Ngawi (beritajatim.com) – Sepanjang 2,2 kilometer jalan Nasional Ngawi-Mantingan direkonstruksi. Pembongkaran ulang konstruksi jalan itu solusi tanah labil yang membuat jalan arteri itu gampang bergelombang.
Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) masih melakukan perbaikan jalan dan menerapkan sistem buka tutup.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.2 Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) VIII Jawa Timur-Bali Syaiful Fajar mengungkapkan pelaksanaan pembongkaran di sepanjang Ngawi Mantingan sepanjang total 2,2 kilometer jalan perlu dibongkar karena rusak berat.
Rencananya, pembongkaran itu bakal menyentuh empat segmen. Seluruhnya di kawasan Gemarang. Total anggaran Rp 12 miliar untuk memoles jalan yang bakal ramai saat arus mudik tersebut.
”Mulai segmen pertama 460 meter, 400 meter, 860 meter, dan sisanya sampai total Rp 12 miliar. Kali ini rekonstruksi masih terbilang minimal, sehingga kami hanya bisa menyentuh 2,2 kilometer saja,” kata Fajar pada beritajatim.com, Rabu (6/4/2022).

Dia menyebut pengerjaan rekonstruksi tak bisa selesai sebelum menjelang Hari Raya Idul Fitri tahun ini. Sehingga, pihaknya hanya menghentikan pengerjaan sementara dan sudah memberlakukan open traffic guna kelancaran arus mudik dan arus balik lebaran. Pekerjaan bakal dihentikan sementara mulai H-15 lebaran hingga H+7 lebaran.
”Karena proses rekonstruksi ini perlu membongkar. Kemudian ada peletakan lapisan pondasi agregat. Kemudian baru dilakukan pengerasan. Kami ditarget selesai pada November. Jadi, untuk arus mudik dan balik kami hentikan pengerjaan sementara,” kata Fajar.
[berita-terkait number=”4″ tag=”ngawi”]
Namun, dia menjamin ketika sudah memasuki arus mudik, pengguna jalan bisa melewati. Jalan yang dikeruk pun juga sudah diratakan, hanya saja belum dilakukan pengerasan.
”Kami menjamin arus mudik bisa lancar. Sementara saat pengerjaan dihentikan, galian dan alat berat sudah kami bereskan. Kemudian, bakal kami.lanjutkan jika arus balik sudah usai,” katanya.
Dia menyebut total untuk jalan sepanjang Ngawi Mantingan sepanjang 32 kilometer. Total 10 kilometer diantaranya mengalami rusak berat. Total 2,2 kilometer mengalami kerusakan sangat parah sehingga mendapatkan prioritas untuk diperbaiki terlebih dulu. (fiq/ted)






