Jombang (beritajatim.com) – Area persawahan di Desa Jatigedong, Kecamatan Ploso, Jombang, Jawa Timur, menghampar luas. Suroso Wahyudiono (47) berdiri di tepian sawah itu, Kamis (9/9/2021).
Pandangannya lurus ke depan menyapu hamparan lahan tersebut. Sesekali, petani petani asal Jatigedong ini tersenyum sumringah. Itu karena tanaman bawang merah yang ada di lahan miliknya sangat bagus. Bijinya lebih besar dari bawang merah pada umumnya.
Kehadiran Suroso ke sawah tersebut untuk melakukan panen bawah merah. Ya, panen kali sangat berbeda, karena juga dihadiri anggota Komisi IV DPR RI, Ema Ummiyyatul Chusnah atau Ning Ema. Legislator dari PPP (Partai Persatuan Pembangunan) ini juga ikut turun ke sawah.
Bersama para petani, tangan Ning Ema menggenggam tanam tersebut, lalu mengangkatnya ke udara. Dia memamerkan bawang merah yang berbiji besar itu. Gerakan tersebut diikuti para petani. Semua bergembira, karena hasil panen sangat bagus tiada tara.
Suroso mengatakan, bawang merah di lahan miliknya itu menggunakan teknik tanam biji. Hal itu tentu berbeda dengan yang dilakukan petani pada umumnya, yakni menggunakan sistem tanam umbi.
Walhasil, upaya Suroso berbuah manis. Bawang merah yang dipanen berukuran lebih besar dibanding dengan yang menggunakan sistem tanam umbi. “Selain ukuran bawang merah yang lebih besar, nilai jual bawang merah dengan sistem tanam biji juga lebih mahal,” kata Suroso.
Menurutnya, ada selisih Rp ribu per kilogramnya, jika dibanding dengan sistem tanam umbi. “Lebih mahal bawang merah sistem tanam biji,” lanjut Suroso sembari memperlihatkan bawang merah yang dimaksud.
Melihat hasil panen petani yang cukup bagus, Ema Ummiyyatul Chusnah tak henti berucap syukur. Karena hal itu bisa meningkatkan derajat ekonomi para petani. Ning Ema mengatakan, budidaya bawang merah dengan sistem tanam biji di Kabupaten Jombang merupakan terobosan baru.
[berita-terkait number=”5″ tag=”petani”]
Sebab, selama ini para petani melakukan budidaya bawang merah dengan sistem tanam umbi. Dia menyebut, panen bawang merah di lahan milik KWT (Kelompok Wanita Tani) Jatigedong, Kecamatan Ploso itu seluas 5000 meter persegi.
“Alhamdulillah, hasil panen sangat bagus. Harapan kami, budidaya bawang merah menggunakan sistem tanam biji ini bisa dikembangkan ke desa-desa lain di Kabupaten Jombang. Karena apabila dikembangkan bisa memberikan nilai ekonomi tinggi,” ujarnya.
“Ini juga sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah dalam hal ketahanan pangan dan pemulihan ekonomi nasional,” pungkas anggota DPR dari daerah pemilihan (dapil) Jatim VIII (Kab/Kota Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Kab/Kota Madiun) ini. [suf]






