Yogyakarta (beritajatim.com) — Wajah mungil Saraswati Hapsari tampak berseri saat berlenggak lenggok dalam ajang Jogja International Kids and Teens Fashion Parade (JIKFP) 2025.
Siswi kelas 5 SDN 1 Gedog, Kota Blitar itu tak menyangka bisa menembus panggung yang mempertemukannya dengan ratusan model muda dari berbagai daerah di Indonesia.
Dalam kancah daerah, Saraswati telah menyabet banyak prestasi di antaranya Putri Kebaya Jawa Timur 2025.
“Senang sekali bisa ikut acara besar ini. Aku ingin melestarikan kebaya sebagai busana kebanggaan perempuan Indonesia,” ujar Saraswati dengan mata berbinar.
Meski masih duduk di bangku sekolah dasar, Saraswati menunjukkan kepercayaan diri luar biasa. Selain berlenggak-lenggok di atas panggung, ia juga membawakan kidungan Jawa, sesuatu yang jarang dilakukan model seusianya. Tak hanya modeling, gadis berusia 11 tahun itu juga memiliki hobi menyanyi dan memasak.
Bagi Saraswati, menjadi bagian dari model dan Putri Kebaya Jawa Timur bukan semata soal busana dan gemerlap panggung. Ia ingin menjadi contoh bagi anak-anak seusianya agar bangga memakai kebaya.
“Sebagai perempuan muda, aku ingin tetap menjaga tradisi lewat kebaya. Ini warisan yang harus terus hidup,” katanya dengan polos namun mantap.
Kehadiran Saraswati di panggung mode JIKFP 2025 menjadi kebanggaan tersendiri bagi Kota Blitar. Ia berharap langkah kecilnya di dunia fashion bisa mengharumkan nama daerahnya di kancah provinsi bahkan nasional.
Sang Ibu, Mieke Yuliana mengaku dulu Saraswati pernah dibully karena busana yang dikenakan dianggap “jadul”. Namun berkat dukungan orang-orang terdekat dan kolaborasi bersama desainer Danny asal Mojokerto, ia justru berhasil menembus dunia fashion dan tampil percaya diri bahkan sekarang dapat tampil di ajang bergengsi Jogja International Kids and Teens Fashion Parade (JIKFP) 2025 digelar Asmat Pro.
Saraswati berharap langkahnya di dunia modeling bisa menjadi awal dari perjalanan panjangnya di dunia seni dan budaya. Ia ingin menjadi model profesional yang tidak hanya dikenal karena penampilannya, tetapi juga karena perannya dalam melestarikan kebaya dan budaya Jawa.
“Semoga aku bisa membuat orang bangga dengan kebaya. Aku ingin terus belajar dan tampil lebih baik,” ujarnya penuh harapan.
Jogja International Kids and Teens Fashion Parade (JIKFP) 2025 yang digelar pada 11–12 Oktober 2025 oleh Asmat Pro bekerja sama dengan Dekranasda Sleman.
Gelaran dua hari itu menghadirkan 100 desainer dan 800 model dari berbagai kota di Indonesia serta perwakilan mancanegara, termasuk Lytha Gallery by Lytha Maria dari Timor Leste.
Show director acara ini adalah Nyudi Dwijo Susilo, M.Pd, dengan Phillip sebagai creative director dan Yoshua Eric Kurniawan sebagai koreografer. Acara juga dipandu oleh Tulus Angga Wijaya.
JIKFP hari pertama, Sabtu (11/10/2025) sesi pertama menghadirkan desainer: Oma Modiste, Ribiekids X Olle Independent School, DS Devi Santi, Miu’s by Ninuk Tari, Keanokids X Olle Management, Mr A, LA Fashion, Sheenaraya, Lavira Loen X AR Plus Produksi, Fandhie.ID.
Sesi kedua menghadirkan desainer: Winda Stinee, Teressa Sophiea’s by Cici Clara, Geliss by Nasrul, Purwakanthie.Co by Adi Sufrianto, Allhas Modiste X Basheela Attire, Shanum Stinee, Oma Modiste, Post Modeling X Skan1sa Fashion, Danny Dwa, Taufik Hidayat, Miu’s by Ninuk Tari, Sheenaraya.
Sesi ketiga menghadirkan desainer: Taufik Hidayat, Post Modeling X Skan1sa Fashion, Nenz3yo, Adhi Luhung X Geliss by Nasrul, Sion Bajuku Klambi, Muchos.tudio, Little Moonshine, The Star Indonesia by Dave Entertainment, Sion Bajuku Klambi, Metamorph by Zack, Lavira Loen x AR Plus Produksi.
Model cilik datang dari berbagai daerah seperti Jakarta, Bali, Palembang, Malang, Surabaya, hingga Blitar. Mereka tampil mempersembahkan karya-karya terbaik dari desainer nasional dan internasional. [aje]






