Surabaya (beritajatim.com) – Tak lama lagi, umat Muslim di seluruh dunia akan merayakan Hari Raya Idul Adha 2024, yang juga dikenal sebagai Hari Raya Kurban. Idul Adha diperingati setiap tahun pada 10 Dzulhijjah dan tahun ini jatuh pada Minggu, 16 Juni 2024.
Namun, apakah kalian tahu sejarah di balik perayaan ini? Tanggal ini ditetapkan berdasarkan sejarah penting yang melibatkan Nabi Ibrahim AS. Untuk lebih lengkapnya, Simak sejarah Idul Adha berikut ini.
Sejarah Idul Adha: Kisah Pengorbanan Nabi Ibrahim AS
Idul Adha atau Idul Kurban memiliki sejarah panjang yang berakar pada peristiwa yang terjadi pada zaman Nabi Ibrahim AS. Kisah ini bermula ketika Nabi Ibrahim menerima wahyu dari Allah SWT melalui sebuah mimpi. Dalam mimpinya, Nabi Ibrahim melihat dirinya sendiri menyembelih putranya, Nabi Ismail. Sebagai utusan Allah, Nabi Ibrahim meyakini bahwa mimpi tersebut adalah perintah langsung dari Allah SWT.
Perintah ini membuat Nabi Ibrahim gundah, karena ia harus mengorbankan anaknya sendiri. Namun, ketaatan Nabi Ibrahim kepada Allah SWT melebihi kecintaannya kepada Nabi Ismail. Dengan berat hati, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya kepada putranya. Yang mengejutkan, Nabi Ismail menerima perintah tersebut dengan ikhlas dan rela menjalankan perintah Allah SWT.
Pada tanggal 10 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim memutuskan untuk melaksanakan perintah tersebut. Ia mengikat kaki dan tangan Nabi Ismail, lalu membaringkannya di tanah. Saat akan menyembelih Nabi Ismail, setan datang menggoda dengan bisikan agar Nabi Ibrahim mengurungkan niatnya. Namun, Nabi Ibrahim tetap teguh pada keputusannya dan melempar setan dengan batu sambil berteriak, “Bismillahi Allahu Akbar.” Peristiwa ini kemudian dikenal dengan istilah ‘lempar jumrah’ dalam ibadah haji.
Keajaiban di Tanah Lapang: Kedatangan Malaikat Jibril
Ketika Nabi Ibrahim hendak menyembelih Nabi Ismail, pedang tajam yang digunakan terus terpental dan tidak melukai Nabi Ismail. Nabi Ismail pun meminta agar talinya dilepaskan sebagai tanda kepasrahan kepada Allah SWT. Saat itulah, Malaikat Jibril datang dan menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba (kibas). Peristiwa ini menandai awal mula perayaan Idul Adha atau Idul Kurban.
Makna dan Perintah Ibadah Kurban
Ibadah kurban tidak hanya merupakan bentuk ketaatan kepada Allah, tetapi juga memiliki makna sosial yang mendalam. Daging hewan kurban dibagikan kepada yang membutuhkan, sehingga mereka yang kurang mampu dapat menikmati daging setidaknya sekali dalam setahun. Perintah untuk berkurban ini terdapat dalam Alquran:
“Sesungguhnya Kami telah memberikan nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS Al-Kautsar [108]: 1-2).
Merayakan Idul Adha bukan hanya soal menyembelih hewan kurban, tetapi juga tentang memahami dan menghormati sejarah di baliknya. Ini adalah waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui ketaatan dan kepasrahan, serta untuk berbagi dengan sesama yang membutuhkan. Mari kita sambut Idul Adha 2024 dengan penuh makna dan kesadaran akan sejarah yang menyertainya. (mnd/ian)






