Dua gol Carlos Fortes ke gawang Ernando Ari pada menit ke 77 dan 90+4 mengakhiri mimpi Persebaya untuk meraih tiga poin di Stadion Jatidiri Semarang, Minggu (16/7/2023). Persebaya kalah 0-2 dari PSIS. Namun pemain muda Persebaya Brylian Negiehta Dwiki Aldama justru menjadi bahan pembicaraan Bonek di media sosial.
Brylian tidak mencetak gol. Dia justru membuang peluang emas untuk mencetak gol pada babak kedua, setelah bola sundulannya melenceng saat tinggal berhadapan dengan penjaga gawang PSIS Semarang Muhammad Adi Satryo.
Dan kegagalan itu kemudian jadi pangkal perkara yang menjadikannya sasaran hujatan ‘Paido Boys. Dia mengunggah tangkapan foto kalimat hujatan di Twitter: ‘Bry sakjane ibumu ngidam opo, kok main koyok taek’ (Bry, sebenarnya ibumu mengidam apa, kok bermain – maaf – seperti kotoran’).
Brylian meminta agar hujatan apapun terhadapnya tak disangkutkan dengan almarhumah sang ibu. “Saya hanya manusia biasa, tapi jangan pernah bawa-bawa ibu saya yang sudah almarhum. Saya tidak akan permasalahkan hal ini, hanya untuk pembelajaran lebih berhati-hati karena saya hanya mencari nafkah tidak lebih.”
Brylian menambahkan emotikon ‘menangis’ dan simbol cinta berwarna hijau di ujung tulisan.
Dalam kosakata bahasa Jawa, ‘paido‘ dapat diterjemahkan bebas sebagai ‘menyalahkan’ atau ‘memarahi’. Sementara ‘Paido Boys’ bisa diartikan bebas sebagai ‘sekelompok suporter Bonek yang punya tradisi menghujat atau menyalahkan pemain, pelatih, atau bahkan tim jika dipandang performa Persebaya buruk’.
Tidak ada yang tahu asal-muasal dan siapa yang melontarkan istilah ‘Paido Boys‘ pertama kali. Namun ‘Paido Boys‘ sudah dikenal di media sosial dan menjadi bagian dari tradisi percakapan Bonek dan Persebaya.
Sebelum Brylian, Sho Yamamoto sempat menjadi sasaran ‘paido’ setelah gagal mencetak gol ke gawang Persis yang sudah tak terjaga sama sekali. Sorotan terhadap Sho semakin tajam, karena hingga pekan ketiga Liga 1 musim 2023-34 belum juga mencetak gol.
Kerasnya ‘paido‘ terhadap Sho membuat pelatih Persebaya Aji Santoso turun tangan dan meminta suporter tidak memberikan tekanan berlebihan. “Dia tidak ada masalah baik secara pribadi maupun dengan tim,” ungkap Aji, Sabtu (15/7/2023).
Sebelumnya, isu ‘paido‘ sempat diapungkan Manajer Persebaya Yahya Alkatiri. Menurutnya, ada pemain yang keluar dari Persebaya karena kena ‘paido’ berlebihan dari Bonek di media sosial, mulai dari menyerang keluarga hingga mengumpat. “Seolah-olah kalian ini tidak mendukung Persebaya. Malah menghancurkan pemain,” katanya dikutip Tribunnews, Senin (10/7/2023).
Uniknya, kendati sempat dikeluhkan Yahya Alkatiri, Persebaya ternyata mengakui eksistensi tradisi tersebut dengan memproduksi dan menjual kaos bertuliskan ‘Paido Boys‘ lengkap dengan logo klub di lapak Persebaya Store! Suka atau tidak, ini bagian dari kontradiksi relasi tradisi ‘paido‘ dengan Persebaya dan Bonek.
Hujatan terhadap pemain atau tim sepak bola yang tampil jelek oleh pendukung sendiri sebenarnya bukan hanya menimpa Persebaya, namun juga umumnya klub sepak bola di Indonesia. Namun, tradisi ‘paido‘ di Persebaya memiliki sejarah yang lebih keras dan panjang dibandingkan klub sepak bola lain karena karakter dan fanatisme Bonek.
Saat masih bertanding di Gelora 10 Nopember pada era Perserikatan atau kompetisi Liga Indonesia hasil unifikasi Perserikatan dan Galatama, lagu hujatan sering terdengar dari tribun jika Persebaya bermain buruk atau kalah. “Maine koyok taek, maine koyok taek. ho ho ho ho ho…” (Bermainnya seperti – maaf – kotoran, red).
