Banyuwangi (beritajatim.com) – Keberuntungan tak pernah menyangka datang dari mana saja. Seperti yang dialami oleh Hamimi, pemuda asal Desa Lemahbang Dewo, Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi ini.
Berkat ketekunannya menggeluti usaha bertani hidroponik, dirinya justru raup cuan jutaan rupiah. Padahal, modal awal saat pertama kali memulai usahanya terbilang kecil.
Pemuda bergelar Sarjana Hukum lulusan Fakultas Hukum Untag Banyuwangi mengaku memulai bertaninya dengan modal Rp 500 ribu. Bahkan, saat itu dirinya juga hanya sekadar coba-coba.
Bermodal ilmu dari YouTube, dirinya memberanikan diri mendulang rejeki dari bertani. Namun, dengan kegigihannya dan ketelitian kini hasilnya dapat dirasakan.
“Awalnya belajar dari youtube kemudian dipraktekan, dan Alhamdulillah ternyata begitu mudah mengembangkan pertanian hidroponik itu,” ungkap Hamimi.
Kini, usahanya tersebut terus berkembang seiring hasil melimpah yang didapatkan. Dari hasil itu, dirinya mencoba untuk mengembangkan dengan lahan lebih luas.
Hamimi, memulai dengan membuka green house baru. Dari awal hanya 1×3 meter, kini berkembang menjadi 16×22 meter atau sekitar 352 meter persegi.
Saat ini, kapasitas green house yang baru mampu terisi tanaman cukup banyak. Kapasitasnya mencapai 11 ribu lebih untuk tanaman jenis selada.
Dari luasan itu, kini Hamimi mampu menghasilkan sayur selada hidroponik sekitar 70 – 80 Kilogram setiap 4 hari dalam sekali panen. Artinya, sebulan dirinya mampu mengumpulkan panen sebanyak 560 kilogram.
“Setiap kali panen kita dapatnya sekitar Rp 1,5 – Rp 2 juta. Harga sayur saat ini antara Rp 20 sampai Rp 25 ribu perkilogram. Alhamdulillah, kalau omset bisa mencapai Rp 7 juta hingga Rp 10 juta perbulan,” kata Mimi sapaan akrabnya.
Sebelumnya, kata Mimi, dirinya sempat kesulitan memenuhi kebutuhan pasar. Sehingga, perlu adanya pengembangan seiring dengan permintaan yang juga makin tinggi.
“Semoga dengan green house yang baru ini bisa mencukupi permintaan pasar,” ujar Mimi.
Bahkan, kata Hamimi, dari awalnya hanya sendiri kini dirinya memberanikan untuk merekrut pegawai. Ada tiga warga sekitar yang kini turut dalam bisnis hidroponik di lahan miliknya.
“Ya alhamdulillah, semua ini berkat dukungan orang tua, keluarga dan istri saya,” ungkap Mimi.
Dari cerita sukses Hamimi ini, membuktikan jika pertanian masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Bahkan, cukup menghasilkan meski berjuang dari sekitar rumah maupun desa sendiri.
“Di desa bisa sukses, di desa bisa memenuhi kebutuhan, sukses tidak harus ke kota, yang terpenting bagaimana mampu mensyukuri apa yang diterima,” pungkasnya. [rin/but]






