Sumenep (beritajatim.com) – Kapal Layar Motor (KLM) Kembang Kurma dikabarkan hilang kontak. Peristiwa itu terjadi saat kapal berlayar dari Pulau Sapeken, Sumenep, menuju Pelabuhan Boom, Banyuwangi.
Kasi Humas Polres Sumenep, AKP Widiarti menjelaskan, kapal bertolak dari Sapeken pada Sabtu (16/7/2022). Setelah 3 jam perjalanan, mesin induk kapal tiba-tiba mati.
“Setelah mesin induk mati, KLM Kembang Kurma melanjutkan perjalanan menggunakan mesin bantu. Ternyata 5 jam berikutnya, mesin bantu juga mati,” kata Widiarti, Selasa (19/7/2022).
Setelah dua mesin mati pada Minggu (17/7/2022), KLM Kembang Kurma sempat melanjutkan perjalanan menggunakan layar mengikuti arah angin ke barat menuju Perairan Banyuwangi.
Tiba di Perairan Banyuwangi, kapal yang dinahkodai Abdul Karim dengan 5 ABK itu berusaha mencari sinyal guna meminta bantuan. Sambil menunggu bantuan, kapal terus berlayar mengikuti arah angin.
Tak berselang lama, ABK berhasil menghubungi saudara di Banyuwangi untuk meminta bantuan. Mendengar informasi tersebut, KLM Anugerah 699 yang dinahkodai Saihan langsung bertolak dari Pelabuhan Boom menuju lokasi KLM Kembang Kurma di Perairan Pandean Banyuwangi.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Sumenep”]
“KLM Kembang Kurma akhirnya ditemukan oleh KLM Anugerah 699 pada Senin (18/7/2022). Seluruh kru kapal selamat. Muatan kapal juga bisa diselamatkan,” terang Widiarti.
Pada Senin sore, KLM Kembang Kurma ditarik oleh KLM Anugerah 699 hingga bersandar di Pelabuhan Boom Banyuwangi dengan selamat. “Pagi tadi kapal sudah sandar di Pelabuhan Boom. Nahkoda dan seluruh ABK dalam keadaan selamat. Seluruh muatan juga lengkap,” ujar Widiarti.
Dalam kondisi normal kapal dari Sapeken itu seharusnya sandar di Pelabuhan Boom Banyuwangi pada Minggu sore atau setelah menempuh 20 jam perjalanan laut. Namun karena kendala mesin mati, kapal sempat hilang kontak.
KLM Kembang Kurma tersebut akhirnya memerlukan waktu 35 jam perjalanan laut untuk tiba di Perairan Banyuwangi. [tem/beq]