Bahkan, Bonek bisa mendikte pelatih untuk mengganti pemain yang dinilai bermain buruk dengan meneriakkan koor ‘ganti’ berulang-ulang. Jarak antara tribun dengan lapangan di Gelora 10 Nopember yang lebih dekat dan rapat daripada Gelora Bung Tomo membuat teriakan Bonek lebih terdengar di bangku cadangan tim.
‘Paido‘ sempat berujung baku pukul antara sebagian Bonek dan pemain Persebaya pada saat uji coba melawan PS Angkasa, di Lapangan Karanggayam, medio Agustus 2004. Menurut Jawa Pos: ‘Sejak menit-menit awal, pertandingan yang disaksikan sekitar 100 penonton itu memang berlangsung panas. Anehnya, suporter tidak mendukung Persebaya seperti biasanya. Mereka malah mengolok-olok pemain Green Force dengan kata-kata kotor’.
‘Puncaknya, sesaat setelah pertandingan uji coba berakhir, beberapa pemain Persebaya dan penonton tiba-tiba terlibat adu jotos. Saat itu, Pace (Khairil Anwar Ohorella) tidak langsung keluar lapangan. Dia mendekat ke tribun penonton sebelah barat, Pace lalu memperingatkan penonton agar tidak mengucapkan kata-kata kotor lagi’.
Insiden ini memicu kemarahan pemain Persebaya. “Kalau begini terus tidak usah ada suporter sekalian,” demikian pernyataan beberapa pemain. Jawa Pos melaporkan, hampir semua pemain telihat tertekan dan ‘khawatir menjadi sasaran amuk massa jika tidak mampu memuaskan ambisi suporter Persebaya’.
Tradisi ‘paido’ sebenarnya adalah kontradiksi wajah Bonek dan Persebaya. Tradisi ini bertabrakan dengan slogan ‘Kalah Kudukung, Menang Kusanjung‘ sebagaimana tertulis pada sebuah spanduk raksasa berwarna hijau.
Di satu sisi, publik mengakui fanatisme mereka terhadap Persebaya. Aksi-aksi Bonek memperjuangkan eksistensi Persebaya agar tetap hidup dan diakui PSSI sepanjang 2013-2016 adalah bukti sejarah tak terbantahkan.
Namun di sisi yang lain, ekspektasi Bonek yang sangat tinggi terhadap Persebaya memunculkan tekanan terhadap pelatih, pemain, dan manajemen. Kalah bukan opsi. Apalagi bermain buruk menurut standar Bonek. Maka hujatan akan mudah terlontar saat harapan untuk menang menabrak realitas kekalahan Persebaya.
Karakter Bonek di Persebaya ini mirip dengan fans Feyenoord di Liga Belanda. Ruud Gullit, pemain legendaris itu dalam buku How to Watch Soccer bercerita tentang ‘Kuip-phobia’. Kuip berasal dari De Kuip, nama stadion di Rotterdam yang menjadi kandang Feyenoord.
Menurut Gullit, Kuip-phobia adalah fenomena nyata dalam sepak bola Belanda. “Tentunya konyol kalau pemain takut saat berada di dalam stadion mereka sendiri, tapi itu yang terjadi,” tulisnya.
Ekspektasi fans Feyenoord selalu tinggi dan bahkan terlalu tinggi. “As a result a negative vibe develops that bears down on the players. So a team can be drawn into a negative spiral, the kind of situation Feyenoord have found themselves in for the last fifteen years,” kata Gullit.
Jadi para pemain Feyenoord terbebani dan terbetot dalam sebuah lingkaran setan yang tak terputus. Dan ini terjadi selama lima belas tahun terakhir.
Saat Feyenoord kalah dalam semifinal Piala KNVB, asisten Gullit, Željko Petrović, diundang untuk tampil dalam sebuah acara televisi dan dipermalukan di depan umum. “It suddenly got deeply personal,” kata Gullit.
Saat ini tekanan tersebut semakin berat dan menjadi lebih personal dibandingkan belasan atau puluhan tahun lalu. Sebelum platform media sosial dikenal dan digunakan luas, hujatan terhadap Persebaya hanya terdengar pada saat pertandingan berlangsung. Kasus perkelahian antara Bonek dan pemain Persebaya sangat langka. Keberadaan pemain di Wisma Persebaya Karanggayam justru lebih mengakrabkan tim dengan Bonek dan warga sekitar.
