Jember (beritajatim.com) – Selama menjadi presiden RI pada 2004-2014, Susilo Bambang Yudhoyono mengaku tidak pernah menikmati kenaikan gaji. Namun dia justru menaikkan gaji pegawai negeri sipil dan mengangkat pegawai honorer.
“Dulu kita telah mengangkat 1,1 juta pegawai honorer dan guru honorer. Sepuluh tahun ini belum diangkat kembali. Tapi saya mendengar Pak Jokowi, presiden kita, kalau tidak salah satu bulan lalu akan mengangkat satu juta guru honorer,” kata SBY, di hadapan ratusan warga yang berkumpul Padepokan City Forest milik pengusaha Arum Sabil, di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Minggu (28/1/2024).
SBY mendukung penuh kebijakan tersebut. “Saya setuju, karena dulu Demokrat lakukan. Yang penting jangan tidak terwujud. Saya akan ikut mengawal. Bismillah, mengingatkan Presiden Jokowi. Pak Jokowi, Bapak sudah berjanji, tolong diwujudkan tahun ini,” katanya.
Saat SBY menjadi presiden, pemerintah menjalankan program sertifikasi untuk menaikkan kesejahteraan guru. Gaji guru saat itu hanya Rp 600 ribu per bulan. “Gaji tamtama TNI/Polri hanya Rp 600 ribu. Gaji PNS golongan 1 hanya Rp 600 ribu. Pasti tidak cukup, tidak layak. Oleh karena itu kami naikkan menjadi Rp 5 juta selama sepuluh tahun. Itu namanya baru adil.
“Sementara gaji saya selama sepuluh tahun tidak naik. Lebih baik mereka yang naik gajinya, daripada presiden gajinya besar karena itu akan lebih adil. Itu yang terjadi dulu. Program sertifikat salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan guru dan dosen,” kata SBY.
SBY juga memperhatikan guru sekolah swasta. “Kenyataannya sekolah swasta jumlahnya banyak. Ini saya bicara pendidikan umum dan pendidikan Islam. Demokrat akan ikut memperjuangkan agar kuota atau peluang atau kesetaraan antara guru negeri dan swasta makin baik. Termasuk peningkatan pondok-pondok pesantren seluruh tanah air,” katanya.
SBY ingin kehidupan masyarakat semakin sejahtera. “Ini semboyan Partai Demokrat. Ini boleh dikatakan agenda perjuangan Partai Demokrat. Sepuluh tahun kita jalankan dulu. Insyaallah sepuluh tahun lagi bisa kita jalankan kalau Demokrat menang dalam pemilu ini,” katanya.
“Rakyat tidak boleh susah. Kalau sedang susah, ekonomi Indonesia sedang menghadapi tekanan karena pengaruh dunia, yang harus dijaga jangan sampai justru yang susah rakyatnya. Pemerintah negara bisa saja susah. Tuhan akan menguji apakah pemimpin-pemimpin pemerintahan itu di tengah kesusahan bisa mengatasi masalah, tanpa mengalirkan kesusahan itu kepada rakyatnya,” kata SBY.
SBY berkunjung ke Jember setelah melakukan rapat umum di Lumajang Jumat kemarin. Rencananya dia akan melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi untuk menghadiri kampanye rapat umum di sana, Senin (28/1/2024). [wir]






