Jember (beritajatim.com) – Manajemen Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi Kabupaten Jember, Jawa Timur, disarankan belajar banyak ke Rumah Sakit Umum Daerah dr. Iskak Kabupaten Tulungagung.
Nurhasan, anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera DPRD Jember, pernah mengunjungi RSUD Tukungagung. “Pada waktu itu pendapatan Rumah Sakit dr. Soebandi masih Rp 210 miliar. RSUD Tulungagung masih Rp 150 miliar. Tapi saat ini RSUD Tulungagung sudah mengejar hampir Rp 200 miliar,” katanya, ditulis Selasa (1/7/2025).
Nurhasan yakin pendapatan RSD dr. Soebandi bisa melampaui Rp 300 miliar jika menggunakan sistem pengelolaan RSUD Tulungagung. “Kita jalannya kayak keong, Tapi mereka begitu cepat lompatan pendapatannya,” katanya.
Pendapatan RSD dr. Soebandi dianggap tak sebanding dengan tingkat inflasi daerah. “Selama sepuluh tahun naiknya cuma Rp 30 miliar. Dengan inflasi saja kalah. Inflasi 5-7 persen. Kita naiknya berapa persen?Kecil sekali,” kata Nurhasan.
Padahal, lanjut Nurhasan, cakupan wilayah kerja RSD dr. Soebandi meliputi sejumlah kabupaten di kawasan timur Jawa Timur. “RSUD Tulungagung hanya melayani rakyatnya sendiri,” katanya.
PAD-nya segitu-segitu aja, Pak. Padahal kita melayani berapa kabupaten kota se-wilayah Jawa Timur sebelah Timur.
Kini Nurhasan berharap Bupati Muhammad Fawait yang memiliki semangat untuk meningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari rumah sakit untuk belajar ke RSUD dr. Iskak Tulungagung.
“Belajarlah ke sana untuk meningkatkan PAD. Kalau ini bisa terjadi lompatan-lompatan di tiga rumah sakit dengan memakai sistem seperti di sana, lompatan rumah sakit sangat luar biasa, tidak akan menyusu lagi kepada APBD,” kata Nurhasan.
“Bahkan RSUD Tulungagung dituntut sama Bupati, sebagian pendapatan bisa digunakan di luar kebutuhan rumah sakit. Itu tolong dipelajari,” kata Nurhasan. [wir]






