Lumajang (beritajatim.com) – Rosella Wardani dalam perjalanan pulang dari Surabaya ke Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Sabtu (4/12/2021) sore, saat kabar buruk itu meluncur ke ponselnya. Gunung Semeru di Lumajang mengalami erupsi.
Rosella yang tengah beristirahat untuk salat Asar di masjid Desa Penanggal, segera mengontak saudara-saudaranya di Dusun Curah Kobokan, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo. Ia mengira ini erupsi yang sama sebagaimana 2020. Erupsi bukan barang baru bagi warga yang tinggal di lereng Semeru.
Namun Rosella keliru. Sanak kerabatnya di Curah Kobokan mengabarkan tak ada yang tersisa. Semua rumah ambruk. Rata dengan tanah. Mereka minta tolong mengevakuasi korban. “Sama sekali tidak ada truk yang ke atas,” kata mahasiswi Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember ini.
Rosella sempat menelepon seorang bidan puskesmas yang dikenalnya untuk menanyakan, adakah orang yang bisa naik ke Curah Kobokan untuk melakukan evakuasi dan membantu. Nihil.
Sekitar pukul setengah lima sore, sinar matahari menyeruak kegelapan yang menyelimuti lereng Semeru sejak dua jam sebelumnya. Rosella bersama ayah dan adiknya Farhansyah mencari truk untuk dibawa ke Curuah Kobokan dan mengevakuasi saudara dan sanak kerabat.
Hawa panas meruap dari tanah yang tertimbun material erupsi dan debu vulkanik. Namun kepanikan membuat Rosella mengabaikannya. Mereka kesulitan menembus Curah Kobokan, karena jalan sudah terputus. Pohon-pohon dan tiang listrik tumbang. Kayu-katu bertebaran di jalan.
Rosella, adik, dan ayahnya berusaha semampu mereka mengevakuasi warga sebanyak mungkin. Salah satunya anak tetangganya yang masih kecil. Ia meminta bantuan beberapa orang bersepeda motor trail yang berhasil naik ke dekat Curah Kobokan untuk membawa anak kecil, bayi, dan warga lanjut usia ke tempat yang lebih aman.
Saat itu, posko belum berdiri. Sebagian warga pengungsi diarahkan berlindung di balai desa sekitar Curah Kobokan. Sebagian lainnya memilih tinggal di rumah sanak saudara.
Rumah Rosella hancur. Namun dia menolak mengungsi dan meratapi nasib. Anggota Korps Sukarelawan PMI UIN KHAS ini memilih terjun ke lapangan dan membantu evakuasi korban bersama Farhansyah. Kakak beradik itu ikut mengevakuasi Rumini dan ibunya yang ditemukan dalam keadaan meninggal berpelukan di bawah timbunan tanah, Senin (6/12/2021).
Mereka memang bertetangga. “Rumah Rumini di depan gudang rumah saya,” kata Rosella.
[berita-terkait number=”4″ tag=”gunung-semeru”]
“Semula hanya kelihatan kaki orang tua Rumini. Tak ada yang langsung mau mengambil mayatnya. Adik saya berpikir, ‘kalau saya jadi Rumini, bagaimana?’. Adik saya kemudian langsung mengevakuasinya,” kata Rosella.
Setelah melakukan evakuasi, Rosella bergabung dengan dapur umum dan membantu PMI di Posko Pelayanan terpadu yang di Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro. “Membantu tetangga, saudara, dan masyarakat membuat saya lupa atas apa yang sudah saya alami bersama keluarga,” katanya.
Rosella berusaha memotivasi diri sendiri agar lebih tabah. Dia pun memilih menyibukkan diri dalam aksi kemanusiaan di lereng Semeru. “Saya sampai sekarang lupa waktu, sekarang hari apa, tanggal berapa. Saya nggak tahu, karena jika saya ingat, saya pasti ingat kejadian hari itu. Saya hanya ingat waktu salat, udah itu aja” katanya. [wir/but]






