Surabaya (beritajatim.com) – Pagi ini, berita mengenai kematian seniman lukis terkemuka Indonesia, Djoko Pekik, telah menjadi sorotan.
Kabar ini awalnya tersebar melalui pesan berantai di platform WhatsApp dan telah dikonfirmasi oleh budayawan Butet Kartaredjasa.
Menurut keterangan yang diberikan dalam pesan tersebut, Djoko Pekik meninggal dunia dengan tenang pada usia 85 tahun. Dia adalah seorang pelukis ternama yang telah memberikan sumbangsih besar dalam dunia seni lukis Indonesia. Djoko Pekik lahir pada 2 Januari 1937 di Grobogan, Purwodadi, Jawa Tengah.
Salah satu karyanya yang paling dikenal adalah “Berburu Celeng”, sebuah lukisan yang menggambarkan pandangan tentang para pemimpin Indonesia pada era Orde Baru.
Aliran lukis Djoko Pekik cenderung realis-ekspresif dan mengusung nilai-nilai kerakyatan. Selama karirnya, ia telah menggelar beberapa pameran seni yang memukau banyak penggemar seni dan kolektor.
BACA JUGA: Unggah Foto di Yunani, Lisa BLACKPINK Diduga Liburan Bersama Keluarga Kekasih
Berdasarkan informasi dari rekan-rekan seniman lainnya, Djoko Pekik menghembuskan nafas terakhirnya pada pagi hari sekitar pukul 8.00 WIB.
Meninggalnya seniman ini disebabkan oleh faktor usia dan juga kondisinya yang sudah lama menderita sakit. Kematian Djoko Pekik telah meninggalkan duka mendalam di kalangan keluarga dan komunitas seni.
Di tengah rasa duka ini, keluarga Djoko Pekik mengumumkan kepada publik siapa saja yang merasakan kehilangan ini. Sang istri, Christina Tini Purwaningsih, serta anak-anak dan menantu mereka, Petrus Gogor Bangsa, Bernadeta Agus Indri Astuti, Bernadeta Inten Gugut Lateng, Nur Setiawan, FX Nihil Pakuril, Elizabeth Ori Kemarung, AY Laksamana S, Antonius Sengat Cantang, Christina Rully Perwitasari, Fransisca Layung Sore, dan Yunizar Giovani Hasibuan, turut merasakan duka mendalam atas kepergian sang seniman.
Djoko Pekik, dengan karya-karyanya yang menginspirasi dan membangkitkan rasa nasionalisme, akan terus dikenang sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan seni lukis Indonesia. Kehilangannya adalah kehilangan besar bagi dunia seni dan budaya Indonesia. (fyi/nap)






