ada sinyal, tapi gak pernah kelihatan orangnya,” keluh Mutaminah sambil sesekali menghela napas panjang.
Menurut pengakuannya, sang suami, Holmes (32, bukan nama sebenarnya), bekerja sebagai sopir ekspedisi lintas kota. Tapi sejak menikah dua tahun lalu, jumlah malam Doni tidur di rumah bisa dihitung dengan jari.
“Saya tuh istri, bukan patung display. Saya kan butuh ditemenin, bukan cuma dikirimi stiker WA tiap malam,” lanjutnya.
Yang lebih bikin penasaran, Desi mengaku sang suami tetap rajin mengirim uang bulanan—tapi semua serba digital.
“Dia transfer uang lewat aplikasi, kirim belanjaan lewat kurir, bahkan ucapan ulang tahun aja lewat voice note. Lah ini nikah sama manusia atau AI?,” katanya.
Pihak suami, yang hadir mengenakan jaket bertuliskan “Logistik adalah Ibadah”, dia membela diri.
“Saya kerja, Bu. Buat masa depan. Tapi ya kalau dibilang gak pernah pulang, ya mungkin, iya juga sih,” ujar Holmes
Majelis hakim sempat menasihati kedua belah pihak. Tapi karena keduanya sudah sama-sama pasrah dan tak ada anak dalam pernikahan tersebut, proses mediasi pun gagal.
Akhirnya, putusan cerai dijatuhkan dengan berat hati.“Yang namanya rumah tangga itu butuh hadir, bukan sekadar setor nama di kartu keluarga,” ujar hakim sambil mengetuk palu. [uci/but]