Satu-satunya sumber ‘paido‘ terhadap pemain adalah media massa seperti Jawa Pos. Dahlan Iskan yang memimpin redaksi Jawa Pos saat itu mengakui, punya kebijakan bahwa ‘pengurus Persebaya harus digebuki setiap hari’.”Isi koran tiap hari hanya mengolok-olok pengurus,” katanya, dalam artikel Bonek bin Chelsea yang diterbitkan Majalah World Soccer Indonesia edisi April 2010.
Kebijakan untuk menggebuki pengurus ini membuat tekanan terhadap Persebaya tidak dirasakan sebagai tekanan personal oleh pemain. Apalagi, Jawa Pos cenderung menulis dan menganalisis kinerja Persebaya sebagai sebuah tim, bukan individu. Kekalahan adalah akibat kesalahan bersama dan tak ditanggung hanya satu dua orang pemain.
Itu pun tidak tepat jika dikatakan tulisan-tulisan di Jawa Pos asal ‘paido‘. Kritik dan ‘paido’ tentu dua hal yang jauh berbeda. Kritik di media massa berfungsi menunjukkan kekeliruan dan berangkat dari nalar yang terukur tanpa meninggalkan kaidah jurnalistik. ‘Paido‘ tidak memiliki pretensi tersebut, karena hanya ekspresi luapan emosi sesaat.
Dahlan Iskan mulai mengubah kebijakan pemberitaan setelah melihat kondisi Persebaya tidak semakin membaik. “Kian vulgar kritik yang disemprotkan ke pengurus, kian jelek prestasi Persebaya,” katanya.
Perjalanan ke London dan menyaksikan pertandingan Chelsea di Stadion Stamford Bridge membuka mata Dahlan. “Sebuah klub ternyata harus dipuja!” tulisnya.
Dahlan berubah haluan begitu tiba di Surabaya. “Jangan lagi menggebuki klub yang lagi kalahan. Dia akan semakin tertekan. Dia akan semakin panik. Dia akan semakin tidak punya harga diri. Dia akan semakin minder. Dia akan semakin bertengkar di antara sesama pemain dan pengurusnya.”
Keputusan Dahlan tidak keliru. Kecintaan warga Kota Surabaya dan Jawa Timur terhadap Persebaya mulai terbentuk. Ujung-ujungnya, kebijakan itu bukan hanya menjadi bagian dari keberhasilan Persebaya menjuarai Perserikatan 1988, namun juga mengawali munculnya fanatisme suporter khas Indonesia: Bonek.
Tesis ‘paido bukanlah solusi’ sebagaimana disuarakan Dahlan tiga dekade lalu sebenarnya justru relevan saat ini, di tengah wajah sepak bola era Revolusi Industri 4.0.
Tumbuhnya media sosial membuat tekanan yang dihadapi seorang pemain sepak bola lebih kompleks. Jika dulu seorang pemain bisa berlindung di balik pelatih, manajemen, atau pengurus klub, kini media sosial membuatnya lebih mudah dan bebas berinteraksi dengan publik.
Media sosial membuat sepak bola tak lagi hanya dipahami sebagai sebuah permainan tim, tapi juga individu. Fanatisme kini tak hanya dibentuk karena kecintaan terhadap sebuah klub, namun juga pemain. Penggemar Cristiano Ronaldo tak selamanya menyukai Manchester United atau Real Madrid. Mereka menyaksikan dan mendukung kedua klub itu hanya karena ada Ronaldo di sana.
Pemain sepak bola menjadi lebih dekat dengan penggemar yang mengirimkan pesan-pesan penuh sanjungan, sekaligus terpapar langsung oleh hujatan dari pembenci. Sanjungan dan hujatan ini sama-sama toksik bagi pemain sepak bola, terutama yang masih belia. Pujian tak selamanya bisa memotivasi, dan hujatan seringkali dapat membuat patah arang. Terlebih tidak semua orang punya etika dalam menggunakan media sosial dan tak semua pemain punya daya tahan menghadapi “bully”.
Stewart McGill dan Vincent Raison dalam buku The Roaring Red Front: The World’s Top Left-Wing Football Clubs mengatakan ada racun dalam sepak bola Liga Primer Inggris, sebuah liga yang menjadi acuan industri sepak bola modern. Racun ini jamak ditemui, termasuk di Indonesia.
“The rivalries can be nasty and should players fail to excel, it can result in some pretty rank abuse, the sheer importance of three ‘massiive’ points overriding basic human decency.”
