Bojonegoro (beritajatim.com) — Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kembali menggelar prosesi sakral Ruwatan Murwakala di kawasan wisata Kayangan Api, Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem. Kegiatan ini merupakan bagian utama dari rangkaian Festival Geopark Bojonegoro 2025, yang memadukan kekayaan budaya lokal dengan penguatan potensi geowisata menuju pengakuan sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark.
Lebih dari sekadar seremoni, prosesi ruwatan merupakan manifestasi dari nilai-nilai filosofis yang mendalam dalam kehidupan masyarakat Jawa. Dalam pandangan tradisional, ruwatan adalah ritual spiritual untuk membebaskan seseorang dari “sukerta” — status yang diyakini membawa kesialan atau ketidakseimbangan dalam hidup, baik karena kelahiran, peristiwa tertentu, maupun kondisi sosial.
Ruwatan diyakini sebagai sarana untuk menyucikan diri, memulihkan harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Filosofi ruwatan bersumber dari ajaran kosmologi Jawa yang menempatkan kehidupan sebagai bagian dari tatanan besar jagad (alam semesta). Melalui ritual ini, manusia diajak untuk menyadari posisi dan perannya dalam menjaga keseimbangan spiritual dan moral.
Dalam konteks modern, ruwatan tidak hanya dilihat sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai bentuk pelestarian nilai kearifan lokal yang mengajarkan introspeksi, etika, dan tanggung jawab sosial.
Dalam kegiatan yang digelar dengan khidmat dan semarak tersebut, sebanyak 100 peserta sukerta mengikuti prosesi ruwatan, dari total 170 peserta yang datang dari berbagai wilayah di Kabupaten Bojonegoro. Prosesi dipimpin oleh dalang ternama Kyai Ngaesan Hadi Purwocarito melalui pagelaran wayang kulit, yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan tetapi juga sebagai media edukasi spiritual dan moral.
Kegiatan ini diselenggarakan secara gratis dan terbuka untuk umum sebagai bentuk pelayanan sosial dan budaya kepada masyarakat. Acara dihadiri langsung oleh Bupati Bojonegoro Setyo Wahono beserta istri, Cantika Wahono, Wakil Bupati Nurul Azizah beserta suami, Budi Jatmiko, serta jajaran pejabat daerah, di antaranya Staf Ahli, Kepala OPD, Forkopimcam Kecamatan Ngasem, dan Kepala Desa Sendangharjo.
Rangkaian ruwatan menjadi puncak dari kegiatan budaya Festival Geopark yang sebelumnya diawali dengan pengambilan minyak bumi tradisional dari sumur tua Wonocolo — salah satu titik penting geologi Bojonegoro. Minyak tersebut kemudian disemayamkan di Pendopo Kayangan Api, menandai hubungan simbolis antara kekayaan alam dan spiritualitas masyarakat.
Pada malam harinya, prosesi dilanjutkan dengan doa bersama dan pembacaan sholawat, mencerminkan harmonisasi antara budaya Jawa dan nilai-nilai Islam yang hidup dalam masyarakat Bojonegoro.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro, Welly Fitrama, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari komitmen pemerintah dalam menjaga warisan budaya dan memperkuat identitas lokal. Dukungan masyarakat, khususnya warga sekitar kayangan api sangat penting dalam memperkuat posisi Kayangan Api sebagai calon geosite global
“Kita tidak hanya memberikan ruang bagi pelestarian budaya, tetapi juga menjadikannya sebagai pilar dalam promosi geopark,” ujarnya, Minggu (29/6/2025).
Sementara Bupati Setyo Wahono menambahkan bahwa kegiatan Ruwatan Murwakala menjadi pengingat akan pentingnya menjunjung kearifan lokal dan spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari. Melalui tradisi ini, masyarakat diajak untuk hidup selaras, bergotong royong, dan menjaga jati diri sebagai bagian dari budaya Jawa yang adiluhung.
“Ini adalah wujud penghormatan kita terhadap alam dan Sang Pencipta,” ungkap Setyo Wahono.
Di akhir sambutannya, Wahono, berharap, Festival Geopark 2025 menjadi ajang tahunan yang tak hanya memperkuat promosi pariwisata dan budaya, tetapi juga membentuk karakter masyarakat Bojonegoro yang berakar kuat pada tradisi, namun terbuka terhadap pengakuan dunia. [lus/but]






