Intensitas persaingan dua pelatih sepak bola Jurgen Klopp dan Pep Guardiola meningkat pada musim kompetisi 2021-22. Liverpool dan Manchester City yang mereka latih sudah bentrok tiga kali di ajang Liga Primer dan Piala FA.
Dua kali pertemuan di Liga Primer masing-masing berakhir remis 2-2. Sementara pertandingan semifinal Piala FA di Stadion Wembley berakhir 3-2 untuk Liverpool. Kedua tim bisa bertemu kembali jika sama-sama lolos ke partai puncak Liga Champions di Paris, Prancis.
Pelatih Persebaya Aji Santoso menyebut persaingan Klopp dan Guardiola adalah persaingan dua pelatih terbaik di dunia. “Menang dan kalah pun bisa dikatakan berimbang, artinya kualitas dua pelatih itu memang tidak perlu diragukan lagi,” katanya.
Selain Felix Magath, Guardiola adalah pelatih yang paling banyak mengalahkan Klopp yakni delapan kali. Sebaliknya juga demikian. Klopp adalah pelatih yang paling sering mengalahkan Guardiola, yakni sembilan kali.
“Kedua pelatih mengunakan filosofi bermain yang berbeda. Pep lebih dominan mengunakan filosofi asosiatif, sedangkan Klopp lebih menekankan pada filosofi vertikal,” kata Aji.
Aji sepakat jika dikatakan keduanya memainkan varian turunan dari filosofi Total Football yang dipopulerkan pertama kali oleh pelatih Belanda dan Ajax Amsterdan Rinus Michels. “Sepak bola modern lebih memainkan (bola) di area sempit, maka dari itu mereka melakukan high pressing (tekanan tinggi), less space lesss time (sedikit ruang sedikit waktu),” katanya.
Sepak bola asosiatif atau lebih dikenal juga dengan possession football adalah filosofi sepak bola indah yang menekankan penguasaan bola selama mungkin. Filosofi ini pernah digunakan Arsene Wenger saat melatih Arsenal, yang disebut Jurgen Klopp seperti orkestra yang sunyi. “It’s like an orchestra. But it’s a silent song. But I like heavy metal more. I always want it loud,” katanya suatu ketika.
[berita-terkait number=”4″ tag=”persebaya”]
Dalam sepak bola asosiatif, pemain saling oper dan sabar dalam menerobos pertahanan lawan. Filosofi ini mengharuskan pemain berpikir cepat dalam mengetahui kapan dan ke arah mana bola akan dioperkan. Model permainan seperti ini bisa dilihat dari gaya permainan tim nasional Spanyol yang memenangi Piala Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010, dan Barcelona pada era Pep Guardiola.
Sementara itu filosofi sepak bola vertikal memiliki pendekatan taktik yang tak mau ribet dengan permainan operan yang terlalu lama. Tim yang bermain dengan sepak bola vertikal memilih pendekatan yang sedikit lebih langsung dalam menyerang jantung pertahanan lawan melalui operan-operan terobosan vertikal.
Helenio Herrera, pelatih legendaris Inter Milan dari Argentina, menyukai pendekatan sepak bola vertikal ini. “Saat menyerang, semua pemain tahu apa yang saya inginkan: sepak bola vertikal dengan kecepatan tinggi, tanpa lebih dari tiga operan untuk sampai ke kotak penalti lawan,” katanya dalam buku Inverting Pyramid karya Jonathan Wilson.
Herrera tidak khawatir kehilangan bola saat timnya bermain secara vertikal. Justru ketika kehilangan bola saat memainkan operan dengan memanfaatkan lebar lapangan bisa membuat timnya kebobolan.
Kendati berbeda pendekatan, Aji menilai, keduanya sama-sama memainkan sepak bola menyerang yang intensif. “Kalau pun dibalik (Klopp melatih City dan Guardiola melatih Liverpool), hasilnya tetap akan sama-sama menariknya,” katanya.
Liverpool dan Manchester City sama-sama susah dikalahkan hari ini. “Tim yang melawan kedua tim harus melakukan compact defense ketika bertahan dan memanfaatkan penyerangan secara efektif karena City dan Liverpol selalu menyerang,” kata Aji.
Aji sendiri tidak cenderung pada filosofi salah satu pelatih. “Filosofi saya perpaduan antara asosiatif dan vertikal,” katanya.
Hasilnya, Persebaya menjadi tim paling produktif kedua di bawah sang juara musim 2021-22 Bali United dengan 56 gol. Produktivitas ini terhitung konsisten, karena pada musim 2019, Persebaya mencetak 57 gol. Jumlah gol mereka terbanyak dibandingkan 17 klub Liga 1 lainnya dan menduduki posisi runner-up. [wir/ted]