Dan itulah yang dialami Brylian Aldama yang masih berusia 21 tahun. ‘The sheer importance of three ‘massiive’ points overriding basic human decency.’ Pentingnya kemenangan dalam pertandingan sepak bola mengesampingkan adat kesantunan seorang manusia.
Mungkin juga itu yang dirasakan Muhammad Supriyadi dan beberapa pemain Persebaya sehingga sempat memelintir Song For Pride. Mereka tidak tahan terhadap tekanan, dan itu manusiawi, terutama bagi pemain muda. Kita tidak menoleransi pelecehan terhadap Song For Pride, tapi kita tak boleh berhenti sampai di situ dan seharusnya mulai memahami pemain sebagai manusia seutuhnya.
Ryan Baldi dalam buku The Dream Factory: Inside the Make-or-Break World of Football’s Academies melaporkan, pemain sepak bola sudah berada dalam tekanan sejak berada di akademi. Mereka merasa harus berhasil menjadi pemain sepak bola dan menembus tim inti klub idaman. Saat mereka gagal, tak semua bisa menerima kegagalan.
“A lot of players are now speaking up about depression and mental health. I have been told that this year, in 2020, the Sporting Chance Clinic has received 1,400 requests for help from players.”
Semakin besar capaian seorang pemain muda di sebuah klub sepak bola, semakin besar pula tekanan yang dihadapinya. Itu bisa menjelaskan kenapa Toni Firmansyah menangis di tengah lapangan sembari mencium emblem logo Persebaya di jerseynya setelah mencetak gol ke gawang Persis Solo. Dia telah berhasil melepaskan sebagian beban di pundaknya yang tak semua orang bisa memahami.
Transfermarkt mencatat rata-rata usia pemain Persebaya musim 2023-24 adalah 23,4 tahun. Skuat ini lebih muda daripada 2022 yang rata-rata berusia 24,3 tahun menurut Katadata. Problem mental sebenarnya menjadi pekerjaan rumah pertama tim muda ini. Disaksikan 50 ribu orang Bonek yang bising di Gelora Bung Tomo selama 90 menit bukan hal mudah. Apalagi Bonek punya reputasi keras dan sangat menuntut.
Setelah tragedi bunuh diri Gary Speed pada 2011, kesehatan mental akhirnya dianggap serius dalam sepak bola. Kevin George, mantan pesepakbola yang sekarang bekerja sebagai konsultan performa manusia, bicara dengan klub dan pemain berbagai usia soal ‘emotional literacy’. Dua percaya banyak yang bisa dan harus dilakukan dengan empati dan lebih khusus lagi pendidikan kuncinya.
Usai curhat Brylian, saya iseng-iseng membuat jajak pendapat di Twitter yang diikuti 234 akun. Saya mencoba mempertanyakan kembali tesis Dahlan Iskan: apakah tradisi paido oleh Bonek memang efektif untuk mendongkrak permainan Persebaya?
Hasilnya, 57 persen akun menyatakan tidak dan 25 persen menyatakan efektif. Sementara itu 18 persen lainnya mengaku bingung hendak menjawab apa.
Saya tak hendak mengatakan jajak pendapat ini mewakili suara Bonek. Namun besarnya responden yang menyatakan paido tak efektif untuk memperbaiki performa Persebaya, semoga bisa menjadi awal cara pandang yang lebih positif dari fans terhadap pemain.
Namun masih adanya responden yang masih setuju dengan cara ‘paido, menunjukkan bahwa Persebaya sudah harus mulai memperhatikan serius dampaknya terhadap mental pemain. Tak cukup hanya dengan imbauan dari Yahya Alkatiri, karena tak ada yang bisa mengukur emosi dan menakar perilaku fans. Tak cukup pula hanya dengan Aji Santoso yang memilih untuk tidak mengkritisi pemainnya dalam setiap konferensi pers usai pertandingan.
Selama ini Persebaya dikenal sebagai klub yang memproduksi dan selalu menghasilkan para pemain berbakat. Tentu saja bakat teknis tidak cukup dalam sepak bola modern hari ini. Persebaya harus mulai membangun sistem untuk melindungi dan mempersiapkan kesehatan mental para pemain muda tersebut sebelum terjun ke dunia sepak bola profesional Indonesia yang keras. Karena kita percaya perjalanan pemain muda seperti Brylian masih panjang, dan tak seharusnya patah oleh dunia luar yang toksik. [wir]






