Jember (beritajatim.com) – Wakil Bupati Muhammad Balya ‘Gus’ Firjaun Barlaman meminta timbal balik dari rukun tetangga dan rukun warga di Kabupaten Jember, Jawa Timur, yang sudah mendapatkan insentif dari pemerintah daerah.
Para RT dan RW ini diminta benar-benar membantu penanganan tengkes. “RT dan RW kan sudah mendapatkan insentif. Belum lagi sudah didaftarkan kepesertaan BPJS (Badan Penyelanggara Jaminan Sosial). Maka setidaknya sebagai imbal balik, monggo kita bersama-sama bergerak,” kata Firjaun, di sela-sela acara penyerahan bantuan simbolis kepada keluarga stunting di Kelurahan Mangli dan Balai Desa Jenggawah, Rabu (03/07/2024).
Firjaun yakin penuntasan kasus tengkes bukan soal bisa atau tidak. “Tapi mau atau tidak. Kalau mau, seluruh persoalan yang ada pasti akan bisa kita selesaikan bersama-sama,” katanya.
Firjaun menjabat Ketua Tim Percepatan Penanganan Stunting (TPPS) Jember. Menurutnya, kasus tengkes muncul dikarenakan ketidakmampuan untuk mendapatkan makanan bernutrisi dan bergizi. “Kami memberikan makanan tambahan. Mudah-mudahan bisa bermanfaat,” katanya. Makanan itu berupa susu untuk balita dan ibu hamil, biskuit, telor, dan beras.
Pengurus RT dan RW diharapkan Firjaun lebih intensif dalam memantau keadaan warga. “Keadaan apapun, baik soal kemiskinan, terutama kesehatan bagi geneasi penerus bangsa yang diharapkan menjadi generasi emas. Hendaknya balita dan ibu hamil dipantau dan didata untuk dilaporkan, dan didorong agar mau datang ke posyandu,” katanya.
Peralatan di posyandu untuk penanganan tengkes (stunting) sudah dilengkapi untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan bayi agar tak ada persoalan tumbuh kembang. Firjaun menyebut persoalan tumbuh kembang akan mengganggu mental bayi saat sudah dewasa.
“Kalau perlu (ibu hamil dan bayi) dijemput kalau tidak busa hadir ke posyandu. Kami berharap semua bisa menjadi bagian dari gerakan ini dengan didasari keikhlasan. Semua kebaikan akan mendapat imbalan dari Yang Maha Kuasa,” kata Firjaun.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, Pemkab Jember termasuk dalam 20 kabupaten dan kota yang berhasil menurunkan prevalensi stunting dari 34,9 persen menjadi 29,7 persen. Penurunan ini membuat Jember berada di peringkat keempat prevalensi stunting tertinggi, setelah pada 2022 menduduki peringkat pertama.
Sebelumnya, Bupati Hendy Siswanto menerbitkan surat edaran berisi imbauan untuk bergotong royong memberantas stunting atau tengkes yang melibatkan rukun tetangga dan rukun warga di Kabupaten Jember. Ada 18 ribu pengurus rukun tetangga dan rukun warga yang diminta mengajak ibu-ibu hamil di lingkungan masing-masing, terutama yang berpotensi melahirkan bayi tengkes, untuk kontrol di posyandu atau puskesmas.
Bahkan, Hendy menyerukan aparatur sipil negara (ASN) Pemerintah Kabupaten Jember dan tenaga kesehatan untuk memiliki minimal satu orang anak asuh balita berstatus gizi kurus atau sangat kurus. Data sasaran anak asuh berasal dari puskesmas setempat. Orangtua asuh ini memastikan setiap anak memperoleh makanan tambahan, sehingga berat badan setiap balita dapat meningkat dan status gizi semakin membaik. [wir]






