Surabaya (beritajatim.com)– Santan menjadi bahan penting dalam banyak masakan khas Indonesia, mulai dari gulai hingga hidangan pen utup. Dulu, santan dibuat dengan cara memeras kelapa secara manual. Sekarang, santan instan dalam kemasan kaleng atau karton lebih mudah ditemukan dan praktis digunakan. Lalu, apakah santan instan yang tahan lama ini lebih sehat dibandingkan santan segar?
Dari segi daya tahan, santan instan memang lebih unggul. Santan kemasan yang belum dibuka bisa bertahan antara satu hingga lima tahun, tergantung jenisnya. Sementara itu, santan segar lebih cepat basi.
Meskipun disimpan dalam kulkas, biasanya hanya bertahan 24-48 jam. Karena itu, santan instan lebih cocok untuk orang yang memiliki aktivitas padat.
Menurut penjelasan globalcocosugar, dari segi nutrisi, keduanya sebenarnya sama-sama mengandung lemak sehat, seperti Medium-Chain Triglycerides (MCT) dan asam laurat. Lemak ini dipercaya dapat membantu metabolisme energi dan memiliki sifat antimikroba. Jadi, baik santan segar maupun instan tetap memberikan manfaat dari kelapa.
Namun, santan segar memiliki keunggulan dalam hal kemurnian. Karena diproses secara sederhana, kandungan antioksidan dan enzimnya cenderung masih lebih utuh. Selain itu, santan segar tidak mengandung bahan tambahan karena hanya dibuat dari kelapa dan air.
Sebaliknya, santan instan biasanya mengandung bahan tambahan seperti penstabil (bahan tambahan yang digunakan agar teksturnya tetap kental dan tahan lama). Meskipun umumnya aman, bahan ini bisa menyebabkan gangguan pencernaan seperti kembung pada orang dengan perut sensitif.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kandungan kalori. Santan instan, terutama yang kental dalam kaleng/ kemasan kardus, biasanya memiliki kadar lemak dan kalori lebih tinggi dibandingkan santan segar. Jika dikonsumsi berlebihan, hal ini dapat berdampak kurang baik, terutama bagi yang sedang menjaga berat badan atau kesehatan jantung.
Dari segi kemasan, santan kalengan berpotensi mengandung zat kimia seperti Bisphenol A (BPA) yang bisa masuk ke dalam makanan. Walaupun kadarnya umumnya masih aman, santan segar tetap dianggap lebih minim risiko dari paparan bahan kimia kemasan.
Untuk rasa, santan segar masih menjadi pilihan utama. Aromanya lebih wangi, rasanya lebih alami, dan tidak memiliki rasa tambahan seperti pada produk kemasan. Karena itu, santan segar sering disarankan untuk masakan yang mengandalkan cita rasa kelapa. [Wakhdah Alisa Berliana]






