Jombang (beritajatim.com) – Ramadan tak hanya membawa keberkahan spiritual, tetapi juga rezeki berlimpah bagi perajin sarung tenun goyor di Desa Plumbongambang, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Setiap tahun, momentum ini menjadi titik balik bagi para perajin, di mana permintaan sarung tenun melonjak hingga 50 persen dibandingkan bulan-bulan biasa.
Sugeng Riyadi, seorang perajin yang telah menekuni usaha ini selama bertahun-tahun, merasakan dampak positif dari peningkatan permintaan tersebut. Sejak awal Ramadan, pesanan terus berdatangan, tidak hanya dari wilayah sekitar seperti Malang, Surabaya, dan Sidoarjo, tetapi juga dari Jawa Barat. Bahkan, pasar luar negeri mulai melirik sarung tenun khas Jombang ini.
“Pesanan meningkat pesat sejak awal Ramadan. Banyak pelanggan yang mencari sarung tenun untuk digunakan saat Idulfitri atau sebagai oleh-oleh,” ungkap Sugeng saat ditemui di rumahnya pada Rabu (19/3/2025).
Dalam menghadapi lonjakan permintaan, Sugeng bersyukur karena stok bahan baku masih terjaga. Namun, ia berharap pasar Timur Tengah segera pulih setelah mengalami kendala sebelum Ramadan, agar ekspor ke wilayah tersebut dapat kembali berjalan lancar.
Karya Tradisional dengan Nilai Tinggi
Keunikan sarung tenun goyor terletak pada proses pembuatannya yang masih mengandalkan teknik tradisional. Butuh ketelatenan luar biasa untuk menyelesaikan satu helai sarung, yang bisa memakan waktu hampir sebulan.
Proses pewarnaan dan pembuatan motif saja membutuhkan waktu hingga dua minggu, sebelum akhirnya sarung siap dijual dengan harga berkisar antara Rp250 ribu hingga Rp550 ribu per potong.
Menariknya, produksi sarung tenun goyor juga memberdayakan masyarakat sekitar, khususnya ibu-ibu rumah tangga. Saat ini, Sugeng mempekerjakan sekitar 25 orang, namun ia bercita-cita menambah tenaga kerja, terutama dari kalangan anak muda.
Sayangnya, mencari generasi penerus yang mau menekuni industri tenun bukan perkara mudah.
“Saya berharap ada program pelatihan dari pemerintah agar anak-anak muda mau belajar dan terlibat dalam usaha ini,” kata Sugeng dengan penuh harapan.
Menembus Pasar Global
Tak hanya merajai pasar lokal, sarung tenun goyor juga telah menembus pasar internasional. Sugeng mengungkapkan bahwa buyer atau pembeli dari Amerika tertarik untuk memasarkan produk ini di luar negeri. Hal ini menjadi angin segar bagi industri sarung tenun di Jombang, yang semakin mendapat perhatian dunia.
Dengan semangat tinggi, Sugeng optimistis bahwa industri sarung tenun goyor akan terus berkembang. Ramadan ini bukan sekadar bulan penuh berkah, tetapi juga menjadi momentum bagi para perajin untuk mengangkat kerajinan lokal ke level yang lebih tinggi.
“Kami ingin menunjukkan bahwa sarung tenun goyor dari Jombang bukan hanya warisan budaya, tapi juga memiliki daya saing di pasar global,” tutupnya penuh keyakinan. [suf]






