Surabaya (beritajatim.com) – Sore hari menjelang berbuka puasa di bulan Ramadhan selalu punya sihirnya sendiri. Di pinggir jalan, pusat perbelanjaan, hingga pelataran masjid, aroma gorengan yang gurih mulai menari-nari di udara.
Di antara barisan kolak yang manis dan es buah yang segar, ada satu sosok yang hampir tidak pernah absen dari kantong kresek para pemburu takjil, Risol.
Namun, perhatikan baik-baik. Risol yang kita lihat hari ini bukan lagi sekadar risol “jadul” isi bihun atau potongan wortel yang layu. Di tangan generasi baru, khususnya para pelaku usaha muda dan penikmat dari kalangan Gen Z, risol telah mengalami metamorfosis yang luar biasa.
Ia bukan lagi sekadar camilan pendamping, melainkan sebuah fenomena kuliner yang “nggak pernah gagal.” Dari Ragout ke Ragam Inovasi.
Dahulu, kita mengenal risol dengan isian ragout ayam atau sayur yang klasik. Namun, seiring berkembangnya tren, batas-batas rasa mulai didobrak.
Bayangkan gigitan pertama yang disambut oleh renyahnya tepung roti, lalu disusul oleh lelehan mayones creamy, potongan smoked beef, dan telur yang gurih. Itulah Risol Mayo, primadona yang berhasil menggeser takhta gorengan lainnya. Tak berhenti di situ, kreativitas pelaku usaha kuliner seolah tanpa batas. Kini muncul varian ayam suwir pedas bagi pecinta tantangan, hingga risol berisi coklat lumer atau keju mozarella yang mulur bagi mereka yang mendambakan sensasi dessert dalam balutan kulit renyah.
Risol telah berubah menjadi kanvas kosong yang bisa diisi dengan apa saja, menyesuaikan selera lidah anak muda yang dinamis.
Kenapa Gen Z begitu menggilai risol kekinian? Jawabannya ada di layar ponsel mereka. Media sosial seperti TikTok dan Instagram telah menjadi etalase raksasa bagi UMKM kreatif. Video close-up saat risol hangat dibelah, menampilkan isian yang lumer dan meluap, adalah magnet visual yang sulit ditolak.
Bagi mereka, membeli risol bukan sekadar urusan perut, tapi juga pengalaman. Kemasan yang estetik, sistem pre-order yang eksklusif, hingga ulasan jujur dari para food vlogger membuat jajanan pasar ini terasa lebih bergengsi. Risol kini punya “identitas” dan “brand” sendiri yang membuatnya layak masuk dalam unggahan Instagram Story sebelum ludes disantap.
Di balik segala modernisasinya, ada satu alasan fundamental mengapa risol tetap bertahan: Harga yang membumi. Di tengah gempuran makanan fancy ala cafe, risol tetap menjadi pilihan yang ramah di kantong pelajar dan mahasiswa. Risol menawarkan kepraktisan, mudah digenggam dan dimakan di mana saja, tanpa harus menguras dompet.
Secara tekstur, risol menawarkan harmoni yang sempurna. Ada kontras antara kulit luar yang crispy dan bagian dalam yang lembut serta hangat. Sensasi ini memberikan rasa nyaman (comfort food) yang luar biasa, terutama saat disantap tepat setelah tegukan air pertama di waktu berbuka.
Pada akhirnya, fenomena risol kekinian mengajarkan kita satu hal tentang adaptasi. Ia adalah bukti bahwa makanan tradisional tidak perlu hilang tertelan zaman asalkan ia berani bersolek dan mengikuti arus kreativitas. Bagi Gen Z, satu gigitan risol kekinian adalah simbol kebahagiaan sederhana di tengah penatnya aktivitas seharian.
Ia adalah kawan setia di meja makan, pelengkap obrolan saat buka bersama teman, dan bukti nyata bahwa yang klasik pun bisa menjadi sangat asyik jika diberi sentuhan inovasi yang tepat. [Devi Dwi Windah Sari]






